Segera Normalisasi Sungai

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Banjir bandang yang menerjang di Kota Medan dan sekitarnya sejak Jumat (4/12) dini hari lalu belum sepenuhnya surut. Pasalnya, hujan kembali mengguyur sejak Sabtu (5/12) malam hingga Minggu (6/12) dini hari. Sebanyak lima ruas sungai di kota Medan, yakni Sungai Sunggal, Deli, Sikambing, Babura, dan Denai, mengalami kenaikan Tinggi Muka Air Daerah Aliran Sungai (TMA-DAS) hingga 1,2 meter. Untuk mengatasi banjir, normalisasi sungai-sungai mesti direalisasi secepatnya.

KUNJUNGI: Gubernur Sumut Edy Rahmayadi didampingi Ketua TP PKK Sumut, Nawal Lubis saat mengunjungi posko pengungsian korban terdampak banjir di Arhanudse Tanjung Selamat, Sabtu (5/12).

LAPORAN diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, Kota Medan kembali diguyur hujan sejak Sabtu (5/12) sore pukul 16.00 WIB hingga malam. Akibatnya, debit air dalam jumlah cukup besar yang disebabkan oleh hujan di hulu, menyebabkan debit air lima sungai meningkat tajam.


“Status TMA-DAS Kota Medan pada Sabtu malam, DAS Sunggal naik sekitar 100 cm DAS Babura naik sekitar 100 cm, DAS Deli naik sekitar 110 cm, DAS Denai naik sekitar 120 cm dan DAS Sei Sikambing naik sekitar 100 cm,” ucap Sekretaris BPBD Medan, Nurli, kepada Sumut Pos, Minggu (6/12) pagi.

Sebanyak 10 Kecamatan dan 18 Kelurahan pun terkena dampak banjir akibat hujan yang terjadi. Adapun 10 Kecamatan yang dimaksud yakni di Kecamatan Medan Helvetia Kelurahan Tanjung Gusta warga terdampak sebanyak 1.504 KK dan 6.130 jiwa, dengan 692 rumah terendam banjir. Di Kelurahan Cinta Damai warga terdampak 1.011 KK dan 4.167 Jiwa, dan 381 rumah terendam.

Di Kecamatan Medan Petisah, Kelurahan Petisah Tengah sebanyak 139 Kkdan 695 jiwa serta 81 rumah terdampak.

Di Kecamatan Medan Polonia Kelurahan Polonia sebanyak 59 KK terdampak dan 295 jiwa terdampak banjir, dan 50 rumah terendam banjir.

Di Kecamatan Medan Baru, Kelurahan Padang Bulan sebanyak 50 KK dan 256 Jiwa serta 47 rumah terdampak. Di Kelurahan Titi Rante sebanyak 112 KK dan 525 jiwa dan 77 rumah terdampak.

Di Kecamatan Medan Selayang, Kelurahan Beringin sebanyak 80 KK dan 494 jiwa dengan 70 rumah terdampak.

Di Kecamatan Medan Labuhan, Kelurahan Besar sebanyak 250 KK dan 1.032 jiwa dan 70 rumah terdampak.

“Untuk 6 kecamatan yang disebutkan tadi, terakhir informasi yang kita dapatkan kondisi banjir sudah mengalami penurunan secara berkala. Sebagian warga sudah mulai kembali ke rumah masing-masing. Untuk kecamatan ke-7, yaitu Medan Tuntungan, khususnya di Kelurahan Tanjung Selamat, banjir berdampak pada 167 KK, 877 jiwa, dan 150 rumah. Tapi alhamdulillah, kondisi saat ini di sana banjirnya sudah mengalami penurunan total,” rincinya.

Ke-8, Kecamatan Medan Barat, Kelurahan Kesawan terdampak pada 73 KK, 377 jiwa dan 68 rumah. “Laporan terakhir, hingga Minggu pagi air masih menggenangi rumah warga dengan ketinggian ±60-85 cm, namun terus mengalami penyurutan,” kata Nurli.

