Debat Publik Pilkada Medan Sesi 2, Bobby dan Akhyar ‘Saling Serang’

Politik

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dua pasangan calon Pilkada Kota Medan, Akhyar Nasution-Salman Alfarisi dan Bobby Afif Nasution-Aulia Rachman ‘saling serang’ dalam debat putaran kedua yang digelar KPU Medan di Hotel Grand Mercure Medan, Sabtu (21/11) malam. Bobby-Aulia mencecar Akhyar-Salman soal program Medan Clean Track,

DEBAT: Paslon Akhyar-Salman dan Bobby-Aulia tampil saat debat yang digelar KPU Medan di Hotel Grand Mercure Medan, Sabtu (21/11).markus/sumut pos.
DEBAT: Paslon Akhyar-Salman dan Bobby-Aulia tampil saat debat yang digelar KPU Medan di Hotel Grand Mercure Medan, Sabtu (21/11).markus/sumut pos.

Sebaliknya, Akhyar-Salman pun menyentil Bobby-Aulia soal anggaran Rp30 triliun.


Dalam satu sesi, Bobby menanyakan progres dari program Medan Clean Track yang sempat dibuat Pemkot Medan, namun akhirnya dicabut. Ia mempertanyakan ke Akhyar sebagai Plt Wali Kota Medan mengapa program tersebut tidak dilanjutkan?

Diketahui, Medan Clean Track merupakan program pelacakan truk sampah yang dapat mengetahui keberadaannya secara real time. Selain itu, mampu mengecek rute perjalanan armada untuk memastikan truk sampah membawa sampah-sampah hingga ke tempat pembuangan akhir (TPA). Sehingga mencegah penumpukan sampah di jalanan Kota Medan.

Setidaknya, terhitung tiga kali Bobby menanyakan soal Medan Clean Track kepada Akhyar-Salman dalam sesi tanya jawab antarpaslon. Namun, tak ada satu pun jawaban dari mulut paslon 1 yang menjawab pertanyaan Bobby.

“Ini sudah 3 kali saya tanya Medan Clean Track tapi belum juga dijelaskan, saya jadi penasaran kenapa belum dijelaskan atau kenapa tidak dijelaskan. Medan Clean Track yang ada hari ini hanya umur berapa bulan dan langsung dicabut. Mohon penjelasannya,” tegas Bobby kepada pasangan Akhyar-Salman.

Bahkan, calon Wakil Wali Kota Medan Aulia Rachman, ikut mengingatkan kembali agar pertanyaan soal Medan Clean Track dijawab. “Medan Clean Track juga belum, tolong dijawab pak,” ucap Aulia.

Namun, dalam tiap momen Bobby-Aulia menanyakan persoalan itu, Akhyar kerap menjawab isu lain. Akhyar lebih banyak menjawab pertanyaan soal bansos untuk warga Medan yang meninggal, penjelasan rinci soal flying garden, dan penggajian tenaga kesehatan RS Pirngadi yang terlambat.

Di sisi lain, calon Wali Kota Medan nomor urut 1, Akhyar Nasution juga memberikan pernyataan tajam kepada Bobby Nasution terkait anggaran Rp30 triliun yang pernah disebutkan Bobby telah diserap oleh Pemko Medan. “Saudara ada mengatakan, bahwasanya ada anggaran Rp30 triliun di Kota Medan. Kami nggak tahu, mohon penjelasan angka Rp30 triliun itu dari mana?” tanya Akhyar.

Menjawab itu, Bobby mengatakan, Rp30 triliun itu berasal dari APBD Medan selama 5 tahun terakhir. “Saya juga ikut bingung kalau Uda (paman) nggak tahu dari mana Rp30 triliun. Yang saya tahu, 1 tahun kurang-lebih Medan punya anggaran lebih dari Rp6 triliun dan masa jabatan 5 tahun. Jadi pembangunan dalam satu periode berarti anggaran kurang-lebih Rp30 triliun, harusnya ada progres,” ungkap Bobby.

Dia mengatakan, masyarakat tidak tahu ke mana anggaran selama ini. Bobby berjanji membuat transparansi anggaran di Medan. “Kalau pemimpinnya saja tidak tahu, bagaimana masyarakat?” ucapnya.

Akhyar kemudian menepis penjelasan Bobby itu. Dia pun memaparkan, penggunaan anggaran selama 4 tahun terakhir. “Sayang sekali, informasi tersebut datanya perlu dikoreksi. Tahun 2016, realisasi APBD Medan sekitar Rp4,3 triliun. Tahun 2017, realisasi APBD Medan sekitar Rp4,4 triliun, 2018 sekitar Rp4,25 triliun, 2019 sekitar Rp5,05 triliun. Jadi masih 4 tahun anggaran itu hanya sekitar Rp18 triliun,” jelas Akhyar yang merupakan Wakil Wali Kota Medan petahana.

Dia juga mengklaim Medan sudah transparan. Dia mengatakan pemimpin harus bekerja dengan data. “Jadi ini Medan transparan ada, tinggal buka website ada, tercantum. Jadi data yang tidak benar harus diperbaiki, pemimpin harus sampaikan data benar. Jangan berdasar perkiraan. By data, pemimpin harus bekerja dengan data,” ucapnya.

Akhyar pun menyentil Bobby dengan mengatakan, bahwa sebagai seorang pemimpin sudah seharusnya mampu menyampaikan informasi berdasarkan data yang valid dan benar, bukannya justru menyampaikan informasi yang tidak valid kebenarannya. “Jadi bapak/ibu, data-data yang keliru itu harus di luruskan. Sebagai pemimpin, harus menyampaikan hal yang benar,” pungkasnya.

Menanggapi debat putaran kedua tersebut, pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Warjio mengatakan, jika debat publik kedua yang berlangsung pada Sabtu (21/11) malam yang lalu berlangsung lebih baik dan berkualitas. Setidaknya, penilaian itu dikemukakan dengan membandingkan kualitas debat di putaran pertama. “Kedua paslon lebih lugas dalam menyampaikan visi misi nya dalam debat putaran kedua kemarin. Belum maksimal, tapi sudah lebih baik,” ucap Warjio.

Kedua paslon, kata Warjio, juga sudah mulai lebih baik dalam memaparkan satu per satu persoalan yang ada di Kota Medan secara lebih jelas dengan contoh-contoh yang lebih konkrit. Bahkan, debat juga terasa lebih ‘panas’ dengan masing-masing ide yang lebih mengarah kepada peningkatan pelayanan masyarakat. “Seperti yang sudah pernah kita bahas, bahwa calon Incumbent menonjolkan pengalamannya, sedangkan calon penantang memberikan harapan baru yang lebih baik. Walau belum maksimal, tapi memang sudah lebih baik,” katanya.

Harapannya, untuk debat ketiga nanti, kedua palson dapat lebih memaksimalkan seluruh kelebihan yang dimilikinya dalam memimpin Kota Medan ke depan. “Karena fungsi utama dari debat itu sendiri adalah untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka memang harus memilih paslon yang terbaik, artinya mereka harus menggunakan hak pilihnya dan tidak memilih sebagai golput,” tandasnya. (map)

loading...