Pelatihan Jurnalistik Unit Pemko Tebingtinggi, Wali Kota: Wartawan Harus Bertanggung jawab dengan Beritanya

Sumatera Utara

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Wali Kota Tebingtinggi  Umar Zunaidi Hasibuan dalam pembukaan kegiatan pelatihan Wartawan Unit Pemko Tebingtjnggi Tahun 2020 di Gedung Balai Kartini, menyatakan, bahwa Wartawan dalam membuat berita harus bisa mempertanggungjawabkannya.

BERSAMA: Wali Kota Tebingtinggi, Umar Zunaidi Hasibuan bersama narasumber dalam pelatihan jurnalistik Wartawan Unit Pemko Tebingtinggi.sopian/sumut pos.
BERSAMA: Wali Kota Tebingtinggi, Umar Zunaidi Hasibuan bersama narasumber dalam pelatihan jurnalistik Wartawan Unit Pemko Tebingtinggi.sopian/sumut pos.

“Berita yang ditulis Wartawan harus bisa dipertanggungjawabkan, dan berita itu jangan hoax seperti saat ini banyak muncul di media sosial,” jelas Umar dihadapan Wartawan Unit Pemko Tebingtinggi, Selasa (8/9).


Dijelaskan Umar Zunaidi, saat ini di Kota Tebingtinggi masih banyak mengaku wartawan dan memiliki kartu Pers tetapi belum lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Karena saat ini, pemerintah telah mengatur Undang Undang, bahwa wartawan yang bisa dilayani pemerintah adalah wartawan yang sudah jelas sertifikasinya.

“Mengapa harus kompetensi wartawan, karena wartawan harus bisa menggali tulisannya dengan baik sesuai dengan narasumber dan tulisannya bisa dipertanggungjawabkan. Bukan menyajikan berita yang mengandung unsur kebohongan,” bilang Umar Zunaidi Hasibuan.

Menurut Umar, saat ini banyak penyajian berita yang mengandung unsur hoax, terutama di Media Sosial (Medsos), karena berita yang ditampilkan hanya pendek, dalam pemberitaan itu, belum tentu ada kebenarannya, tetapi masyarakat sebagai pembaca masih banyak terprovokasi dengan berita hoax tersebut, sehingga bisa memancing kesatuan NKRI.

“Selain Medsos, ada juga media cetak, media eletronik dan media online, jadi biasanya berita yang disajikan itu tidak hoax. Tetapi, untuk Medsos, berita yang beredar banyak berita bohong, berbeda denga media cetak, elektronik dan online yang penyajian beritanya lengkap sehingga para pembaca paham betul dengan isi berita yang di bacanya,” bilang Umar Zunaidi.

“Jangan katakan sejujurnya, tapi katakan yang sebaiknya. Benar belum tentu itu baik, karena bisa memecah perpecahan antar suku, jangan dijadikan polemik. Konsep pers harus menjungjung nilai tinggi pada nilai kebangsaan, bukan kepentingan person dan mencari popularitas,” beber Umar.

Umar Zunaidi mengungkapkan, saat ini media cetak surat kabar mengalami masa sulit dikarenakan era digitalisasi. Para pembaca mulai pindah ke media eletronik dan online.

Di Sumatera Utara, sebelumnya pembaca surat kabar mencapai 24 ribu. Namun saat ini mengalami penurunan hingga mencapai 12 ribu pembaca saja, ditambah biaya cetak yang mengalami kenaikan di masa pandemi Covid-19.

Tampak hadir sebagai narasumber, Kadis Komimfo Teningtinggi Dedi P Siagian, Pengurus PWI Sumut, Muhammad Syahrir Dan Dekan Fisipol UMSU Medan, Doktor Arifin Saleh Siregar. (ian/han)

loading...