Susun Cerita Fantasi: Manfaat Pakai Masker

Pendidikan

KISARAN, SUMUTPOS.CO – Pembelajaran Jarak Jauh di tengah pandemi, membuat guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Kisaran, Sumatera Utara, memikirkan teknik pembelajaran yang inovatif dan kreatif, yang mudah dipahami peserta didik. Salahsatu metode yang dipilihnya adalah: meminta murid menyusun cerita fantasi dengan tema kekinian: manfaat memakai masker!

KARYA SISWA: Siswa (kiri) menunjukkan hasil karya dalam Pembelajaran Jarak Jauh di tengah pandemi di SMP Negeri 3 Kisaran, Sumatera Utara,

“Susun teks cerita fantasi itu saya berikan pada peserta didik di kelas VII-1 SMP, dengan merancang soal imajinasi. Saya buat soal berbentuk kartu fantasi berjumlah 4 buah. Yaitu kartu fantasi 1, kartu fantasi 2, kartu fantasi 3, dan kartu fantasi 4. Setiap kartu saya tempelkan gambar yang merupakan satu rangkaian. Tema cerita saya sesuaikan dengan pandemi sekarang, yaitu manfaat memakai masker,” kata Isnaini, guru Bahasa Indonesia di SMPN 3 Kisaran, kepada Sumut Pos, kemarin.


Kartu pertama, ia menempelkan enam gambar siswa SMP yang menggunakan masker dan tidak menggunakan masker. Kartu kedua, gambar lubang dan dua anak yang tidak memakai masker jatuh ke lubang. Kartu ketiga, gambar lubang dan anak yang tidak memakai masker serta gambar virus corona. Selanjutnya kartu keempat, gambar enam siswa semua menggunakan masker.

“Dengan rangkaian gambar di keempat kartu fantasi itu, saya berharap dapat membantu peserta didik mengembangkan imajinasi dan daya khayalnya,” tutur guru yang juga salahsatu fasilitator daerah komunikasi Asahan Program Pintar Tanoto Foundation ini, menjelaskan metodenya.

Ia memahami kesulitan peserta didik menuangkan gagasan atau ide berfantasi dalam tulisan, jika tidak dirangsang melalui gambar. “Dari 4 kartu fantasi, saya berharap muncul beragam cerita fantasi sesuai daya imajinasi masing-masing anak,” katanya.

Menurutnya, proses itu adalah pembelajaran aktif dengan unsur MIKIR, yaitu mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi.

Untuk mengondisikan peserta didik, seperti biasa selama PJJ di masa pandemi Covid-19, Isnaini mengirimkan rekaman suara atau voice note yang isinya menyapa peserta didik, mengingatkan tetap berdoa sebelum memulai kegiatan, memotivasi agar tetap semangat dan mengikuti protokol kesehatan, menanyakan dan menyampaikan pembelajaran sebelumnya. Semua menggunakan aplikasi WhatsApp.

Selanjutnya, ia meminta peserta didik mengamati contoh teks cerita fantasi yang ada di buku paket. Disusul tanya jawab tentang struktur cerita fantasi.

Pembelajaran berlanjut dengan mendiskusikan langkah-langkah menyusun cerita fantasi.

“Kemudian, perwakilan siswa mengirim rekaman suara yang mempresentasikan langkah-langkah menyusun teks cerita fantasi,” jelasnya.

Setelah peserta didik memahami langkah-langkah menyusun teks cerita fantasi, Isnanini mengirim kartu fantasi yang sudah ia siapkan. Anak-anak diminta menyusun cerita fantasinya berdasarkan kartu tersebut.

“Menyusun cerita fantasi saya beri waktu selama tiga hari. Mereka menulisnya di kertas folio atau hvs, kemudian dijadikan buku cerita. Alhamdulillah, sesuai harapan saya, para peserta didik lebih mudah memahami alur cerita, karena dibantu dengan rangkaian gambar. Hal ini terlihat dari jawaban mereka ketika saya beri refleksi,” kata guru peserta pelatihan Pengembangan Budaya Baca Tanoto Foundation ini dengan nada gembira.

Hasil refleksi seluruh proses PJJ dengan kartu fantasi tersebut, Isnani melihat, agar PJJ lebih mudah dan menyenangkan, guru harus lebih kreatif merancang media pembelajaran, model pembelajaran, serta merancang soal.

“Di tengah pandemi yang mengharuskan kita smeua menjaga jarak, soal imajinasi berbentuk kartu fantasi menurut saya, adalah solusi tepat untuk materi ajar menyusun teks cerita fantasi. Gambar yang sama menghasilkan imajinasi dan fantasi yang beraneka ragam,” tutupnya. (mea/azw)

loading...