Terinfeksi Covid-19, Sudah 5 Dokter di Medan Meninggal

Headlines Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kabar duka kembali menyelimuti dunia emdis di tanah air, terkhusus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan. Satu lagi anggota organisasi profesi kedokteran wafat akibat terinfeksi Covid-19.

Adalah dokter (dr) Andhika Kesuma Putra SpP (K), meninggal di Rumah Sakit (RS) Columbia Asia, Sabtu (1/8) sekitar pukul 11.10 WIB. Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-1 Sumatera Utara (Sumut) memastikan, dr Andhika Kesuma Putra meninggal murni karena Covid-19. Sang istri, dr Dessy Mawar SpKJ, juga terpapar dan masih dirawat di rumah sakit.


“Istri almarhum dr Andhika juga terpapar. Saat ini (masih) dirawat di RS Columbia,” ungkap Juru Bicara (Jubir) GTPP Covid-19 Sumut dr Aris Yudhariansyah, Minggu (2/8).

Seperti halnya dr Andhika, sang istri juga tidak memiliki penyakit penyerta (komorbid) atau murni karena Covid-19. Kendati begitu, dr Andhika tetap saja meninggal karena virus corona ini. “Alhamdulillah… anak (mereka) tidak ada terpapar,” jelasnya.

Aris yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut ini menilai, meninggalnya dokter spesialis paru ini turut memukul dunia kedokteran di Sumut. Sebab jumlah para dokter ahli pun saat ini sudah semakin berkurang. “(Kondisi) ini gawat, dokter-dokter ahli kita mulai berkurang,” tandasnya.

Ketua IDI Cabang Medan, dr Wijaya Juwarna Sp-THT-KL menyampaikan, berdasarkan rangkuman yang dimiliki Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI), tercatat sebanyak 72 dokter di tanah air telah meninggal dunia karena Covid-19. Dari jumlah tersebut dr Andhika Kesuma Putra SpP (K) menjadi dokter kesembilan di Sumut yang telah gugur dan menjadi dokter kelima untuk di Kota Medan.

“Dokter dari IDI Cabang Medan yang meninggal masing-masing adalah dr Ucok Martin SpP, dr Irsan Nofi Hardi Nara Lubis SpS, dr Anna Mari Ulina Bukit, dr Aldreyn Asman Aboet SpAN KIC, dan terakhir dr Andika Kesuma Putra SpP (K),” ungkapnya.

Sedangkan di luar Medan, yang meninggal yakni dr Herwanto SpB dari IDI Kisaran, dr Maya Norismal Pasaribu dari IDI Labuhanbatu Utara, dr M Hatta Lubis SpPD dari IDI Padang Sidempuan, dan dr H Muhammad Arifin Sinaga MAP dari IDI Langkat. “Semoga darma bakti, dedikasi, dan pengabdian beliau akan menjadi suri teladan dan menjadi pendorong semangat bagi tenaga kesehatan dan relawan medis lainnya yang sedang berjuang melawan Covid-19,” sambungnya.

Dokter Wijaya mengaku, dr Andika termasuk generasi emasnya dokter spesialis paru di Sumut. Dia sempat dirawat kurang lebih selama dua minggu. “Adik saya itu, junior kita itu, juga aktivis di kampus. Sudah konsultan di usia yang muda. Dia juga menangani pasien Covid-19 langsung di RS Columbia Asia Medan. Sempat juga di RS GL Tobing bergabung di Gugus Tugas. Jadi hari-harinya memang merawat pasien Covid-19,” kata Wijaya.

Wijaya mendoakan dan berharap agar segala amal ibadah dr Andika dan para dokter yang meninggal diterima Allah. “Semoga darma bakti, dedikasi, dan pengabdian beliau akan menjadi suri teladan dan menjadi pendorong semangat bagi tenaga kesehatan dan relawan medis lainnya yang sedang berjuang melawan Covid-19,” pungkasnya.

Jangan Sepele ataupun Paranoid

Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Sumut, dr Rudi Sambas menyatakan, sebelum meninggal dr Andika Kesuma Putra berpesan, agar tidak sepele dengan virus corona ini. Namun demikian, jangan pula paranoid.

