Bentuk Kelompok Belajar, Siswa Semangat ‘Keroyok’ Video Sebaran Covid-19

Pendidikan Sumatera Utara
Bu Guru Watini, mengajarkan IPS ‘Letak dan Luas Benua Asia dan Benua Lainnya’, kepada anak didik lewat tugas bikin video sebaran Covid-19 di setiap benua. Anak didiknya semangat menyelesaikan tugas kelompok tersebut.

ASAHAN, SUMUTPOS.CO – Kreativitas guru mengajar sistem daring (dalam jaringan) di tengah pandemi Covid-19, terus bermunculan. Salahsatunya seperti dilakukan Watini, guru mata pelajaran IPS di SMP Negeri 2 Air Joman, Asahan, Sumatera Utara. Ia memilih membentuk kelompok belajar anak didiknya via aplikasi WhatsApp. Setiap kelompok diketuai para siswa juara, rangking 1 sampai 5. Setiap kelompok diminta ‘keroyokan’ mengerjakan tugas membuat video pelajaran dengan tema terkini.

“Awalnya, saya merasa sangat terbatas saat mengajar via online, seperti group Whatsapp, Google Classroom, Google Zoom, Google Meet, dan lain sebagainya. Interaksi guru dan murid jauh berkurang. Kualitas proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal. Ujungnya, prestasi belajar anak didik menurun,” kata Watini, salahsatu fasilitator daerah Program Pintar Tanoto Foundation, Jumat (2/10/2020).


Menyadari seluruh keterbatasan guru dan peserta didik dalam membahas setiap materi pelajaran, Watini memikirkan strategi untuk efektivitas belajar peserta didik.

“Peserta didik kan sering merasa terbebani dengan tugas/ LKPD yang diberikan guru setiap minggu. Alasannya, tidak punya HP-lah, tidak punya paket data lah, dan seterusnya. Sebagai guru IPS, saya kan ingin memberikan tugas secara menyenangkan, tidak memberatkan, tetapi bermakna. Karena saat ini sedang wabah virus corona, saya memberi tugas kepada siswa agar fokus pada issue virus corona, dikaitkan dengan materi pelajaran IPS  kelas IX,” jelasnya.

Watini yang telah dibekali pelatihan Pengembangan Budaya Baca Tanoto Foundation ini, memilih mengaitkan wabah corona pada  materi ajar ‘Letak dan Luas Benua Asia dan Benua Lainnya’.

Agar pelajarannya menarik dan diminati para siswa, Watini membentuk kelompok belajar pada setiap kelas melalui Grup WhatsApp.  Ia mendata siswa rangking 1 sampai 5 pada semester sebelumnya. Kemudian siswa yang mendapat rangking, diminta menjadi ketua kelompok.

“Setiap ketua kelompok bebas memilih teman satu kelasnya untuk dijadikan anggota kelompok sebanyak 5 sampai 6 orang,” tuturnya, seraya tersenyum.

Selanjutnya, setiap kelompok mendapat bagian masing-masing benua. Kelompok 1 Benua Asia. Kelompok 2 Benua Amerika, kelompok 3 Benua Eropa, kelompok 4 Benua Afrika , dan kelompok 5 Benua Australia.

“Tugas yang saya berikan kepada setiap kelompok adalah membuat peta persebaran virus Corona pada satu benua. Boleh dalam bentuk video, power point, maupun gambar pada sebidang kertas karton. Tugas mesti selesai dalam waktu 2 minggu,” jelasnya.

Bu Guru Watini, membentuk kelompok belajar saat memberikan tugas mapel IPS kepada anak-anak didiknya, lewat sistem belajar daring.

Setiap kelompok mengerjakan tugas di rumah masing-masing dengan cara membagi tugas ke masing-masing anggota. Ada siswa yang mencari data penyebaran Covid-19, ada yang mencari foto dan video negara-negara di setiap benua, cara kerja virus, dan seterusnya. Hasilnya dikirim ke ketua kelompok. Selanjutnya, ketua kelompok menyatukan hasil rekaman teman-temannya.

Hasilnya, dalam 2 hari sudah ada kelompok yang menyelesaikan dan mengirimkan tugas berupa video pembelajaran. Yakni Kelompok Belajar 1, yang memaparkan persebaran virus corona di Benua Asia. “Video tersebut menurut saya sangat apik, dan bisa saya jadikan media pembelajaran di kelas-kelas lain pada proses pembelajaran daring selanjutnya,” kata Watini penuh semangat.

Dari cara itu dirinya menemukan, ternyata selama ini peserta didik yang beralasan tidak memiliki HP android atau paket data untuk belajar daring, lebih bersemangat saat diberi tugas untuk membuat video. Tugasnya lebih cepat selesai dibandingkan saat disuruh mengerjakan LKPD luring.

Dengan mengerjakan tugas membuat video secara berkelompok, menurutnya, peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran, yaitu mendeskripsikan letak dan luas benua, mengenal negara-negara yang terdapat di masing-masing benua, menganalisis negara-negara yang terpapar virus corona di berbagai benua, menggambar peta benua, serta memaparkan solusi memutuskan rantai penyebaran virus corona.

“Ternyata, ada bakat terpendam yang selama ini belum tergali selama pembelajaran tatap muka dalam bidang IT.  Setelah dikonfirmasi, untuk menyelesaikan video pembelajaran tersebut, setiap kelompok hanya menghabiskan paket data kurang dari 2GB. Biaya yang habis tidak sampai Rp15 ribu,” cetusnya semringah.

Pada saat Watini menshare video hasil kelompok belajar anak didiknya di grup kelas IX yang lain, kelas lain tersebut ternyata makin termotivasi menyelesaikan tugas-tugasnya.

“Rekan-rekan guru sejawat juga mulai ikut mencontoh pemberian tugas ke siswa. Misalnya guru mata pelajaran PPKN, ikut memberi tugas kepada peserta didik untuk membuat video pembelajaran tentang ‘bagaimana sikap warga negara yang baik dalam menghadapi wabah virus corona yang sedang melanda Indonesia’,” katanya.

Ia berharap, strategi belajar lewat kelompok belajar, serta menugaskan murid membuat video tentang materi ajar yang sedang dipelajari, membuat peserta didik tetap semangat belajar di rumah. “Akhir kata, mari sama-sama berdoa agar wabah ini cepat berlalu,” tutupnya. (rel/mea)

loading...