Sidang Kasus Pembelian Surat Berharga Bank Sumut

Hukum & Kriminal

Saksi: Sejak 2016 PT SNP Sudah Defisit /// besar

MEDAN Sumutpos.co- Dua saksi memberikan keterangan dalam kasus penjualan surat berharga medium tern notes (MTN) milik PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) kepada Bank Sumut melalui PT MNC Sekuritas senilai Rp202 miliar. Keduanya memberikan kesaksian, untuk terdakwa Pimpinan Divisi Treasur Bank Sumut, Maulana Akhyar Lubis dan Mantan Direktur Kapital Market pada MNC Sekuritas, Andri Irvandi.
Dalam keterangan saksi Sei Ling, yang merupakan mantan Manager Finance PT SNP, ternyata banyak menyimpan rahasia soal sukses fee yang nilainya mencapai Rp3 miliar lebih, dalam setiap tahapan dari tiga kali transaksi di Bank Sumut.
Karena banyak mengetahui dan ikut dalam penerbitan MTN, majelis hakim kaget bahwa status Sei Ling hanya sebagai saksi dan bukan tersangka.
“Kok sebagai saksi, kenapa tidak tersangka?,” tanya hakim ketua Sri Wahyuni kepada kedua JPU Robertson dan Hendri Sipahutar, di Ruang Cakra 2 Pengadilan Tipikor Medan, Kamis (6/8).
Bahkan ketika penasehat hukum kedua terdakwa menanyakan tentang salinan atau bukti transfer sukses fee, lagi-lagi jaksa tidak bisa menunjukan hal tersebut karena hal ini sangat penting dalam mengungkap kasus korupsi yang didakwaan oleh penuntut umum.
Sebab, Sei Ling dalam persidangan juga mengaku memerintah Anita Susanto yang merupakan Mantan Asisten agar membuat list piutang dan MTN kepada Wahyu.
Bahkan Sei Ling dan Anita Susanto yang kini berstatus sebagai narapidana dan menjalani masa hukuman di Rutan Pondok Bambu tersebut, mengaku bahwa pihak MNC lah yang menawarkan sanggup menjual MTN kepada pihak lain.
Sei Ling dalam kesaksian secara online, menyebut Bambang, Dadang dan James dari pihak MNC Sekuritas yang menawarkan MTN yang kemudian diketahui adalah Bank Sumut.
Tapi Sei Ling pun juga mengaku bahwa kondisi SNP semenjak 2016, sudah defisit dan ia pun tidak mengelak kalau Anita pernah menyampaikan kondisi perusahaan yang bergerak dalam pembiayaan perlengkapan rumah tangga tersebut.
Terungkap juga, bahwa PT SNP ternyata bermasalah dalam pembayaran kredit di Bank Panin Rp191 miliar dan Bank Mandiri senilai Rp1,2 triliun. Namun hal ini pun dirahasiakan oleh pihak SNP.
Uniknya lagi, saksi Anita terlihat emosi saat dicecar soal pertemuan di Belmont Hotel. Karena ia tidak pernah tahu akan tetapi soal ia menerima perintah membuat list piutang itu dibenarkannya.
Sementara itu, saksi kedua pengacara meminta jaksa bisa menghadirkan transaksi pembayaran pembelian surat berharga dan sukses fee.
Mendengar itu, majelis hakim lagi-lagi mengingatkan penuntut umum agar bisa menghadirkan bukti transaksi tersebut. Usai mendengarkan keterangan saksi maka majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan.
Mengutip surat dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) Robertson Pakpahan, perkara ini bermula dari Saksi Leo Chandra mendirikan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP).
Pada sekitar tahun 2017, PT SNP mengalami kekurangan dalam keuangan, yang terlihat dari cash flow, atau cash out flow, terlihat pergerakan cash in flow lebih kecil dari uang yang keluar. Sehingga, PT SNP memerlukan tambahan dana operasional, maka diambil sikap untuk menjual surat berharga berupa Medium Term Notes (MTN).
Perbuatan terdakwa merugikan keuangan negara atau Perekonomian Negara, sebesar Rp202.072.450.000,00 atau setidak-tidaknya sejumlah itu dengan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.
Perbuatan terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat 1 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 atau dakwaan subsider dengan Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pencucian Uang. (man/azw)


loading...