Positif Covid-19 di Sumut 202 Orang, Salat Jumat Tetap Ramai

Berita Foto2 Headlines Metropolis
RAMAI: Salat Jumat di Masjid Raya Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja Medan, tetap ramai jamaah yang mengikuti ibadah Salat Jumat, Jumat (15/5). dewi/sumut pos
RAMAI: Salat Jumat di Masjid Raya Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja Medan, tetap ramai jamaah yang mengikuti ibadah Salat Jumat, Jumat (15/5). dewi/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Setelah sempat bertambah signifikan beberapa hari terakhir, kini jumlah pasien positif Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) tetap 202 orang, Jumat (15/5). Begitu juga dengan pasien Covid-19 yang sembuh masih tetap 53 orang dan meninggal dunia 24 orang. Namun angka Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang dirawat di rumah sakit rujukan bertambah.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumut, Mayor Kes dr Whiko Irwan mengatakan, jumlah PDP bertambah 11 orang dari hari sebelumnya 184 orang.


Karena itu, saat ini PDP yang masih dirawat berjumlah 195 orang. Demikian juga Orang Dalam pemantauan (ODP) mengalami peningkatan 3 orang dari 587 orang naik di angka 590.

Meski angka positif Covid-19 di Sumut belum ada tren menurun, dan pemerintah terus-menerus menggaungkan pemutusan mata rantai wabah virus di tengah-tengah masyarakat, namun sejumlah rumah ibadah tetap ramai dipadati jamaah. Salahsatunya Masjid Raya Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja Medan, yang tetap diramaikan umat Islam yang melaksanakan ibadah salat, terutama Salat Jumat.

Amatan Sumut Pos, Jumat (15/5), aktivitas ibadah Salat Jumat di Masjid Al Mashun Medan berjalan lancar. Para jamaah tetap menjalankan perintah agama dan sunnah Rasulullah SAW, yakni merapatkan shaf dengan sesama jamaah lainnya.

Antusiasme warga mengikuti ibadah terlihat dengan banyaknya jamaah hingga memenuhi teras masjid. Para jamaah mendengarkan khotbah Jumat dengan khusuk.

Salahseorang jamaah, Syaf, warga Jalan Utama, Medan, mengaku setiap Jumat selalu hadir di Masjid Al Mashun. Namun ia mengaku tetap mengikuti anjuran pemerintah, yakni selalu mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak dengan warga lainnya.

“Kita tetap berserah diri pada Allah. Yang penting berusaha. Jika kita tidak berusaha, hanya berserah diri saja, Allah pun marah. Karena itu tetap ikuti anjuran pemerintah, namun jangan sampai tinggalkan salat,” ujar pensiunan pegawai Bank CIMB Niaga ini.

Syaf mengungkapkan, dirinya tidak setuju dengan aturan yang menyarankan masjid ditutup untuk memutus mata rantai virus Corona. Menurutnya, jika wabah melanda suatu kota, maka warganya harus semakin mendekatkan diri kepada Allah.

“Saya kurang setuju masjid ditutup saat ada wabah. Harusnya semakin mendekatkan diri kepada Allah. ‘Kan ada solusinya. Jangan sampai tinggalkan masjid. Dahulu sebelum merebaknya wabah corona, setiap salat Jumat, sedikitnya 300 sajadah ukuran kecil dibagi-bagikan oleh Gubernur Sumut. Tapi karena ada wabah ini, sajadah wajib dibawa dari rumah. Jadi tidak ada lagi bagi-bagi sajadah,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Eddrico, warga Jalan Mahkamah Medan. Menurutnya, semenjak wabah Covid-19 melanda kota Medan, dirinya dihinggapi rasa was-was. Bahkan selama ini, ia Salat Jumat di masjid-masjid kecil di pinggiran kota Medan. Baru kali ini ia kembali ikut Salat Jumat di Masjid Al Mashun Medan.

“Rasa was-was dan saling mencurigai pasti ada, karena terkait nyawa juga. Tetapi saya suka salat di masjid ini (Al Mashun, red). Sebab mulai salatnya agak lama dibandingkan masjid lainnya. Perbedaannya sekitar 15-20 menit,” ujar Eddrico yang juga owner Virzha Prabot di Jalan Mahkamah Medan ini.

Namun meski ada rasa was-was, tekad Eddrico kembali ke masjid tetap ada, apalagi ia merasa tetap sehat dan tidak ada kendala apapun. “Dengan positif thinking, daya imun makin meningkat. Inshaallah terbebas dari corona,” tukasnya.

Mulai Tak Peduli Penularan

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumut, Mayor Kes dr Whiko Irwan, mengatakan, sudah cukup rantai penderitaan akibat Covid-19 ini. “Mari kita putuskan rantai penularan virus ini dengan mematuhi protokol kesehatan yaitu menggunakan masker saat keluar rumah, rajin mencuci tangan memakai sabun, menjaga jarak saat berinteraksi, hingga tidak mudik lebaran ke kampung halaman,” ungkapnya dalam keterangan pers melalui video streaming.

Menurut dia, ada masyarakat yang beranggapan angka kesembuhan Covid-19 jauh lebih besar dibanding jumlah kematiannya, sehingga merasa tidak takut bahkan tak peduli dengan penularan virus corona terhadap dirinya maupun orang lain. Namun, perlu diketahui virus corona yang menular ke tubuh manusia akan bereplikasi dan memperbanyak diri.

Walaupun seseorang tidak merasakan gejala sakit, namun virus itu akan dibawa ke tempat tinggal orang tersebut atau lingkungannya sehingga dapat menularkan orang lain. Dengan demikian, akan semakin banyak orang yang menderita Covid-19. “Apabila virus corona menular kepada orang yang rentan misalnya seperti lanjut usia (lanjut), berpenyakit kronis, gangguan imunitas, maka angka kematian menjadi tinggi. Untuk itulah, tidak seorang pun boleh mengabaikan Covid-19 ini,” tegasnya.

Whiko menyebutkan, pandemi Covid-19 ini sangat banyak membawa dampak dan kesulitan bagi masyarakat luas. Hal yang paling dirasakan ada perekonomian menurun. “Di samping itu, saat ini tengah memasuki bulan ramadan dan menjelang lebaran idul fitri. Tentunya, harga kebutuhan pokok akan naik sebagaimana lebaran tahun-tahun sebelumnya yang sudah dijalani,” ucapnya.

Lebih lanjut Whiko mengatakan, Pemprovsu sudah mulai menyalurkan bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) pada 33 kabupaten/kota di Sumut dengan total Rp 297 miliar. Alokasi terbesar di Kabupaten Langkat 161.554 kuota, dengan nilai Rp 36 miliar lebih. Kemudian, disusul Medan dan Deliserdang.

Ia menambahkan, pihaknya telah menerima bantuan dari pusat berupa 16.800 PCR test, VTM, dan RNA test. Bantuan tersebut akan disalurkan ke RS USU untuk pemeriksaan pasien guna menentukan diagnosa apakah positif Covid-19 atau tidak. (ris/mag-1)

loading...