Presiden Jokowi Pakai Baju Adat sejak Tahun 2017

Nasional
UPACARA: Presiden Joko Widodo mengenakan baju adat saat upacara peringati HUT ke-75 Kemerdekaan RI di Istana Kepresidenan, Senin (17/8).
UPACARA: Presiden Joko Widodo mengenakan baju adat saat upacara peringati HUT ke-75 Kemerdekaan RI di Istana Kepresidenan, Senin (17/8).

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Presiden Joko Widodo kembali mengenakan baju adat dalam upacara pengibaran bendera memperingati hari kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia, di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (17/8). Kali ini, Presiden Jokowi memilih menggunakan baju adat Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Presiden Jokowi mengenakan kain motif kaif berantai nunkolo. Motif sudah dimodifikasi dari bentuk belah ketupat (motif geometris) dengan batang tengah yang berartì sumber air. Sementara, bagian pinggir bergerigi melambangkan wilayah yang berbukit dan berkelok-kelok.


Warna merah pada kain melambangkan keberanian laki-laki nunkolo. Presiden Jokowi juga mengenakan ester (ikat kepala) berbentuk dua tanduk kecil yang memiliki arti raja yang melindungi. Ikat di kepala sebagai penutup kepala sebagai pelindung yang menjadi tanda kebesaran raja sebagai mahkota.

Baju Adat dari Tahun ke Tahun

Empat tahun terakhir ini, Presiden Jokowi selalu mengenakan baju adat suku-suku saat bertindak selaku inspektur upacara HUT Kemerdekaan di Istana Merdeka. Di mulai tahun 2017 saat HUT ke-72 RI.

Presiden Jokowi mengatakan, baju adat dikenakan karena ingin menunjukkan Indonesia adalah negeri kaya dan beragam. “Biar tahu, kita ini beragam. Karena Indonesia itu memang sangat beragam. Inilah Indonesia,” ujar Jokowi sebelum mengikuti upacara pengibaran bendera HUT ke-72 RI di Istana Negara.

Pada 2016 dan 2015, Jokowi masih mengenakan pakaian formal berupa jas dalam pelaksanaan upacara HUT RI. Namun pada upacara HUT ke-72 RI, Jokowi mengenakan baju adat Kalimantan Selatan. Baju yang dikenakan menyerupai jas berwarna hitam, ditambah kain songket dan tutup kepala. Tahun itu menjadi momentum pertama Presiden Jokowi mengenakan baju adat.

Tahun 2018, Jokowi mengenakan baju adat dari Aceh saat upacara Kemerdekaan RI yang ke-73. Baju adat terdiri dari penutup kepala yang disebut kupiah meukeutop, terbuat dari kain tetron berwarna merah, hijau, kuning, dan hitam. Sementara, atasannya disebut bajee, mantan Wali Kota Solo ini memilih warna hitam berlengan panjang dilengkapi dengan hiasan sulaman kasab di ujung lengan. Bagian bahu kanan diletakkan boh ru bungkon, hiasan berupa bungkusan dengan ujung terdapat bohru.

Tahun 2019, Presiden Jokowi mengenakan baju adat Klungkung. Baju tersebut bermotif hitam berpadu dengan kain batik sebagai bawahan dan tutup kepala. Jokowi tidak mengatakan alasan khusus mengapa menggunakan baju adat Bali ini. Ia mengutarakan hanya ingin menggunakan pakaian adat yang berbeda dari tiap daerah dalam berbagai kesempatan.

Dan tahun 2020, Jokowi memakai baju adat Timor Tengah Selatan, NTT, lengkap dengan masker berwarna merah putih. Baju yang dikenakan Jokowi juga mengandung unsur warna merah dan putih. Jokowi memakai atasan berwarna putih, lengkap dengan aksesorisnya yang dominan berwarna merah, seperti ikat kepala.

Perbedaan HUT RI Tahun Ini

Upacara HUT ke-75 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka Jakarta tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi virus corona Covid-19 yang masih melanda Tanah Air membuat upacara detik-detik proklamasi itu berlangsung dengan segala keterbatasan, namun tetap berjalan khidmat. Pada akhirnya Bendera Sang Saka Merah Putih tetap bisa dikibarkan di langit Istana.