Di kecamatan ke-9, yakni Medan Maimun, banjir berdampak pada 6 kelurahan, yakni Kelurahan Kampung Baru sebanyak 490 KK dan 1.790 jiwa, dengan 441 rumah. Di Kelurahan Hamdan berdampak pada 463 KK, 1.737 jiwa dan 417 rumah. Di Kelurahan Sei Mati, berdampak pada 830 KK, 2.490 jiwa, dan 747 rumah. Kemudian di Kelurahan Aur berdampak pada 644 KK, 1.946 Jiwa, dan 580 rumah. Di Kelurahan Sukaraja berdampak pada 143 KK, 732 jiwa, dan 129 rumah. Kemudian di Kelurahan Jati berdampak pada 10 KK, 33 Jiwa, dan 9 rumah.

“Pada 6 Kelurahan di Kecamatan Medan Maimun tersebut, hingga Minggu pagi, kondisi banjir masih menggenangi rumah warga dengan ketinggian air ±60 cm hingga 100 cm, dan terus mengalami penyurutan,” lanjut Nurli.

Khusus untuk Kecamatan ke-10, yakni Medan Johor yang dilintasi dua sungai yaitu Sungai Deli dan Sungai Babura, hingga Minggu dini hari debit air di Sungai Deli masih cukup tinggi. Banjir menggenangi wilayah beberapa kelurahannya, seperti Kel Gedung Johor berdampak pada 153 KK, 791 jiwa, dan 140 rumah.

“Kondisi terakhir di Minggu dini hari, banjir masih menggenangi rumah warga dengan ketinggian air sekitar 60-100 cm, dan terus mengalami penyurutan,” kata Nurli lagi.

Sementara itu untuk wilayah Kecamatan Medan Johor yang dilintasi Sungai Babura mengalami penurunan banjir. Air sudah tidak menggenangi wilayah kelurahan Kwala Bekala yang sempat berdampak pada 215 KK, 1.045 jiwa dan menggenangi 203 rumah. Kondisi banjir sudah mengalami penurunan. Dan sebagian warga sudah mulai kembali ke rumah masing-masing.

“Total yang terdampak banjir tersebut ada sebanyak 6.393 KK, 25.412 jiwa, dan 3.605 rumah, yang tersebar di 10 kecamatan dan 18 kelurahan di Kota Medan,” jelasnya.

BPBD Kota Medan beserta stakeholder terkait, yakni TNI/ Polri, PMI dan Relawan Kemanusiaan terus memantau di seputaran DAS hingga situasi aman dan terkendali di lokasi banjir sembari mencari 2 orang yang dinyatakan hilang.

“Pusdalops BPBD juga terus memantau dan melakukan pengecekan serta pendataan di lapangan untuk menginventarisir kerusakan sarana prasarana. Aparat gabungan juga bersama-sama mengatasi dampak akibat bencana,” tutupnya.

Normalisasi Sungai

Penanganan korban dan pembenahan menjadi fokus utama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam menyikapi bencana banjir yang melanda kawasan Medan, Binjai, dan Deliserdang atau Mebidang, selama 3 hari terakhir.

Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, mengatakan, akan segera melakukan normalisasi Sungai Belawan yang sekian lama mengalami pendangkalan. Kemudian, perlu adanya evaluasi terkait exact location (lokasi yang tepat) sungai, lantaran ada perbedaan yang ditemukan dalam peta dan kondisi sebenarnya.

“Kalau kita lihat di Google Maps, aliran sungai seharusnya melengkung. Namun, ada aliran yang tidak difungsikan, sehingga hanya bertumpu pada aliran Sungai Belawan. Tampungan debit air yang bertambah ini tidak dapat dibendung. Setiap dua tahun air naik ke perumahan, tetapi tidak sampai banjir seperti ini. Saya bersama BWS pusat dan Kementerian PUPR akan memastikan penyebab dan solusinya,” kata Edy didampingi Ketua TP PKK Sumut, Nawal Lubis, saat meninjau kembali ke pemukiman warga terdampak banjir di Perumahan De Flamboyan, Desa Tanjung Selamat, Deli Serdang, Sabtu (5/12).

Edy mengatakan, hujan di gunung menjadi pemicu naiknya debit air sungai-sungai Medan dan sekitarnya. Namun, menurut Edy selama bendungan berfungsi dengan baik dan kawasan DAS tidak diganggu, seharusnya tidak akan bermasalah.

