BPODT Gali Potensi SDM di Kawasan Danau Toba, Anak-anak Desa Sigapiton Dilatih Menari Tortor

Sumatera Utara

TOBA, SUMUTPOS.CO – Guna mengenjot potensi sumber daya manusia (SDM) di kawasan Danau Toba, Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba (BOPDT) terus mengembangkan kultur budaya yang menjadi daya tarik bagi pariwisata di danau terbesar di Asia Tenggara itu. Salah satunya, dengan melatih anak-anak menari tortor.

BELAJAR TORTOR:  Anak-anak di Desa Sigapiton mengikuti latihan menari tortor yang dipandu pegiat seni dari Sanggar Dolok Sipiak.
BELAJAR TORTOR: Anak-anak di Desa Sigapiton mengikuti latihan menari tortor yang dipandu pegiat seni dari Sanggar Dolok Sipiak.

Pengembangan potensi SDM masyarakat ini digelar BPODT di Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Kegiatan ini menggandeng pegiat seni dari Sanggar Dolok Sipiak untuk melatih anak-anak menari tortor.


“Untuk tahap awal ini kita melakukan pelatihan untuk budaya. Hasilnya nanti yang sudah kita latih akan kita tampilkan di berbagai kegiatan,” kata Tenaga Ahli Bidang SDM BOPDT, Dedy Siregar dalam keterangan pers diterima Sumut Pos, Minggu (30/8).

Dedy menjelaskan, pelatihan serupa akan dilakukan di dua desa lainnya, yakni Motung dan Pardamean Sibisa. Dua desa ini juga berada di lahan zona Otorita Toba. Selain kebudayaan, BPODT juga fokus pada pelatihan kerajinan tangan hingga agrowisata.

Untuk agrowisata, BPODT menggandeng berbagai pihak. “Sekarang ini Desa Sigapiton tengah berbenah. Ke depan pembangunan dilakukan secara masif di Sigapiton,” tutur Dedi.

Melihat antusias masyarakat Sigapiton yang sangat tinggi, latihan itupun rutin digelar. Terlihat dari keceriaan anak-anak, saat mengikuti latihan. Mereka memperhatikan detil gerakan yang diajarkan.

“Sanggar Dolok Sipiak semula hanya memilih 20 orang anak untuk dilatih. Namun nyatanya, jumlah anak-anak yang ingin ikut latihan lebih dari itu,” pungkasnya.

Sementara, Pimpinan Sanggar Dolok Sipiak, Corry Paroma Panjaitan mengatakan, pelatihan ini adalah salah satu upaya pelestarian budaya. Karena kebudayaan adalah bagian dari peradaban Batak. “Tortor itu bukan hanya tarian. Itu adalah doa. Doa supaya tempat ini menjadi lebih baik bagi generasi berikutnya,” ujar Corry.

Pelestarian budaya diangap sangat penting. Karena kebudayaan tradisional mulai tergerus budaya asing. “Di sini bakat-bakat itu mulai tumbuh. Mulai dari anak-anak, mereka sudah punya ada rasa untuk menampilkan budaya tor tor itu. Jadi sangat disayangkan kalau kita tidak membuat itu menjadi kebiasaan. Jadi tidak hanya untuk ditampilkan, tapi melestarikan tortor juga,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala Desa Sigapiton Hisar Butarbutar mengapresiasi langkah pemerintah yang sudah memberikan perhatian kepada desanya. Kata dia, masyarakat begitu mendukung pengembangan Sigapiton sebagai desa wisata. “Mudah-mudahan pembangunan di Sigapiton bisa untuk kemajuan rakyat Sigapiton. Yang paling perlu dikembangkan adalah SDM,” ujar Hisar.

Pihaknya juga berencana mengalokasikan dana desa untuk pengembangan pariwisata. Termasuk untuk fasilitas publik. Di sisi lain, kata Hisar, pemerintah akan menambah 20 homestay dan melakukan bedah rumah warga. Termasuk peremajaan rumah adat yang usianya sudah sepuh sebagai daya tarik Sigapiton. “Program di Sigapiton mudah-mudahan terlaksana. Terutama di bidang kebudayaan. Tor tor yang sudah memudar, tapi ini kembali dilestarikan,” tandasnya.(gus)

loading...