Berbagai hal yang berbeda dalam peringatan HUT RI di Istana tahun ini, antara lain tidak mengundang masyarakat. Tahun-tahun sebelumnya, Istana selalu mengundang masyarakat dari berbagai kalangan untuk ikut menyaksikan secara langsung upacara di Istana. Bahkan komposisi jumlah masyarakat yang diundang biasanya lebih banyak ketimbang para pejabat yang hadir. Namun tahun ini tidak ada lagi masyarakat yang diundang karena pandemi Covid-19 mengharuskan penerapan jaga jarak.

Kendati demikian, tahun ini Istana tetap mengajak masyarakat umum untuk mengikuti upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI secara virtual.

HUT juga hanya dihadiri enam pejabat negara. Itu pun dibatasi. Pejabat yang hadir secara fisik yakni, Presiden Joko Widodo sebagai Inspektur Upacara. Kemudian Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Lalu, Ketua MPR Bambang Soesatyo sebagai pembaca teks proklamasi dan Menteri Agama Fachrul Razi selaku pembaca doa. Kemudian terlihat juga Ketua DPR RI Puan Maharani, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Idham Azis. Adapun para menteri dan pimpinan lembaga negara lainnya diwajibkan mengikuti upacara pengibaran dan penurunan bendera pusaka secara virtual dari kantor masing-masing.

Para mantan presiden dan wakil presiden juga mengikuti jalannya upacara secara virtual. Biasanya, seluruh pejabat hingga duta besar negara sahabat hadir secara langsung di istana.

Selain pejabat, petugas upacara pun dibatasi. Petugas yang hadir di Istana hanya terdiri dari satu komandan upacara, tiga orang pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka), 20 orang pasukan upacara dari TNI/Polri, 24 orang korps musik, dua orang MC. Selain itu, ada juga 17 anggota TNI yang bertugas sebagai pasukan pelaksana tembakan kehormatan saat upacara detik-detik proklamasi.

Pada tahun sebelumnya, untuk Paskibraka saja mencapai 68 orang. Tahun ini total hanya ada delapan anggota Paskibraka yang bertugas, yang diambil dari pasukan cadangan tahun lalu. Tiga anggota paskibraka bertugas untuk upacara kenaikan bendera dan tiga anggota untuk upacara penurunan. Sisanya, dua anggota cadangan.

Tiga anggota paskibraka yang tergabung dalam Tim Sabang pun sudah sukses mengibarkan bendera merah putih. Ketiganya yakni Indrian Puspita Rahmadhani dari Provinsi Aceh terpilih sebagai pembawa baki, Muhammad Adzan dari Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai komandan kelompok sekaligus pembentang bendera, dan I Gusti Agung Bagus Kade Sanggra Wira Adhinata dari Provinsi Bali yang sebagai pengerek bendera.

Tahun ini tak ada lagi panggung yang dikhususkan untuk hiburan. Acara hiburan kini ditampilkan secara virtual. Hiburan dimulai dengan penampilan Tiara Andini atau Tiara Idol yang membawakan lagu daerah Kampung Nan Jauh di Mato. Lalu dilanjutkan dengan Nowela yang membawakan lagu daerah Jali-jali.

Penampilan kedua penyanyi ini diiringi sejumlah tarian tradisional yang membentuk sejumlah kolase video. Selanjutnya, ada Raisa Andriana yang membawakan lagu Indonesia Pusaka berlatar video perjuangan petugas medis melawan Covid-19. Selain itu, ada juga penampilan paduan suara dan orkestra Gita Bahana Nusantara.

Siswi Asal Siantar Jadi Pembawa Baki

Untuk upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih pada, Senin (17/8) sore, ditugaskan pada Tim Merauke,. Pembawa bendera Merah Putih di Tim Merauke adalah Sylvia Kartika Putri, siswi dari SMA Swasta Kartika 1-4 Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Nama Sylvia kembali terpilih menjadi Paskibraka 2020, setelah sebelumnya dia bertugas sebagai pembawa baki bendera pusaka cadangan tahun lalu.

Anggota lainnya yang bertugas menurunkan bendera Merah Putih ialah Sudrajat Prawijaya dari Bengkulu. Siswa SMAN 4 Rejang Lebong ini ditugaskan sebagai komandan kelompok sekaligus pembentang bendera. Kemudian, ada Muhammad Asri Maulana dari Kalimantan Selatan. Siswa SMAN I Kandangan yang lahir pad Januari 2003 ini bertugas sebagai pengerek bendera.

Dalam menjalankan tugasnya, Tim Merauke dikomandoi oleh komandan upacara sore, Kombes Christ Reinhard Pusung, SIK. Saat ini, dia menjabat sebagai Kasatgaswil Densus 88 AT Polri. (bbs)

loading...