Biden Kian Dekati Kemenangan, Kans Menipis, Trump Tuduh Pilpres Curang

Internasional

WASHINGTON, SUMUTPOS.CO – Hasil pemilihan presiden Amerika tetap belum menentu pada Jumat (6/11). Penantang dari Partai Demokrat, Joe Biden, mendekati mayoritas Electoral College (suara perwakilan) dengan 264 suara elektoral versi AP (kurang 6 suara) atau 253 suara elektoral versi CNN (kurang 17 suara).

PILPRES AS: Capres dari Partai Demokrat, Joe Biden, makin mendekati kemenangan. Rivalnya, calon petahana Donald Trump, menuduh Pilpres curang.
PILPRES AS: Capres dari Partai Demokrat, Joe Biden, makin mendekati kemenangan. Rivalnya, calon petahana Donald Trump, menuduh Pilpres curang.

Trump mengekor dengan 214 suara versi AP dan 213 versi CNN. Dibutuhkan minimal 270 suara elektoral untuk mengklaim kursi kepresidenan AS untuk masa jabatan empat tahun.


Melihat hasil sementara pemilihan presiden Amerika Serikat memperlihatkan dirinya mendekati kekalahan, Presiden Donald Trump kembali mengutarakan kemurkaannya. “Mereka berusaha mencurangi pemilihan umum ini,” klaimnya untuk kesekian kali di Gedung Putih, Kamis (5/11).

Trump menghabiskan waktu setidaknya 17 menit di hadapan wartawan untuk mengeluhkan hasil pilpres yang dinilai tidak akurat. “Kalau anda menghitung suara yang legal, saya dengan mudah menang,” katanya.

“Mereka mencoba mencurangi pemilihan ini. Dan kita tidak bisa membiarkan ini terjadi,” tambah Trump.

Dugaan Trump mengacu pada surat suara yang dikirim dari pemilihan melalui surat. Pada beberapa negara bagian, pihaknya mengklaim surat suara yang dikirim tidak sampai, atau dipertanyakan integritasnya.

Pemungutan suara melalui surat yang dilakukan sebelum hari pemilihan dilakukan untuk meminalisir penyebaran virus di tengah pandemi Covid-19. Sebagian besar masyarakat AS melakukan pemungutan suara lebih dulu.

Suara yang diambil sebelum pemilihan dinilai lebih condong ke Biden dan Partai Demokrat. Belakangan, Trump meminta penghitungan suara dihentikan sementara Partai Republik mengajukan gugatan hukum atas tuduhan penyimpangan tabulasi surat suara. Namun permintaan ini ditolak hakim di Michigan dan Georgia.

Posisi Trump dan Biden hingga saat ini masih selisih cukup jauh. Menurut penghitungan Associated Press dan Fox News, Biden tinggal mencari 6 suara elektoral lagi untuk memenangkan pilpres dengan perolehan 264 suara elektoral. Sementara Trump 214.

Sedangkan menurut penghitungan CNN, Biden meraih 253 dan Trump 213.

Jika Biden dapat mempertahankan keunggulan di Arizona, dengan 11 suara elektoralnya, dan Nevada dengan enam, dia akan mencapai 270 mayoritas suara elektoral (versi CNN) dan akan menjadi presiden ke-46 Amerika pada pelantikannya bulan Januari, tanpa terpengaruh oleh siapa pun pemenang hasil pemilihan di negara bagian Georgia dan Pennsylvania.

Tetapi hasil penghitungan suara sangat ketat di keempat negara bagian. Di Georgia, dengan 16 suara elektoral yang dipertaruhkan, Trump unggul 15.000 suara sementara lebih dari 50.000 surat suara masih harus dihitung.

Di Pennsylvania, Trump memimpin dengan 116.000 suara, tetapi jumlah surat suara yang lebih besar masih harus dihitung. Dua puluh suara elektoral dipertaruhkan di negara bagian itu.

Biden sekarang memimpin dengan 12.000 suara di Nevada, yang memiliki enam suara elektoral, dan 68.000 di Arizona, yang memiliki 11 suara elektoral. Masih banyak lagi suara yang akan dihitung di kedua negara bagian itu.

