Kembangkan Usaha Kerajinan Lidi Lewat Teknologi

Ekonomi
KEMBANGKAN: Dosen Polmed mengembangkan usaha kerajinan lidi di Desa Tanjung Morawa-A, Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang, lewat penerapan teknologi tepat guna baru-baru ini.

DELISERDANG SUMUTPOS.CO- Usaha kerajinan lidi secara umum masih belum berkembang pesat. Padahal, usaha yang menghasilkan produksi kerajinan lidi tersebut masih dapat dikembangkan lagi salah satunya lewat penerapan teknologi.

Menurut Dosen Politeknik Negeri Medan (Polmed), Wiwinta Sutrisno ST MT, berdasarkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan terhadap pengrajin lidi di Desa Tanjung Morawa- A, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, baru-baru ini, jenis usaha kecil menengah (UKM) ini memiliki potensi pasar yang cukup lumayan karena produk yang dihasilkan bernilai jual tinggi. Produk kerajinan tersebut, seperti jam dinding, bingkai seni, tikar kayu, lampu aroma terapi, tempat pulpen, vas bunga dan lainnya.


“Usaha kerajinan ini mulai berdiri sejak 2016 sampai sekarang, dengan omset perbulannya hingga Rp10 jutaan. Namun, saat ini banyak tawaran yang datang untuk meminta pembuatan kerajinan ukir,” ungkap Wiwinta didampingi anggota tim pengabdian, Nisfan Bahri ST MT dan Abdul Rahman SE Ak MSi, Jumat (27/11).

Lanjut Wiwinta, permintaan kerajinan ukir itu merupakan peluang dan potensi pengembangan usaha. Akan tetapi, karena tidak memiliki peralatan sehingga permintaan tersebut ditolak. “Oleh karena itu, guna menangkap peluang dan potensi usaha tersebut maka dilakukan upaya sebagai solusi yaitu dengan penerapan teknologi tepat guna. Upaya ini dengan merancang dan membuat peralatan berupa Mesin CNC ukir yang dibutuhkan, serta sekaligus melatih bagaimana mengoperasionakannya,” terang dia.

Dikatakannya, Mesin CNC ukir ini sangat mudah digunakan untuk menghasilkan produk-produk unik, bahkan hampir tidak memerlukan kemampuan khusus di bidang permesinan. Namun demikian, perlu penambahan kreasi baru dan ragam jenis produk yang dihasilkan agar semakin menarik. “Dengan penerapan teknologi tepat guna, jumlah dan ragam kerajinan lidi yang dihasilkan bertambah. Di samping itu, pendapatan juga demikian karena sebelumnya penghasilan perbulan hingga Rp10 jutaan kini sampai Rp15 jutaan,” imbuhnya.

Abdul Rahman SE Ak MSi selaku anggota tim pengabdian menambahkan, pengrajin lidi juga perlu diberikan pelatihan membuat laporan keuangan. Sebab pencatatan atau pembukuan masih sederhana. “Pembukuan belum dilanjutkan ke proses siklus akuntansi berikutnya untuk menjadikan laporan keuangan. Untuk itu, perlu diberikan pelatihan guna membuat laporan keuangan,” ujarnya. (ris/ram)

loading...