Banjir Pasang Semakin Meluas, Tanggul Rob Tak Kunjung Dibangun

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Permasalahan banjir pasang laut atau rob, semakin meluas melanda pemukiman masyarakat di Kecamatan Medan Belawan, Medan Labuhan, dan Medan Marelan. Warga pun menagih janji pemerintah membangun tanggul rob sepanjang 12 kilometer di pesisir Pantai Belawan, yang hingga kini tak kunjung dibangun.

Seorang warga, Simon Barus mengatakan, pembangunan benteng atau tanggul rob untuk mengatasi banjir pasang laut sudah diwacanakan sejak 2016, namun hingga kini belum juga terealisasi.


“Harusnya pemerintah segera menepati janji untuk membangun tanggul rob. Karena pasang setiap bulan semakin meluas, dan volume air semakin tinggi masuk ke rumah warga,” ungkap Simon, Rabu (30/9).

Simon juga mengatakan, wacana pembangunan tanggul rob sudah ada 4 tahun lalu, namun pembangunannya tidak juga terlaksana. Janji-janji ini, menurutnya membuat warga semakin menderita.

“Lihatlah, kalau sudah akhir bulan pasang di mana-mana. Pembangunan depo semakian banyak, tapi solusi untuk mengatasi banjir rob tidak juga ada. Kalau memang wacana tanggul rob tidak terealisasi, harusnya adanya solusi lain,” tegas Simon.

Sementara Tokoh Pemuda Belawan, Alfian MY mengaku, wacana pembangunan benteng sepanjang 12 kilometer dianggap hanya sebagai opini publik. Karena terbukti, pelaksanaannya belum nyata di lapangan. Dia berpendapat, lebih baik pembangunan benteng rob itu dibatalkan, karena tidak berguna bagi masyarakat yang menetap di pesisir Pantai Belawan. Alasannya, benteng yang akan dibangun tidak menutup seluruh pinggiran Pantai Belawan, sehingga air pasang tetap saja masuk ke daratan dan bakal sulit kembali surut ke laut.

“Kita tahu, pinggiran pesisir di sini ada lebih dari 20 kilometer panjangnya. Kalau hanya dibangun 12 kilometer, ya sama saja. Air pasti masuk ke pinggiran pantai yang tidak terutup benteng. Dan air yang masuk bisa tergenang, karena tak kembali ke laut,” katanya.

Selain itu, pembangunan benteng rob juga mengganggu persandaran kapal nelayan, dan masyarakat pesisir akan kehilangan tempat tinggal akibat digusur dari pembangunan benteng rob.

“Kalau ada benteng, pasti kapal susah untuk sandar. Begitu juga, pasti masyarakat yang tinggal di pinggir pantai bakal digusur. Mana mungkin nelayan mau tinggal di luar Belawan, mereka pasti jauh untuk mencari nafkah,” jelas pria berusia 40 tahun itu.

Seharusnya, kata aktivis nelayan ini, pemerintah mengevaluasi pembangunan yang melakukan penimbunan Pantai Belawan atau reklamasi. Karena dampaknya akan membuat volume air pasang meningkat mengalir ke daratan.

“Sekarang ini kan banyak pembangunan penimbunan paluh atau anak sungai untuk depo kontainer. Harusnya ini yang perlu ditegaskan dan dievaluasi, jadi tidak memberikan dampak besar air pasang bagi pemukiman masyarakat,” ujar Alfian lagi.

Selain itu, pemerintah juga harus melakukan perlindungan terhadap hutan manggrove yang berada di pesisir pantai yang terus punah, ini bagian dari resapan air untuk mengatasi air pasang.

“Jadi kesimpulannya, pembangunan benteng rob tidak solusi untuk mengatasi air pasang. Sampai kapan pun, kalau pembangunan pemberdayaan resapan air tidak diperhatikan, pasti Belawan akan tetap tenggelam,” pungkas Alfian. (fac/saz)

loading...