Paket Sembako Pemprovsu Ditelantarkan

Sumatera Utara
SIDAK: Anggota DPRD Sumut Dapil Sumut V, Ahmad Hadian (kiri), Yahdi Khoir Harahap dan Darwin melakukan sidak dan menemukan paket sembako dari pemprov tidak diperlakukan secara profesional oleh GTPP Covid-19 Batu Bara, yang hanya diletakkan di selasar SMA Negeri 1 Jl. Sei Suka Batu Bara, Minggu (31/5).
SIDAK: Anggota DPRD Sumut Dapil Sumut V, Ahmad Hadian (kiri), Yahdi Khoir Harahap dan Darwin melakukan sidak dan menemukan paket sembako dari pemprov tidak diperlakukan secara profesional oleh GTPP Covid-19 Batu Bara, yang hanya diletakkan di selasar SMA Negeri 1 Jl. Sei Suka Batu Bara, Minggu (31/5).

BATUBARA, SUMUTPOS.CO – Anggota DPRD Sumatera Utara Dapil V, Yahdi Khoir Harahap, Ahmad Hadian dan Darwin Marpaung menemukan bantuan paket sembako Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) ditelantarkan saat menggelar sidak di tempat penyimpanan sementara, di SMA Negeri 1 Sei Suka, Kabupaten Batubara, Minggu (31/5) siang.

“Ini terungkap saat kami sidak ke tempat penyimpanan sementara paket sembako bantuan dari Pemprovsu untuk masyarakat Batubara terdampak Covid-19. Ada perlakuan tidak profesional dari pengelola atau GTPP Batubara terhadap paket sembako yang sudah dikemas oleh GTPP Covid-19 Sumut,” ungkap Ahmad Hadian usai sidak bersama dua rekannya satu dapil, Yahdi Khoir Harahap dan Darwin kepada Sumut Pos, Senin (1/6).


Sidak yang mereka lakukan pada Sabtu (30/5). Berawal dari laporan masyarakat adanya beras dari Pemprovsu yang bauk apek. Lalu esok harinya, mereka putuskan untuk turun ke lapangan.

“Dan Minggu semalam, waktu kami meninjau tempat penyimpanan justru dapat temuan tambahan seperti itu. Yaitu mereka hanya meletakkannya di selasar sekolah dengan ditumpuk begitu saja, di mana susunannya tidak rapi, ketika hujan datang ratusan paket jadi hancur. Isinya terburai baik beras, gula dan mie instan sudah basah kena hujan dan tidak laik lagi dikonsumsi,” katanya. Mereka pun lantas menghubungi pihak GTPP Covid-19 Batu Bara, melalui sek retarisnya sekaligus Kadinkes Batu Bara Wahid Kusyairi, dan Kadinsos Batu Bara, Ishak Liza, untuk menyatakan teguran atas temuan dimaksud.

“Mewakili rekan-rekan, saya menyampaikan kekecewaan kepada dua orang pejabat GTPP Batu Bara itu, atas perlakuan tidak profesional terhadap paket sembako tersebut. Inikan paket sembako untuk makanan rakyat, kalau kondisinya rusak artinya tidak laik lagi digunakan. Karenanya kami meminta agar mereka menyortir kembali bantuan paket yang rusak dan mengganti kemasan dengan yang baru,” tegasnya.

Khusus bantuan gula dan mie instan yang sudah basah serta tidak laik dikonsumsi, pihaknya menekankan jangan sampai diberikan lagi kepada masyarakat.

“Jadi mesti diganti dan ini merupakan tanggungjawab dari GTPP Covid-19 Batu Bara. Sebab dari pemprov sudah dalam kondisi bagus, hanya perlakuan penyimpanan saja yang tidak tepat sehingga menimbulkan rusaknya barang-barang tersebut,” imbuh Kang Hadian.

Dalam sidak tersebut baik Hadian, Yahdi dan Darwin turut melakukan uji sampel terhadap bantuan paket sembako dari pemprov. Terungkap bahwa, tidak ada takaran secara kuantitas seperti gula dan beras yang kurang sesuai peruntukan.

“Beras 10 kg dan gula 2 kg secara timbangan cukup. Cuma dari segi kualitas ada temuan, untuk beras misalnya ternyata ada banyak merk yang dipakai. Setidaknya ada delapan merk berbeda yang kami temukan,” katanya.

Dari delapan merk tersebut ditemukan dua merk yang punya kualitas sangat jelek. Menurut pihaknya seperti merk Apel Hijau di mana beras tersebut berbau apek. Pihaknya menduga seperti sudah bercampur dengan beras Bulog.

“Kemudian merk yang satu lagi berbahasa China, kondisinya juga bau. Untuk yang lain standar seperti beras mediumlah. Sekali lagi kami meminta agar GTPP Batu Bara profesional dalam menangani bantuan sembako dari Pemprovsu ini. Karena ini bantuan yang akan diberikan kepada rakyat, sehingga kita juga harus memerhatikan sisi-sisi kemanusiaan. Jadi rakyat harus diberikan makanan yang laik konsumsi dan berkualitas baik,” pungkasnya.

Sementara menurut Yahdi Khoir dan rekannya juga merekomendasikan agar bantuan berikutnya diberikan dalam bentuk uang tunai saja.

Yahdi menilai, ada beberapa keuntungan jika diberi dalam bentuk tunai. Yakni tidak merepotkan banyak pihak. Nilainya secara utuh sampai ke masyarakat dan dapat menggunakannya sesuai kebutuhan dengan kualitas bahan yang lebih baik. Masyarakat juga dapat membelanjakannya ke warung yang ada di sekitarnya, sehingga uang bantuan secara ekonomi ber putar di kabupaten/kota, sehingga tidak memperkaya segelintir pengusaha, tapi dapat menggairahkan ekonomi usaha-usaha kecil di daerah. (pran/adz/han)

loading...