Trump masih memiliki kesempatan menuju kemenangan jika dia bisa merebut kembali negara-negara bagian di mana Biden memimpin dan juga menang di Georgia dan Pennsylvania. Presiden Trump juga memimpin di dua negara bagian lain yang belum ditentukan hasilnya – Alaska dan North Carolina – Biden memimpin hasil pemilihan secara nasional dengan 71,8 juta lawan 68,1 juta.

Tetapi Electoral College-lah yang akan menentukan pemenang setelah kampanye yang kontroversial selama berbulan-bulan.

Hingga saat ini, penghitungan suara di Arizona, Georgia, Nevada, Pennsylvania, North Carolina, dan Alaska masih berlangsung. Meski unggul di Georgia, tapi penghitungan suara di negara bagian ini belum selesai dan angka masih bisa berubah.

Penghitungan di Georgia diharapkan selesai dalam hitungan jam dengan Clayton County yang terakhir dihitung. Total suara yang masuk 99 persen. Georgia menyumbang 16 suara elektoral dalam pilpres.

Seiring memanasnya perhelatan pilpres, pendukung Trump mengepung kantor-kantor penyelenggara pemilu di sejumlah negara bagian.

Jaksa Agung Michigan Dana Nessel juga mengaku staf di kantornya mendapat intimidasi dan ancaman dari masyarakat akan tudingan kecurangan dalam pilpres.

Biden Percaya Diri

Joe Biden optimis akan memenangkan pemilihan kali ini. Ia menghimbau masyarakat tetap tenang dan menunggu kepastian hasil pemenang pilpres yang pasti.

“Kami yakin ketika penghitungan selesai, saya dan senator Harris akan dinyatakan sebagai pemenang,” katanya kepada wartawan di Wilmington, Delaware, Kamis (5/11) sore.

“Begitulah cara rakyat Amerika mengekspresikan keinginannya,” Biden menambahkan. “Itu adalah keinginan para pemilih, tak seorang pun – dan tidak ada hal-hal lainnya – yang menentukan pemilihan Presiden Amerika Serikat.”

Mantan wakil presiden itu juga menyatakan bahwa “demokrasi terkadang berantakan, sehingga diperlukan sedikit kesabaran.”

Joe Biden menyampaikan dirinya bersama pasangan wakil presiden, Senator Kamala Harris, terus “merasa sangat senang dengan perkembangan yang ada.”

“Kami yakin jika penghitungan selesai, saya dan Senator Harris akan menjadi pemenang,” Biden menegaskan lebih lanjut.

Semua mata kini tertuju pada Pennsylvania dan Georgia. Trump harus menang di kedua negara bagian itu untuk mengamankan jabatan presiden, sedangkan Biden dapat menang tanpa keunggulan di salah satu negara bagian itu jika ia mempertahankan keunggulan tipisnya di Arizona dan Nevada.

Dunia Ikut Tegang dan Tidak Sabar

Para pemimpin dunia pada umumnya menahan diri untuk tidak berkomentar pada hari Rabu (4/11) ini tentang hasil pemilihan presiden di Amerika. Mereka lebih memilih untuk menunggu hasil pasti.

Tetapi hasil pemungutan suara sejauh ini yang menunjukkan adanya polarisasi di Amerika dan diperebutkan secara ketat. Hal itu telah memicu kekhawatiran di luar negeri bahwa perpecahan tajam dan konflik internal di negara adidaya ini mungkin akan berlangsung lama setelah pemenang diumumkan.

Ada juga cemoohan dari Rusia, Afrika dan negara-negara lain bahwa pemilu di Amerika ini menunjukkan bahwa demokrasi Amerika tidak sempurna. Namun, banyak juga kalangan yang memperkirakan semua akan berakhir dan memperingatkan bahwa hasilnya mungkin tidak akan segera diketahui.

Demikian pula dengan reaksi berbagai pihak di luar negeri tentang belum diumumkannya hasil pemilihan presiden Amerika yang umumnya mengisyaratkan ketidaksabaran.