“Sebelum meninggal, saat RS GL Tobing dijadikan RS rujukan Covid-19 di Sumut, beliau (dr Andika) pernah berpesan kepada masyarakat agar tidak paranoid dengan yang namanya Covid-19. Penyakit ini bisa dihadapi bersama dengan mengikuti instruksi atau peraturan dari pemerintah. Akan tetapi, tidak juga sepele,” ujar Rudi.

Tak hanya itu, lanjut Rudi, dr Andika juga berpesan kepada masyarakat untuk tidak diskriminatif terhadap pasien Covid-19 yang sudah sembuh. Sebab, pasien Covid-19 selama dia terisolasi dan diobati sampai hasil swab dinyatakan negatif, dia bisa pulang ke lingkungan sosialnya dengan aman dan tidak menularkan lagi ke orang banyak.

“Untuk pasien yang sudah kami pulangkan ke lingkungan masing-masing, tolong jangan dibuat diskriminasi. Karena hal itu bisa saja terjadi pada kita maupun anggota keluarga kita. Kita bisa bayangkan jika yang didiskriminasi kita atau keluarga kita, tentu rasanya tidak nyaman,” ucapnya.

175 Orang Kembali Terkonfirmasi

Terpisah, Jubir GTPP Covid-19 Sumut, Mayor Kes dr Whiko Irwan SpB, menyampaikan berdasarkan perkembangan terbaru data yang dirangkum, jumlah kasus konfirmasi Covid-19 terus mengalami lonjakan. Tercatat, sebanyak 175 orang lagi dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. “Total akumulasi kasusnya saat ini sudah mencapai 4.137 orang,” bebernya.

Namun begitu, kata Whiko, angka kasus kesembuhan juga terus meningkat. Hingga sore ini, didapatkan sebanyak 130 orang yang telah dinyatakan sembuh dari virus corona tersebut. “Untuk kasus kesembuhan, total jumlahnya sudah mencapai 1.613 orang,” jabarnya.

Whiko melanjutkan, untuk kasus pasien yang meninggal terjadi peningkatan 7 kasus menjadi 202 orang. Sedangkan kasus suspek angkanya terjadi penurunan sebanyak 7 kasus menjadi 460 orang. “Untuk spesimen yang masuk dan diperiksa ada 267 sampel. Total keseluruhannya telah ada 22.936 sampel, yang telah dilakukan pemeriksaan,” tukasnya.

Pansus Desak Gugus Tugas

Terkait meninggalnya dr. Andhika Kesuma Putra Sitepu, Sp.P (K) akibat Covid-19, turut membuktikan bahwa Kota Medan masih belum menunjukkan perubahan yang membaik soal penanganan Covid-19.

Menanggapi hal ini, anggota Pansus Covid-19 DPRD Medan, Sudari ST meminta agar GTPP Covid-19 Kota Medan mengevaluasi secara total tentang penanganan Covid-19 di Kota Medan.

“Tenaga medis sudah banyak yang meninggal dunia, padahal mereka pahlawan terdepan dalam penangan wabah Covid-19 ini. Kami meminta agar gugus tugas bekerja dengan sistematis, banyak sekali yang perlu di evaluasi oleh gugus tugas terhadap kinerjanya dalam menangani Covid-19 di Kota Medan,” ucap Sudari kepada Sumut Pos, Minggu (2/8).

Ketua Fraksi PAN itu mengatakan, hal yang harus di evaluasi oleh GTPP Covid-19 Medan adalah tentang teknis. Pertama, gugus tugas diminta untuk mengevaluasi prosedur pengambilan spesimen bagi pasien yang terindikasi Covid-19. Mereka meminta, pengambilannya sesuai dengan standar kementerian kesehatan.

“Sesuai standar Kemenkes, pengambilan spesimen harus 3 spesimen untuk setiap satu pasien yang terindikasi Covid-19, dan di analisa dengan Rt-PCR. Selain itu, APD yang digunakan petugas juga harus benar-benar safety. Sebelum mendapatkan hasil analisa dari Laboratorium PCR, pasien-pasien harus dipastikan menjalani isolasi, sambil menunggu hasil laboratorium keluar,” ujarnya.

