Pilpres AS: Biden Tinggal 6 Suara, Kubu Trump Makin Cemas

Internasional

NEW YORK, SUMUTPOS.CO – Dua hari usai waktu pencoblosan yang dibuka Selasa (3/11) pagi, pemenang Pilpres AS 2020 belum diketahui: Donald Trump atau Joe Biden. Biden dari Partai Demokrat unggul sementara dengan mendulang 264 suara elektoral. Trump masih 214 suara. Kecemasan menghantui kubu Republik, melihat peluang Donald Trump semakin tipis. Namun, puluhan juta suara yang dikirim lewat pos bisa menentukan.

PILPRES AS: Orang-orang berkumpul untuk memprotes ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menentang hasil pemilihan selama rapat umum 'Hitung setiap suara' di Boston, Massachusetts pada 4 November 2020. - Demokrat dan Republik bersiap-siap untuk kemungkinan pertikaian hukum untuk memutuskan pemenang dari persaingan ketat presiden antara Partai Republik Donald Trump dan penantang Demokrat Joe Biden.
PILPRES AS: Orang-orang berkumpul untuk memprotes ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menentang hasil pemilihan selama rapat umum ‘Hitung setiap suara’ di Boston, Massachusetts pada 4 November 2020. – Demokrat dan Republik bersiap-siap untuk kemungkinan pertikaian hukum untuk memutuskan pemenang dari persaingan ketat presiden antara Partai Republik Donald Trump dan penantang Demokrat Joe Biden.

Hingga Kamis (5/11) malam, calon presiden dari Demokrat, Joe Biden, masih unggul di suara populer maupun elektoral. Ia kini hanya butuh memenangkan satu negara bagian, yakni Nevada.


Berdasarkan penghitungan The Associated Press, tinggal 6 suara lagi yang dibutuhkan Joe Biden untuk mencapai 270 suara elektoral. Hingga Kamis malam, ia sudah meraih 264 suara elektoral menuju angka 270 suara minimal untuk menang.

Nevada memiliki enam suara elektoral. Jika Biden menang, maka ia mendapatkan total 270 elektoral dari seluruh negara bagian. Saat ini, Joe Biden sudah unggul di Nevada.

Kecemasan menghantui kubu Republik, sebab peluang Donald Trump semakin tipis: masih 214 suara. Terlebih Biden menempel ketat di penghitungan suara di Georgia. Di sana keunggulan Trump merosot menjadi sekitar 23.000 suara sepanjang penghitungan di hari Rabu.

Namun masih ada harapan Trump, meski tipis. Perhitungan CNN Projection menunjukkan, hingga saat ini masih ada enam negara bagian di AS yang belum diketahui kepada kandidat mana suara elektoralnya akan diberikan. Negara-negara tersebut yakni, Alaska (3 suara elektoral), Georgia (16 suara elektoral), North Carolina (15 suara elektoral), Pennsylvania (20 suara elektoral), Arizona (11 suara elektoral), dan Nevada (6 suara elektoral).

Menteri Luar Negeri Pennsylvania, Kathy Boockvar pada Rabu malam (4/11) waktu setempat berkata bahwa tempatnya telah membuat “kemajuan luar biasa” dalam menghitung surat suara. Meski begitu, Kathy memperkirakan perhitungan akan molor dari hari hitungan suara mayoritas dihitung. Banyak surat suara yang dikembalikan di Philadelphia.

Tim kampanye Biden atau Trump sama-sama yakin bisa menang di Pennsylvania. Jika tidak memenangkan Nevada dan Arizona, Biden sendiri masih memiliki peluang lain ke Gedung Putih.

Tim Penasihat kampanye Trump bersikeras bahwa mereka akan dapat mengganti kekalahan yang mereka derita di Maricopa County, Arizona.

Kabupaten penduduk terpadat di Arizona itu merilis pemungutan suara terbaru pada Rabu malam waktu setempat. Hasilnya jarak kemenangan Biden di Arizona menjadi hanya sekitar 79.000 suara.

Lalu di Nevada, pejabat pemilu setempat hanya merilis sedikit informasi kepada publik terkait pemilihan. Diperkirakan 200.000 surat suara masih beredar di sana.

Masih menilik CNN Projection, Biden diperkirakan memenangkan setidaknya tiga dari empat suara elektoral Maine.

