Ledakan Bairut: Puluhan Meninggal Dunia, Ribuan Luka-luka Termasuk Satu Perempuan WNI

Headlines Internasional

LEBANON, SUMUTPOS.CO – Duta Besar RI untuk Lebanon, Hajriyanto Thohari, mengatakan pihaknya mengantisipasi kesulitan pasokan makanan dalam beberapa hari mendatang setelah ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut, pada Selasa (04/08), menyebabkan paling tidak 78 orang meninggal dan lebih dari 4.000 lainnya luka-luka.

“Yang paling utama adalah dampak ekonomi karena untuk beberapa hari ke depan [pasokan] pasti terganggu,” kata Hajriyanto kepada wartawan BBC Indonesia, Callistasia Wijaya, melalui telepon pada Rabu (05/08).


Untuk itu, ia mengatakan pihaknya mengimbau para WNI, terutama mereka yang tinggal di Beirut, untuk memperhatikan stok makanan.

Ia menambahkan pihak KBRI akan memberikan bantuan bagi mereka yang kesulitan mengakses pasokan makanan.

“Kita selama pandemi Covid-19 memang sudah memberi bantuan secara periodik. Kami akan segera, dengan memperhatikan jadwal dan waktu, memberi bantuan yang disesuaikan dengan perkembangan baru ini,” ujarnya.

Selain fokus pada dampak ekonomi, Hajriyanto mengatakan pemerintah Lebanon tengah mengantisipasi kemungkinan dampak kimiawi dari ledakan amonium nitrat itu.

Menurut keterangannya, gudang yang meledak itu adalah tempat penyimpanan bahan-bahan amonium nitrat yang digunakan untuk keperluan industri.

“Bahan itu harus dijaga ketat. Tidak tahu bagaimana ada info, terkena api. Sampai hari ini belum ada informasi bahwa itu adalah tindakan terorisme, tapi kecelakaan,” kata Hajriyanto.

Saat kejadian ledakan, Hajriyanto menceritakan, ia dan staf di KBRI- yang jaraknya sekitar delapan kilometer dari lokasi kejadian- merasa seperti sedang terjadi gempa bumi dan ledakan yang sangat dekat.

“Gorden-gorden itu jatuh,” ujarnya.

Berbagai laporan menyebutkan ledakan itu terdengar sampai ke Nicosia sejauh 240 kilometer di Siprus. Guncangannya, menurut catatan sejumlah pakar seismologi, setara dengan gempa magnitudo 3,3.

Tersimpan di gudang 2.750 ton amonium nitrat

Para pejabat menuding adanya bahan peledak yang disimpan di gudang selama enam tahun.

Kepala Keamanan Umum, Abbas Ibrahim, mengatakan “bahan berdaya ledak tinggi” hasil sitaan beberapa tahun sebelumnya disimpan dalam gudang tersebut.

Perdana Menteri Hassan Diab mengatakan adanya 2.750 ton amonium nitrat – bahan untuk pupuk dan peledak – disimpan di gudang “tidak dapat diterima.”

“Saya tidak akan diam sampai kita menemukan orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi, sehingga kita dapat meminta pertanggung jawaban dan menerapkan hukuman paling berat,” kata perdana menteri dalam akun Twitter resminya.

“Tidak dapat diterima ada 2.750 amonium nitrat disimpan di gudang selama enam tahun, tanpa adanya langkah pengamanan sehingga membahayakan keselamatan warga.”(*)

loading...