Kedua, gugus tugas juga diminta untuk harus memastikan bahwa setiap Laboratorium PCR telah memiliki fasilitas yang memenuhi standar. Selain itu, setiap lab PCR juga dilengkapi dengan biosave level 2 (BSL 2).

“Jadi gugus tugas harus bisa memastikan bahwa lab benar-benar safety. Jangan malah ketidakamanan lab justru membahayakan para petugas medis,” tegasnya.

Ketiga, ruangan isolasi yang ditunjuk oleh GTPP harus benar-benar memenuhi standar Kemenkes tentang Pedoman Teknis Sistem Tata udara pada bangunan rumah sakit.

“Seperti in take udara luar, out let pembuangan (exhaust out let), HEPA filter udara, dan sebagainya harus dievaluasi gugus tugas. Per 1 Agustus kemarin, pasien yang terkonfirmasi positif sudah 2.380 pasien. Dari jumlah itu yang dirawat 1.762 pasien. Artinya sebanyak 1.762 ruangan isolasi harus dipastikan standar,” lanjutnya.

Keempat, gugus tugas harus melakukan Gap Analisis antara PMK No.413 dengan apa yang dilakukan gugus tugas saat ini. Dan terakhir, gugus tugas atau dinas kesehatan Kota Medan diminta menyosialisasikan PMK No.413 kepada para petugas kesehatan dan masyarakat Kota Medan.

“Saya juga mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya dokter Andhika. Semoga keluarga tabah dan segala dedikasi serta amal kebaikan dokter Andhika dapat diterima Allah SWT. Beliau pahlawan kesehatan dan kita minta Pemko Medan agar memberikan penghargaan kepada para dokter yang telah meninggal dunia dalam menangani Covid-19 di Kota Medan,” tandasnya.

Anggota Pansus Covid-19 DPRD Medan, Afif Abdillah, mengatakan, dr. Andhika meninggal karena adanya hepafilter ataupun ruangan dengan tekanan negatif pada RS tempat dr. Andhika berkerja.

“Padahal dr. Andika itu adalah salah satu dokter pertama yang menangani Covid-19 di Kota Medan,” ujar Afif.

Dikatakan Afif, pada rapat terakhir di Pansus Covid-19 pada Senin (27/7) lalu, pihaknya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan, agar setiap ruangan di RS, khususnya ruang kerja tenaga medis dan ruang pengobatan di setiap RS, dapat dipenuhi hepafilter.

“Sebab kalau tidak, dokter dan para tenaga medis maupun pasien lain beresiko terpapar virus Covid-19 ini. Kita sudah minta dinkes tegas mengenai hal ini. IDI Kota Medan juga sudah meminta ini untuk diadakan di setiap RS yang menerima pasien covid,” katanya.

Senada dengan Sudari dan Afif, Ketua Pansus Covid-19 DPRD Medan, Robi Barus terus mendorong GTPP Covid-19 Kota Medan, mengawasi ketat peraturan-peraturan terkait penanganan Covid-19 di Kota Medan.

“Sekarang masyarakat sudah banyak yang menggelar pesta. Anehnya baik penggelar pesta maupun para undangan banyak sekali yang gak pakai masker, gak jaga jarak, gak cuci tangan, tapi tidak ada tindakan apapun dari pemerintah, dibiarkan begitu saja. Jadi gunanya peraturan itu dibuat untuk apa, kalau tidak untuk diawasi agar dipatuhi?” tanyanya.

Robi juga sepakat dengan Sudari, agar gugus tugas mau mengevaluasi kinerjanya yang tidak efektif selama ini untuk dapat diperbaiki dan ditingkatkan.”Intinya, jangan harapkan ada perubahan kalau kinerjanya pun tak diubah. Ini yang kita minta berkali-kali, tapi tidak juga dilakukan,” sambungnya.

Untuk itu, Robi menjelaskan akan melakukan rapat Pansus berikutnya pada Selasa (4/8) besok. (ris/map)

loading...