Laju Covid-19 di Medan Mulai Melambat, Kesembuhan Capai 79,6 Persen

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Angka kesembuhan pasien Covid-19 di Kota Medan meningkat cukup signifikan. Hasil kajian tim surveilans Dinas Kesehatan Kota Medan, angka kesembuhan pasien mencapai 79,6 persen. Bersamaan dengan itu, laju angka pertumbuhan kasus Covid-19 di Kota Medan juga cenderung melambat.

Surveilans Dinas Kesehatan Kota Medan, Jojor  Simamora.
Surveilans Dinas Kesehatan Kota Medan, Jojor Simamora.

“Saat ini laju peningkatan jumlah kasus Covid-19 di Kota Medan cenderung melambat. Indikatornya yakni angka presentase kesembuhan yang meningkat mencapai 79,6 persen,” ucap Surveilans Dinas Kesehatan Kota Medan, Jojor Simamora, kepada awak media di Posko Satgas Covid-19 Kota Medan, Jalan Rotan Proyek, Medan Petisah, Senin (16/11).


Dikatakan Jojor, persentase kasus kematian pasien Covid-19 di Kota Medan ada pada angka 4,3 persen. Sedangkan persentase kasus kesakitan atau kasus suspek dan konfirmasi positif Covid-19 mencapai 50,7 persen per 100.000 penduduk di Kota Medan.

Namun meski status kesembuhan menunjukkan peningkatan yang tajam, tetapi status Kota Medan masih sama seperti sebelumnya. Yakni masih berada di kawasan zona merah. “Status ditentukan secara nasional. Selama masih ada kecamatan di Kota Medan yang berstatus di zona merah, secara otomatis Kota Medan masih berada di zona merah penyebaran Covid-19,” terangnya.

Menurutnya, penetapan status perubahan zona dari satu daerah harus melalui pembahasan panjang dan dilakukan oleh tim khusus. “Sampai saat ini belum ada tim khusus melakukan pembahasan, terlebih lagi penetapan perubahan status,” ungkapnya.

Untuk itu, Jojor mengimbau kepada seluruh warga Kota Medan agar tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan menjalankan 3M, yakni mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak serta menerapkan gaya hidup sehat.

“Untuk mencapai perubahan status, perlu usaha kita bersama. Selain 3M, pola makan juga harus sehat dan rajin berolahraga,” tutupnya.

Anggota Pansus Covid-19 DPRD Medan, Afif Abdillah mengatakan, pihaknya terus mendesak Pemko Medan —dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota Medan— untuk segera menyiapkan pengadaan hepafilter di berbagai tempat umum di Kota Medan. Tujuannya, untuk melemahkan Covid-19 yang begitu cepat menular di dalam ruangan.

“Hepafilter itu sangat penting. Hepafilter dapat menekan angka penyebaran Covid-19 di dalam ruangan. Sedangkan kita sama-sama tahu kalau kondisi penyebaran Covid-19 itu paling cepat terjadi di dalam ruangan, bukan di luar ruangan,” ungkapnya.

Untuk mengadakan hepafilter, kata Afif, Pemko Medan hanya membutuhkan anggaran sekitar Rp10 miliar hingga Rp50 miliar. Untuk itu, pihaknya berharap agar pengadaan hepafilter itu dapat dianggarkan dari anggaran Covid-19 Kota Medan, atau paling lama dapat dianggarkan di P-APBD 2021.

“Saat ini sudah seharusnya hepafilter ada di setiap areal publik. Termasuk perkantoran, tempat-tempat pelayanan publik dan khususnya pelayanan kesehatan,” pungkasnya.

Penderita Aktif di Sumut 2.025

Untuk Sumatera Utara (Sumut), perkembangan kasus Covid-19 hingga minggu ketiga November 2020, masih menunjukkan tren peningkatan angka terkonfirmasi positif. Meski demikian, peningkatan juga didapatkan pada angka kesembuhan, meninggal dunia, dan suspek.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Sumut, Mayor Kes Whiko Irawan SpB, menyebutkan berdasarkan data rekapitulasi mingguan yang dihimpun, akumulasi penderita positif Covid-19 sebanyak 14.411 orang (meningkat 550 orang). Dari jumlah 14.411 orang, sebanyak 11.804 orang merupakan penderita yang dinyatakan sembuh (meningkat 459 orang).

Sisanya, 578 orang adalah penderita Covid-19 meninggal dunia (meningkat 14 orang). Sedangkan penderita suspek kini jumlahnya 666 orang, dan spesimen tes swab PCR 167.564 sampel (meningkat 11.905 sampel).

“Jumlah penderita aktif Covid-19 di Sumut, saat ini 2.025 orang. Dari jumlah tersebut, sekira 1.510 orang melakukan isolasi mandiri dan 515 orang isolasi di rumah sakit. Untuk itu, kita doakan semoga penderita aktif ini dapat segera diberikan kesembuhan,” kata Whiko dalam keterangan pers secara virtual melalui Youtube, Senin (16/11) sore.

Terkait angka kesembuhan, lanjut Whiko, sampai 15 November terdata sebesar 81,84% (11.698 orang). Persentase angka kesembuhan tersebut meningkat 0,06 poin dibandingkan minggu sebelumnya 81,78%. Akan tetapi, angka kesembuhan ini sedikit lebih rendah dibandingkan tingkat nasional yaitu 83,92%. “Untuk angka kematian, diperoleh sebesar 4,04% atau menurun 0,06 poin dibandingkan minggu sebelumnya 4,10%,” ujarnya.

Menurut Whiko, perkembangan Covid-19 yang begitu dinamis dan masih berlangsung hingga saat ini, tetap membutuhkan kewaspadaan dan konsistensi masyarakat luas untuk melaksanakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sebagaimana semboyan 3M yaitu menggunakan masker, mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer, serta menjaga jarak dan hindari kerumunan, harus diterapkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

“Tidak menutup kemungkinan akan terjadi lonjakan kembali angka penderita Covid-19 bila protokol kesehatan diabaikan oleh masyarakat. Karena itu, penggunaan masker pelindung hidung dan mulut menjadi kewajiban seluruh lapisan masyarakat. Masker medis digunakan oleh petugas medis dan penderita Covid-19. Sdangkan masker kain 3 lapis dapat digunakan oleh masyarakat umum. Apapun alasannya penggunaan masker bahkan yang berbahan kain tetap jauh lebih baik dibandingkan tidak menggunakan masker sama sekali,” sebut Whiko.

Dikatakan dia, saat ini masyarakat dapat melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan aman. Asalkan, selalu mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Selain itu, tidak lupa berolahraga teratur, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi serta konsumsi vitamin. “Jadikanlah protokol kesehatan menjadi bagian dari kebutuhan hidup kita, agar supaya kita tetap sehat tanpa Covid-19,” ucapnya.

Whiko menambahkan, dalam penanggulangan Covid-19 di Sumut, pihaknya mengharapkan peran serta dari tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama. Peran tersebut untuk mengajak warga menerapkan protokol kesehatan pencegahan covid 19 di lingkungan wilayah tempat tinggalnya masing-masing.

“Ajakan dan contoh dari para tokoh ini memiliki potensi besar untuk diikuti serta dipatuhi oleh warganya, sehingga rantai penularan Covid-19 dapat diputus minimal di lingkungan tempat tinggalnya sendiri,” pungkasnya. (map/ris)

loading...