Ditambah Wisconsin, Michigan, Hawaii, Rhode Island, Minnesota, Virginia, California, Oregon, negara bagian Washington, Illinois, New Hampshire, New Mexico, Colorado, Connecticut, New Jersey, New York, Vermont, Delaware, Washington, DC, Maryland, Massachusetts dan salah satu dari lima suara elektoral Nebraska.

Joe Biden berhasil membalikkan keadaan di Michigan dan Wisconsin yang sebelumnya dikuasai Donald Trump. Tim Trump sedang berupaya mengadakan hitung ulang (recount).

Trump memenangkan Montana, Texas, Iowa, Idaho, Ohio, Mississippi, Wyoming, Missouri, Kansas, Utah, Louisiana, Alabama, South Carolina, North Dakota, South Dakota, Arkansas, Indiana, Oklahoma, Kentucky, West Virginia dan Tennessee dan empat dari lima suara elektoral Nebraska.

Masih ada beberapa negara bagian vital lain yang hasilnya belum jelas, yaitu Pennsylvania, North Carolina, dan Georgia. Sementara Trump masih unggul di empat negara bagian tersebut.

Tempel Ketat di Georgia

Kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden mulai menempel ketat petahana Donald Trump di Georgia yang merupakan “ medan tempur” utama. Berdasakan hasil penghitungan sementara, Biden kini hanya tertinggal 31.000 suara.

Berbeda ketika dia tertinggal 372.000 suara 24 jam sebelumnya. Tetapi, keberuntungan mantan wakil presiden era Barack Obama itu nyaris pupus di Arizona, salah satu negara bagian kunci di Sun Belt.

Di sana, pertarungan berlangsung sengit di mana politisi gaek berusia 77 tahun itu hanya unggul 79.000 suara dari Donald Trump. Kini, keberuntungan Joe Biden dan Trump diuji di negara bagian tersisa. Mereka butuh 270 suara elektorat untuk melenggang ke Gedung Putih.

Sejauh ini berdasarkan data Associated Press yang ditampilkan di tracking Google, Biden mengumpulkan 264. Dia butuh enam lagi untuk menang.

Selain itu sebagaimana diberitakan Sky News Kamis (5/11), Biden juga unggul dalam hal popular votes, di mana dia meraup 72,1 juta suara. Sementara Trump merengkuh 214 electorat votes. Meski begitu untuk popular, dia mendapat 68,6 juta. Naik tiga juta dibandingkan 2016.

Meski pihak komisi Pilpres AS meminta agar semua pihak tenang, kubu petahana sudah mengumumkan bakal mengambil jalur hukum.

Beberapa media AS telah menyatakan Arizona dimenangkan oleh Joe Biden, tetapi kubu Donald Trump optimistis Arizona pada akhirnya akan dimenangkan oleh Trump setelah perhitungan lengkap selesai.

Ancam Layangkan Gugatan

Atas berbagai kemenangan yang sudah diprediksi, Biden tidak gegabah. Meski percaya diri untuk menang, ia meminta pendukungnya untuk sabar menunggu hingga seluruh suara selesai dihitung.

Capres dari Partai Demokrat itu tak menyatakan telah menang, namun dia meyakini dirinya berada dalam jalur yang tepat untuk mengalahkan Trump. “Saya di sini tidak untuk menyatakan kemenangan, tetapi saya di sini untuk melaporkan bahwa ketika penghitungan rampung, kami yakin kamilah pemenangnya.”

Biden mengaku perasaannya “sangat baik” mengenai Pennsylvania, walaupun tim kampanye Presiden Trump “mendeklarasikan kemenangan” di negara bagian tersebut berdasarkan perhitungan “semua kertas suara resmi”.

Sementara itu, Trump sudah menyatakan kemenangan dalam sebuah pernyataan yang ia lakukan pada Rabu dini hari di Gedung Putih. Ia pun menuduh ada kecurangan dalam pemilu kali ini.

“Sejujurnya kami telah memenangi pemilihan ini,” katanya di Gedung Putih. “Jelas kami sudah menang di Georgia dan North Carolina. Kita menang di Pennsylvania dengan jumlah luar biasa,” tambahnya.

Ia juga mengancam untuk pergi ke Mahkamah Agung meminta penghitungan suara segera dihentikan.

Tim kampanye Trump mengatakan sang presiden akan meminta secara resmi agar diadakan penghitungan ulang di Wisconsin, dengan dalih “sejumlah kejanggalan di beberapa distrik Wisconsin”.

Hasil sementara mengindikasikan selisih antara Trump dan Biden di Wisconsin mencapai kurang dari satu poin, sehingga seorang kandidat berhak meminta perhitungan ulang.

