Danau Toba Miliki Self Recovery Alami

Sumatera Utara

TOBA, SUMUTPOS.CO – Sebagai perusahaan budidaya ikan tilapia yang beroperasi di perairan air tawar Danau Toba, PT Aquafarm Nusantara di bawah manajemen Regal Spring Indonesia, selayaknya berkepentingan menjaga kualitas air danau tetap bagus. Sejak hadir PTAN hadir di Danau Toba, hasil survei profil air Danau Toba dari tahun ke tahun, tidak ada perubahan signifikan. Konon, Danau Toba memiliki sistem self recovery alami.

KJA DI DANAU TOBA: Keramba Jaring Apung milik PT Aqua Farm Nusantara (Regal Spring Indonesia) di perairan Desa Pangambatan-Lontung, Danau Toba. Menurut Manajer Lingkungan RSI, kualitas air Danau Toba secara umum tidak ada perubahan signifikan dari tahun ke tahun, karena danau Toba memiliki self recovery alami.  triadi wibowo/sumut pos.
KJA DI DANAU TOBA: Keramba Jaring Apung milik PT Aqua Farm Nusantara (Regal Spring Indonesia) di perairan Desa Pangambatan-Lontung, Danau Toba. Menurut Manajer Lingkungan RSI, kualitas air Danau Toba secara umum tidak ada perubahan signifikan dari tahun ke tahun, karena danau Toba memiliki self recovery alami. triadi wibowo/sumut pos.

“DANAU TOBA memiliki luas total 112 ribu hektare. Airnya masuk dan keluar setiap saat. Adapun keramba ikan milik RSI tidak sampai 1 persen dari luas total danau,” jelas Friska Saragih, Manajer Lingkungan Regal Spring Indonesia (RSI), didampingi Kasan Mulyono, Corporate & Communications Affairs Senior Manager RSI, kepada Sumut Pos, di Parapat, belum lama ini.


Menegaskan bahwa RSI sangat peduli menjaga lingkungan Danau Toba, Friska menjelaskan, RSI rutin melakukan monitoring air sejak Januari 2006 lalu, bekerja sama dengan Wageningen University, Belanda. “Peneliti Belanda datang dua kali se-tahun melakukan validasi lingkungan dan lab. Monitoring sudah berlangsung selama 15 tahun.

Tujuannya untuk cek standar mutu sesuai sertifikasi internasional,” kata n Friska.

Monitoring dilakukan untuk memeriksa kualitas air sekarang dan masa depan, baik di lingkungan KJA maupun di luar lingkungan KJA. Sampel diambil dari berbagai titik di perairan Danau Toba. Dari ujung ke ujung Pulau Samosir.

“Tes yang dilakukan meliputi tes kimia, biologi, fisika, pemeriksaan sedimen, lumpur, dan lain-lain. Seluruh sampel dites di laboratorium,” jelasnya.

Parameter yang dites antara lain suhu air, warna, bau-rasa, salinitas, padatan, kekeruhan, pH, oksigen terlarut, kadar detergen, logam, dan sebagainya.

Sampel diambil mulai kedalaman 2 hingga 60 meter. Kesimpulan hasil monitoring: tidak ada perubahan signifikan kualitas air danau dari tahun ke tahun.

Kadar oksigen terlarut di permukaan relatif tinggi (6-7 mg/l), namun menurun dratis pada kedalaman 100 meter. Suhu masih optimal. Secara umum, kualitas air relatif stabil.

“Memang ada beberapa perubahan signifikan pada musim tertentu. Misalnya pada musim hujan, tingkat kekeruhan air danau relatif lebih tinggi karena banyak air masuk dari daratan. Sementara di musim kemarau, terjadi evaporasi (proses penguapan) yang lebih tinggi. Akibatnya, air lebih pekat. Namun kondisi itu biasanya sementara saja dan tidak berpengaruh pada mutu ikan,” kata Friska.

Selain monitoring oleh internal perusahaan, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumut juga melakukan monitoring air Danau Toba dua kali dalam setahun.

“RSI terus berupaya memenuhi berbagai persyaratan sertifikasi mutu internasional yang memiliki persyaratan ketat dalam tanggung jawab terhadap lingkungan dan praktik sosial budidaya perikanan. RSI menjunjung tinggi budidaya ikan yang bertanggung jawab untuk menghasilkan Naturally Better Tilapia,” katanya.

Berbagai sertifikasi internasional dan nasional, menurutnya, menjamin bahwa cara perusahaan mengolah dan produk yang dihasilkan memenuhi standar mutu internasional dan nasional.

