PSSI Diminta Hentikan Kompetisi Akibat Pandemi Virus Corona, Pemain Hadapi Dampak Buruk

Ayam Kinantan
TRIADI WIBOWO/SUMUT POS LATIHAN: Para penggawa PSMS Medan saat berlatih di Stadion Mini Kebun Bunga Medan, sebelum jeda kompetisi akibat pandemi virus corona, beberapa waktu lalu.

PT LIB telah menyampaikan surat ke PSSI, yang meminta kompetisi (Liga 1 dan Liga 2) dihentikan. Hal ini menyiratkan, kemungkinan besar kompetisi berhenti total bakal terealisasi.

Permintaan penghentian kompetisi ini, merujuk dari surat dengan nomor 187/LIB-COR/V/2020, yang ditandatangani Direktur Utama PT LIB Cucu Somantri, dan dikirim ke PSSI pada Senin (4/5) lalu. Dalam surat itu, PT LIB juga menyarankan, setelah kompetisi dihentikan, subsidi tetap diberikan kepada klub Liga 1 sebesar Rp350 juta, dan untuk klub Liga 2 sebanyak Rp100 juta.


Mengetahui kabar tersebut, stoper PSMS Medan Andre Sitepu, mengaku khawatir.

“Pemain tentu akan menghadapi dampak buruk, seandainya kompetisi memang dihentikan total. Kami tentu bakal sangat sulit mencari uang untuk menghidupi keluarga. Karena kami memang hidup dari sepak bola,” ungkap Andre, Jumat (7/5).

“Kalau sampai akhir tahun tidak ada pemasukan, bakal terasa juga. Karena tabungan sudah mulai menipis. Kami berharap, ada solusi terbaik yang diberikan PSSI saat situasi seperti ini,” harapnya.

Dia pun sempat kembali bersemangat, ketika mengetahui kabar adanya sejumlah klub di Eropa mulai kembali menggelar latihan, meski dengan pengawasan ketat. “Beberapa tim sudah kembali berlatih, karena liga segera bergulir lagi. Artinya, mulai ada kabar baik. Kalau mereka sudah latihan, tentu klub-klub di Indonesia bakal ikut juga,” kata Andre.

Sementara Kapten PSMS, Syaiful Ramadhan berpendapat, menggelar turnamen bisa jadi solusi yang cukup baik jika kompetisi dihentikan total.

“Kalau bisa, jangan sampai tak ada kompetisi sama sekali. Kami para pemain ini, dari mana dapat menafkahi keluarga? Kalau tak ada kompetisi, setidaknya ada turnamen, supaya ada pemasukan kami,” harapnya.

“Kompetisi dihentikan, gaji pemain pasti juga berhenti, itu wajar. Makanya, kami berharap agar PSSI menggelar turnamen sebagai pengganti liga,” kata Syaiful lagi.

Sementara Kiper PSMS Abdul Rohim, mengaku pasrah terkait penghentian kompetisi tersebut, jika memang benar direalisasikan.

“Ya seandainya kompetisi dihentikan, ya mau tak mau harus ikuti keputusan PSSI. Karena ini berurusan dengan kemanusian. Enggak etis juga dilanjutkan, kalau kondisinya masih parah. Tapi ya kami sebagai pemain, berharap kompetisi tetap dilanjutkan kalau kondisi sudah stabil,” jelasnya.

Rohim mengaku, tak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi ke depannya. Pemain yang juga berprofesi sebagai prajurit TNI ini, tetap fokus berlatih menjaga kebugaran tubuh.

“Jika sudah diputuskan, ya mau bagaimana lagi? Makanya sekarang sebagai pemain, saya tetap fokus latihan, untuk jaga kebugaran. Jadi kalau nanti PSSI memutuskan kompetisi dilanjutkan, saya sebagai pemain sudah siap,” tegas Rohim.

“Ya imbasnya, sebagai pemain kami pasti tidak gajian. Apalagi kami memang mencari nafkah dari sepak bola. Ini yang sedikit berat dengan keputusan itu nantinya,” pungkasnya. (tnc/saz)

loading...