Tim kampanye Trump telah melayangkan gugatan di Michigan agar perhitungan suara dihentikan seraya mengklaim para simpatisan ditolak mendapat “akses yang layak” guna mengamati proses pembukaan kertas suara dan perhitungan suara.

Jumlah pemilih yang menggunakan suaranya dalam pilpres kali ini diperkirakan yang tertinggi dalam 120 tahun terakhir yakni 66,9%, menurut US Election Project.

Biden mengantungi dukungan dari 70,5 juta pemilih, angka terbanyak dari yang pernah diraih seorang kandidat presiden sepanjang sejarah AS. Adapun Trump meraih sokongan dari 67,2 juta pemilih, empat juta lebih banyak dari yang dia raih pada 2016 silam.

Persaingan ketat ini berlangsung di tengah pandemi virus corona, yang mencapai rekor harian 103.000 kasus pada Rabu (04/11), menurut Covid Tracking Project.

Sementara massa yang tidak suka dengan Trump dilaporkan melakukan protes di lokasi seperti New York dan Negara Bagian Pennsylvania. Pengacara petahana, Rudy Giuliani, melontarkan spekulasi liar tanpa bukti di mana dia menuding Biden melakukan kecurangan hingga 5.000 kali.

Pendukung Trump Kepung Kota

Sementara itu, ratusan pendukung calon petahana presiden Amerika Serikat, Donald Trump turun ke jalan di seluruh penjuru negeri memprotes proses perhitungan suara yang hingga Kamis malam masih berlangsung.

Sebagian besar pedemo menggelar aksi di kantong suara parta Trump di Phoenix, Arizona, Michigan, dan Detroit. Perhitungan suara mencatat Trump kalah dalam mengantongi suara elektoral di dua negara bagian tersebut.

Kelompok pro-Trump yang menggelar aksi di Phoenix menuntut untuk menghentikan penghitungan suara. Tuntutan tersebut disampaikan setelah Trump dalam pidato tanpa bukti, menyebut adanya kecurangan.

Paul Gosar, senator Partai Republik dari Arizona yang bergabung dalam aksi tersebut. Gosar menuduh adanya kecurangan dalam proses penghitungan suara. “Kami tidak akan membiarkan pemilihan ini dicuri. Titik!,” kata Gosar seperti mengutip ABC.

Pedemo pro-Trump di Detroit berupaya masuk ke TCF Center, tempat suara dihitung untuk negara bagian Michigan. Aksi protes di Detroit pecah setelah AP News merilis kabar kemenangan Biden di sana.

Rekaman video yang dirilis media lokal menunjukkan pendukung Trump di Detroit berkumpul di luar arena dan di dalam lobi TCF Center. Pedemo meneriakkan agar proses perhitungan suara dihentikan.

Petugas kepolisian berupaya mencegah mereka memasuki area perhitungan suara.

Gelombang unjuk rasa yang terjadi di seluruh penjuru negeri diwarnai dengan penangkapan terhadap 50 pedemo di New York dan 11 orang di Portland setelah diwarnai aksi bakar-bakaran dan bentrok dengan polisi.

Aksi demo pendukung Partai Republik pecah setelah selisih perolehan suara elektoral Trump kian melebar dengan Biden. Kendati kedua kubu masih memiliki peluang mengantongi 270 suara elektoral, peluang Trump kian tipis untuk memenangkan pilpres.

Ragam Skenario

Melalui sistem penghitungan suara elektoral, proses pilpres AS seharusnya berjalan sesuai jalur yang sudah ditentukan. Yakni pemilihan suara, penghitungan suara, sertifikasi hasil, pemungutan suara elektoral, dan penetapan pasangan terpilih.

Jika skenario ini berjalan mulus, seharusnya rangkaian perhelatan pilpres rampung pada 20 Januari 2021, pasangan presiden dan wapres terpilih akan dilantik di hadapan seluruh warga AS.

Namun pengumuman pemenang bisa jadi mepet tenggat waktu pelantikan jika hasil pemilihan disengketakan dan proses penentuan pemenang jadi kian panjang.

Mengutip New York Times, berikut beberapa skenario yang dapat terjadi jika hasil pemilu disengketakan: yakni suara dihitung kembali, mengalihkan suara, legislatif tentukan pemilih elektoral, atau kongres menentukan presiden terpilih. (voa/lp6/cnn/bbs)

loading...