Masih Unggul versi Sirekap KPU, Bobby-Aulia Diharapkan Bawa Perubahan

Politik

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hasil Sistem Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara (sirekap) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan pada Jumat (11/12) pukul 13.09 WIB, jumlah suara Pilkada Kota Medan yang masuk masih 39,72 persen atau 1.709 dari 4.303 TPS yang ada. Pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan nomor urut 2, Bobby Nasution-Aulia Rachman masih tetap unggul dari rivalnya, paslon nomor urut 1, Akhyar Nasution-Salman Alfarisi.

PERUBAHAN: Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu, saat mencoblos di TPS Setiabudi, Rabu (9/12). Menurut pengamat, kemenangan Bobby-Aulia karena warga Medan mengharapkan perubahan.
PERUBAHAN: Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu, saat mencoblos di TPS Setiabudi, Rabu (9/12). Menurut pengamat, kemenangan Bobby-Aulia karena warga Medan mengharapkan perubahan.

Terpantau, Bobby-Aulia unggul sementara dengan raihan 52,5 persen atau total 151.464 suara. Sedangkan pasangan Akhyar – Salman masih tertinggal sementara dengan raihan 47,5 persen atau total 137.211 suara.


Menanggapi fenomena itu, pengamat politik Kota Medan, Dr Warjio mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat Bobby-Aulia memenangkan Pilkada Medan 2020. “Faktor harapan adalah yang paling utama. Bobby-Aulia diharapkan bisa memberikan perubahan bagi Kota Medan, setelah Kota Medan tidak mengalami perubahan yang signifikan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Termasuk di masa kepemimpinan Dzulmi Eldin dan Akhyar Nasution yang saat ini dipegang penuh oleh Akhyar,” kata Warjio kepada Sumut Pos, Jumat (11/12).

Dikatakan Warjio, banyaknya kesemrawutan di Kota Medan seperti jalan rusak, pelayanan kesehatan yang tidak memadai, dan hal lainnya membuat masyarakat Kota Medan pesimis dengan sosok calon petahana yang merupakan bagian dari pemerintahan sebelumnya.

“Lalu bergabungnya Prabowo ke pemerintahan Jokowi, membuat isu politik nasional tidak lagi menarik untuk dibawa ke Kota Medan,” tuturnya.

Terakhir, kehadiran Partai Gelora juga dinilai mampu mengganggu kesolidan di tubuh Partai PKS. PKS yang diharapkan menjadi mesin pemenangan yang paling berjalan untuk Akhyar-Salman, pada akhirnya tidak bisa berbuat banyak karena suara PKS sedikit terpecah oleh adanya Partai Gelora.

“Walaupun Partai Gelora itu belum mengikuti Pemilu dan tentu belum punya kursi di DPRD Medan, tapi partai itu bisa mengubah atau setidaknya membaca kekuatan PKS yang terkenal akan militansinya,” pungkasnya.

Masih Penghitungan Suara

Pascapencoblosan Pilkada Medan 2020 tanggal 9 Desember lalu, hingga kemarin KPU Kota Medan masih melakukan penghitungan suara di tingkat kecamatan.

“Mulai dari H+1 pencoblosan, yaitu mulai dari tanggal 10 hingga tanggal 14 Desember nanti, kita masih melakukan penghitungan di tingkat Kecamatan oleh para PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) di 21 Kecamatan di Kota Medan,” ucap anggota KPU Medan, Zefrizal SH MH kepada Sumut Pos, Jumat (11/12).

Dikatakan Zefrizal, saat ini pihaknya masih terus menunggu hasil rekapitulasi di tingkat kecamatan untuk dilanjutkan kepada rekapitulasi hasil suara di tingkat Kota Medan.

“Begitu pun saat ini, kita sudah terima beberapa hasil rekapitulasi melalui aplikasi sirekap yang bisa dilihat oleh masyarakat luas. Nantinya, kita akan melakukan rapat pleno usai menerima hasil rekapitulasi dari kecamatan,” ujarnya.

Zefrizal memastikan, setiap PPK melakukan protokol kesehatan Covid-19 saat menggelar penghitungan suara. Hal itu dilakukan guna mencegah terjadinya klaster Pilkada Kota Medan.

“Rekapitulasi di tingkat Kecamatan dilakukan dengan protokol kesehatan. Ada yang dilakukan di outdoor, ada juga yang dilakukan di indoor. Yang indoor dilakukan di ruangan berukuran cukup besar dan berventiliasi udara cukup, dan tetap menjaga jarak,” katanya.

Akhyar Rp1M,, Bobby Rp2,3M

Terkait anggaran yang dihabiskan masing-masing paslon dalam melaksanakan kampanye Pilkada Medan sejak 25 September hingga 5 Desember lalu, Komisioner Program, Data dan Informasi KPU Medan, Nana Miranti menjelaskan, kedua paslon telah menyerahkan Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kampanye (LPSDK) kepada KPU Medan.

“Paslon Akhyar-Salman (AMAN), tim AMAN melaporkan LPSDK mereka senilai Rp1.033.555.000. Hal itu didapatkan dari pribadi calon sebesar Rp257.800.000, perseorangan sebesar Rp677.755.000, dan dari badan hukum/swasta sebesar Rp100 juta,” kata Nana Miranti.

Sedangkan paslon nomor urut 2, Bobby – Aulia, tim melaporkan LPSDK senilai Rp2,3 miliar. Hal itu didapatkan dari diri pribadi calon sebesar Rp800 juta, dan dari partai politik (parpol)/gabungan parpol Rp1,5 miliar. “Untuk selengkapnya, dapat dilihat secara langsung di website resmi KPU Medan,” kata Nana.

Terpisah, Ketua Bawaslu Kota Medan, Payung Harahap mengatakan, jika sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan laporan pelanggaran kampanye usai proses kampanye berakhir.

“Adapun laporan-laporan yang kita terima yaitu saat pencoblosan saja, itupun dari WA saja. Rata-rata soal prokes. Secara keseluruhan, proses pencoblosan berjalan lancar,” katanya.

Di sisi lain, untuk laporan penyalahan atau pelanggaran, pihaknya hanya menerima laporan H+7 dari kejadian. Artinya, untuk pelanggaran kampanye, pihaknya menerima laporan hingga hari ini. Sebab masa kampanye berakhir pada 5 Desember 2020 yang lalu.

“Untuk yang sudah masuk, saya belum cek lagi, berapa yang sedang di proses. Karena saat ini, sebagian besar sudah ditutup karena tidak memenuhi unsur dan sebagian lagi ditangani oleh Gakkumdu,” tutupnya. (map)

loading...