Begitu terbangun pada hari Rabu dan mengetahui berita bahwa pemenang pemilihan Amerika mungkin tidak akan diketahui berjam-jam, berhari-hari atau bahkan lebih lama, para pakar memberikan berbagai komentar dan ramalan terbaik mereka.

Dengan belum ditentukannya pemenang langsung antara Presiden Donald Trump dan penantangnya Joe Biden, tebak-menebak untuk mencoba mencari tahu siapa yang akhirnya memenangkan kursi di Gedung Putih, berubah cepat dan menjadi fenomena global. Para pemimpin pemerintahan bergegas untuk menerima kenyataan akan tertundanya hasil pemilihan dan warga biasa bertukar pandangan, harapan dan ketakutan melalui berbagai media sosial.

“Saya mendengar mungkin perlu beberapa lama sebelum semuanya beres,” kata Menteri Keuangan Jepang, Taro Aso. “Saya tidak tahu bagaimana hal itu dapat memengaruhi kita,” tambahnya.

Rabu pagi, orang-orang di pusat kota London juga bereaksi terhadap hasil pemilu Amerika. Karena hasil pemilu masih belum jelas, sebagian pihak menyatakan keprihatinannya tentang kemungkinan terpilihnya kembali Trump.

“Secara pribadi sangat sedih. Saya ingin Biden menang. Tapi mari kita lihat apa yang terjadi pada akhirnya. Saya pikir ini akan terus berlanjut sepanjang minggu ini,” kata seorang warga London.

Di Paris, seorang warga Spanyol, Javier Saenz, tertegun ketika bangun pagi dan mengetahui pemenang pemilihan presiden Amerika belum diumumkan. “Saya pikir akan ada hasil yang jelas, dan saya telah membaca artikel yang berbeda, tidak ada yang tahu siapa yang akan menang. Saya sangat terkejut dengan itu.”

Pemerintah Prancis pada hari Rabu mengatakan telah membahas pemilihan Amerika dan akan bekerja sama dengan presiden mana pun yang terpilih.

Juru bicara pemerintah Prancis Gabriel Attal mengatakan pemilihan itu dibahas dalam rapat kabinet harian. “Kami telah mencatat bahwa penghitungan suara masih berlangsung. Prancis, tentu saja, akan bekerja sama dengan presiden terpilih.”

Sementara itu, juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan pada hari Rabu bahwa pemerintah negara itu memiliki “kepercayaan pada tradisi demokrasi dan lembaga hukum” Amerika.

Steffen Seibert menyampaikan pernyataan itu ketika ditanya oleh para wartawan dalam jumpa pers tentang hasil pemungutan suara yang tertunda antara Presiden Donald Trump dan penantangnya dari Partai Demokrat Joe Biden.

Pejabat pemerintah Jerman lainnya, Peter Beyer, yang menjabat sebagai Koordinator Kerjasama Trans-Atlantik mengatakan bahwa Jerman perlu bersabar dengan hasil pilpres Amerika yang tertunda.

Dia juga menyarankan agar Eropa memiliki tanggapan yang sama jika hasil pemilu berakhir dengan perselisihan berlarut-larut.

Di Moskow, warga Rusia juga bereaksi terhadap pemilihan Presiden Amerika yang belum diputuskan hasilnya.

Ivan Timofeev, seorang guru besar di Departemen Teori Politik di Moscow State Institute of International Relations, mengatakan bahwa “pergolakan adalah normal dalam demokrasi,” seperti halnya “pemilihan yang terpolarisasi.”

Dia menambahkan bahwa menurutnya Kremlin “siap untuk bekerja sama dengan presiden mana pun.”

“Saya kira bahwa Rusia tidak dapat memanfaatkan ketidakpastian dari penundaan hasil ini, dan saya tidak melihat manfaat apa pun bagi Rusia dari ketidakpastian ini. Saya harus mengatakan bahwa keadaan semacam ini adalah hal yang normal untuk demokrasi. Amerika Serikat adalah negara demokrasi tua dan memiliki institusi yang stabil. Perselisihan itu normal saja bagi demokrasi, dan juga normal bagi demokrasi untuk mengalami pemilihan yang terpolarisasi,” ujarnya. (cnn/voa/bbc)

loading...