“Untuk itu, ke depan ini menjadi evaluasi. Fokus kita bukan hanya perlu perbaikan tanggul sungai, tetapi juga mengembalikan fungsi sungai-sungai seperti sedia kala. Jangan dirusak dan diganggu, pastinya rakyat makmur,” pesan Edy.

Senada, Ketua DPRD Sumut Baskami Ginting mendesak BWSS II segera melakukan pengerukan beberapa DAS di kawasan Medan dan Deliserdang, sebab sudah puluhan tahun mengalami kedangkalan.

“Beberapa alur sungai di hilir kawasan Medan dan Deliserdang sudah mengalami pendangkalan bertahun-tahun. Itu yang mengakibatkan banjir menenggelamkan ratusan rumah Jumat dinihari kemarin,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (6/12).

Akibat pendangkalan itu, dia, air bah dari hulu sungai tidak mampu ditampung sungai-sungai yang berada di hilir. Akibatnya air meluap dan membanjiri permukiman warga.

“Kita minta BWSS II lebih serius menangani persoalan banjir di DAS di kawasan hilir Medan dan Deliserdang. Masalah pendangkalan sungai ini sudah kerap kita ingatkan ke BWSS II sesuai kewenangannya,” tegasnya.

Politisi PDIP itu mengatakan, masalah bencana banjir yang berulang terjadi, sudah sangat dikeluhkan masyarakat. Misalnya DAS Simalingkar memasuki wilayah Kota Medan dan Deliserdang, sering arus air dari Sungai Babura meluap banjir menerjang rumah-rumah penduduk. “Sungai Babura atau Sungai Sunggal di hilir, tidak mampu menampung air bah datang dari hulu, terutama pada saat hujan terus menerus,” katanya.

Dia mencontohkan Sungai Babura di kawasan Kwala Bekala hingga Kelurahan Beringin Kecamatan Medan Selayang saat ini , ketinggian tebing sungai sudah mendekati badan jalan umum. Tanggul tebing sungai juga sudah tergerus air, mengakibatkan terjadi pengikisan tebing sungai. Dampaknya, sungai bertambah dangkal akibat longsoran tanah tebing sungai.

“Kita juga minta BWSS II segera membangun semua tanggul-tanggul atau bronjong sungai, baik yang rusak maupun belum memiliki tanggul. Ini demi keselamatan masyarakat, tidak hanya yang tinggal dekat bantaran sungai, tapi juga yang berada jauh dari sungai,” katanya.

BWSS II juga diminta segera berkoordinasi dengan Pemko Medan, Pemkab Deliserdang dan Pemprovsu, karena wilayah yang terkena banjir secara administrasi berada pada dua pemda tersebut. Sementara untuk DAS, berada dalam pengawasan dan tanggungjawab BWSS II.

“Masing-masing pihak hendaknya mengesampingkan egosentris kedaerahan dan duduk bersama mencari solusi demi kepentingan masyarakat Sumut. Persoalan banjir ini tanggungjawab kita bersama. Harus ada terobosan yang luar biasa dilakukan. Kalau tidak, persoalan banjir ini tidak akan terselesaikan. Lakukan teknis pemetaan permasalahannya dan teknis pemecahan masalahnya,” pungkasnya.

Wakil Ketua DPRD Medan, H Ihwan Ritonga, juga mengatakan hal serupa. Meski kondisi banjir kali ini lebih didasari adanya hujan di hulu, ia tetap mengingatkan Pemko Medan —dalam hal ini Dinas PU Kota Medan— untuk tetap memperhatikan dan melakukan normalisasi terhadap drainase-drainase yang ada di Kota Medan, khususnya untuk wilayah yang memang sering mengalami kebanjiran.

“Terlepas dari apapun sebab banjir kemarin, Pemko Medan tetap harus fokus kepada normalisasi drainase, mengingat ini sudah masuk musim hujan. Intensitas hujan yang tinggi tentu akan berdampak bagi kemungkinan terjadinya banjir di Kota Medan, baiknya fungsi drainase setidaknya bisa meminimalisir terjadinya kemungkinan banjir di Kota Mesan akibat curah hujan yang tinggi,” pungkasnya.