“Skala internasional, RSI memegang dua sertifikasi. Masing-masing memiliki parameter pemantauan yang berbeda-beda,” katanya.

Sertifikasi dimaksud yakni ASC (Aquaculture Stewardship Council) dan standar sertifikasi BAP (Global Aquaculture Alliance Best Aquaculture Practice) untuk budi daya tilapia yang bertanggung jawab.

RSI sendiri tetap patuh dengan standar lokasi keramba di permukaan dengan kedalaman minimal 100 meter.

Self Recovery Alami

Hasil penelitian RSI, Danau Toba memiliki sistem self recovery secara alami. Misalnya, terjadinya pertukaran air secara alami. Air masuk dari 295 sungai (baik permanen maupun musiman) ke danau. Dan air keluar secara konstan melalui Sungai Asahan, dengan debit rata-rata 110 m3 per detik.

Self recovery lainnya yakni adanya keanekaragaman plankton di Danau Toba. Dikutip dari Wikipedia, plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar. Secara luas, plankton dianggap sebagai salahsatu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.

“Selama terjadi keseimbangan alam di air danau, tidak ada masalah,” jelas Friska.

Ditanya tentang pengaruh Keramba Jaring Apung terhadap kualitas air Danau Toba, Friksa menyarankan, dilakukan pengaturan letak keramba jaring apung pada jarak tertentu.

“Kalau bisa jangan ada sentralisasi KJA, agar tidak terjadi buffer zone. Kemudian, KJA sebaiknya jangan di perairan dangkal, karena rentan menyebabkan ikan mati saat terjadi pergerakan air dari bawah ke atas. Budidaya ikan di keramba juga jangan terlalu padat. Pemberian pakan ikan sesuai standar, jangan berlebihan. Sesuaikan dengan perilaku makan ikan, agar pakan tidak tersisa dan lingkungan terjaga dengan baik,” kata dia.

RSI sendiri saat ini membesarkan ikan tilapia di ratusan Keramba Jaring Apung yang tersebar di 4 lokasi, yakni Desa Panahatan Kabupaten Simalungun (pindah ke perairan Samosir sejak Februari 2018), Desa Pangambatan-Lontung dan Desa Silimalombu Kabupaten Samosir, serta Desa Sirungkungon Kabupaten Toba.

Adapun KJA di perairan Danau Toba mayoritas atau sekitar 95 persen milik masyarakat, dan kurang lebih 5 persen milik perusahaan.

Masih Trial And Error

Ditanya mengenai proyek uji coba sistem daur ulang KJA RSI di Danau Toba yang menunjukkan hasil menggembirakan pada Desember 2019 lalu, menurut Friska, hingga pekan lalu sifatnya masih trial and error.

“Mengangkat sisa-sisa kotoran dan pakan dari bawah keramba dilakukan secara manual. Ternyata ditemukan tantangan teknis dengan resiko tinggi. Hingga saat ini, masih terus dicari teknis yang tidak terlalu beresiko,” katanya tanpa menjelaskan lebih lanjut resiko dimaksud.

Sebelumnya RSI menyatakan, dalam proyek daur ulang tersebut, semua materi pakan yang telah dicerna ikan bisa terkumpul dan kemudian diangkat dari dasar KJA.

“Rancangan kantong besar telah dipasang di dasar KJA dan kantong ini menampung materi pakan yang telah dicerna. Materi tersebut kemudian disedot dengan pompa ke sebuah tangki penampung di atas kapal. Materi tercerna tersebut lalu disaring untuk memisahkan kandungan airnya dan kemudian diangkut ke permukaan untuk didaur ulang menjadi pupuk yang digunakan untuk pertanian,” kata Juan Carlos, Presiden Direktur Regal Springs Indonesia, Desember tahun 2019 lalu.

Juan Carlos mengatakan, RSI terus mengembangkan solusi-solusi lainnya untuk mengoptimalkan sistem daur ulang ini, agar kita bisa mencapai kinerja sistem yang paling efisien di masa mendatang.

Selain pemasangan sistem daur ulang KJA, Regal Springs Indonesia juga telah memasang 4 alat pemberi pakan secara otomatis berteknologi canggih untuk meningkatkan efisiensi pemberian pakan ikan dalam KJA. Tujuannya, untuk meningkatkan kinerja kegiatan budidaya perikanan kami yang bertanggung jawab. (mea)

loading...