Pembenahan Pasca Banjir Lancar

Saat meninjau kembali pemukiman warga terdampak banjir, Sabtu (5/12), di Perumahan De Flamboyan, Desa Tanjung Selamat, Deliserdang, Gubsu Edy Rahmayadi didampingi Ketua Tim Penggerak (TP) PKK, Nawal Edy Rahmayadi, menyempatkan diri menyapa para pengungsi di Arhanudse Tanjung Selamat. Mereka juga membagikan makanan dan menyampaikan rasa prihatin dan mengajak warga untuk tabah dalam menghadapi bencana banjir.

Gubernur Edy saat ditemui usai peninjauan menyampaikan, akan memastikan proses pembenahan dan evakuasi barang-barang milik warga pascabanjir, berjalan lancar.

Pembenahan khususnya akses dan fasilitas publik salahsatunya Jembatan Tuntungan yang terkikis Sungai Belawan agar segera dibenahi.

Tampak di lapangan tim gabungan TNI/Polri, BPBD Sumut dan relawan bahu-membahu membersihkan rumah-rumah warga dari tumpukan lumpur yang masuk ke dalam rumah. Selain itu, evakuasi lanjutan juga dilakukan terhadap kendaraan warga yang sebelumnya terbenam dan terbawa arus banjir.

Tidak hanya itu, alat berat juga dikerahkan untuk membersihkan jalanan dari lumpur dan pepohonan yang dibawa arus dan menghalangi jalan. Mobil dan sepeda motor berseliweran di antara warga yang ingin kembali ke rumah untuk membersihkan rumah, relawan pembawa bantuan, para sanak saudara yang ingin melihat kondisi keluarga masing-masing.

Plt Kepala BPBD Sumut, Riadil Akhir Lubis, menyampaikan, sejauh ini penanganan dan evakuasi berjalan lancar. Jumlah pengungsi di kawasan Binjai terdapat sekitar 3.300 orang lebih, kantor BPBD sekitar 700 orang, Tanjung Selamat 343 orang, Medan ada 3.000 orang lebih.

“Tapi sebagian ada yang sudah pulang. Kecukupan logistik di posko, dapur umum semua tersedia,” tutupnya.

Poldasu Dirikan 6 Posko

Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) juga melakukan turut terlibat dalam penanggulangan bencana banjir di Lingkungan X, Kelurahan Hamdan, Kecamatan Medan Maimun, sejak Sabtu (5/12) malam.

“Ada 6 titik tempat pengungsian yang didirikan Polda Sumut bersama Sat Brimob Polda Sumut. Posko menampung sedikitnya 462 KK pengungsi bencana banjir, di antaranya Gedung Bhayangkari Daerah Sumut, Jalan Letjend Suprapto, Sanggar Silaturrahmi Jalan Badur Atas, Eks Taman Lili Suryani Jalan Palang Merah, Samping Bakso Amat Jalan Juanda, Masjid Al Husnah (belakang Kantor Lurah Hamdan) Jalan Pacar dan Jalan Teratai Pasiran,” kata Kabid Humas Polda Sumut KBP Tatan Dirsan Atmaja SIK kepada, Minggu (6/12).

Tatan menjelaskan, halaman dan Aula Gedung Bhayangkari Polda Sumut Jalan Letjend Suprapto Kecamatan Medan Maimun telah digunakan sebagai tempat pengungsian sementara sekitar 70 KK warga Lingkungan X Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun. Disediakan satu tenda milik Brimob Polda Sumut dan 1 tenda dari BPBD Kota Medan.

“Untuk saat ini sementara waktu Kantor Bhayangkari menjadi tempat mengungsi sekitar 70 KK warga Medan Maimun. Selebihnya disebar di beberapa titik lokasi pengungsian yang sudah disediakan,” katanya.

Selain menyiapkan tempat pengungsian, terang Tatan, Polda Sumut juga menyiapkan persediaan air minum dan turut menyiagakan personel untuk berjaga di sekitar lokasi banjir. “Ini sebagai antisipasi manakala debit air semakin bertambah,” pungkasnya. (map/prn/mag-1)

loading...