Vaksin Covid-19 Harus Disuntik Dua Kali

Metropolis

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Vaksin Covid-19 untuk menyembuhkan infeksi virus corona SARS-CoV-2 harus disuntikkan dua kali agar efektif. Ahli penyakit menular dari UCLA Health, Amerika Serikat, Otto Yang menjelaskan alasan mengapa vaksin ini harus disuntikkan dua kali.

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto.
Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto.

Vaksin bekerja dengan memaparkan bagian kecil dari virus agar sistem imun bisa belajar mengenali sumber penyakit itu.


Dengan memberikan lebih dari satu dosis vaksin, berarti memperbesar kemungkinan sistem imun tubuh untuk mempelajari virus dan mencari cara menangkal infeksi berikutnya. Sebab, sistem imun perlu waktu lewat paparan yang lebih lama untuk mengetahui bagaimana cara efektif melawan virus. Vaksin membantu sistem imun lebih dulu memicu produksi antibodi spesifik, agar lebih siap ketika virus asli masuk.

Pemberian vaksin dua kali memberi kesempatan sistem imun tubuh untuk memproduksi lebih banyak antibodi. Mereka juga memberi tubuh pasokan sel memori yang kuat terhadal suatu virus. Agar tubuh memiliki ingatan yang cukup kuat dan lama terhadap virus tertentu setelah terpapar.

Sebab, sel memori tidak bertahan selamanya. Ia akan mati seiring waktu. Dengan pemberian vaksin dua kali, tubuh terpapar lebih banyak antigen. Sehingga, sistem imun membuat lebih banyak sel memori. Hal ini memicu respons antibodi yang lebih cepat dan lebih efektif di masa mendatang, seperti dilansir dari The Verge.

Hal senada diungkap Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI, Wien Kusharyoto.

Wien mengatakan vaksin corona perlu disuntikan dua kali karena suntikan pertama dilakukan untuk memicu respons kekebalan awal. Dilanjutkan suntikan kedua untuk menguatkan respons imun yang telah terbentuk.

“Suntikan pertama untuk memicu respons kekebalan awal terhadap vaksin yang diberikan. Suntikan kedua dapat meningkatkan kekuatan respons imun yang sebelumnya sudah terbentuk,” ujar Wien saat dihubungi, Kamis (10/9).

Dua dosis vaksin dinilai sebagai dosis yang wajar. Sejumlah vaksin seperti cacar air, hepatitis A, herpes zoster (cacar ular) juga memerlukan dua dosis vaksin untuk mencegah penyakit tersebut. Beberapa vaksin bahkan membutuhkan dosis lebih banyak seperti vaksin DTaP untuk difteri, tetanus, dan pertusis.

Belum Diketahui Kapan Masuk ke Medan

Vaksin Covid-19 sudah hadir ke tanah air. Namun belum diketahui kapan akan masuk ke Kota Medan.

“Soal vaksin kita belum tahu kapan. Memang sudah masuk ke Indonesia, tapi kapan masuk ke Medan kita belum dapat informasi,” ucap Wakil Sekretaris Satgas Covid-19 Kota Medan, Arjuna Sembiring, kepada Sumut Pos, Jumat (11/12).

Selain belum tahu kapan, pihaknya juga mendapat informasi kuota vaksin yang akan masuk, dan apa mereknya. “Termasuk kepada siapa penggunaan vaksin tersebut akan diprioritaskan dalam tahap awal,” ujarnya.

Pemko Medan sendiri belum mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat soal jumlah vaksin yang dibutuhkan. “Mungkin teknisnya nanti Dinas Kesehatan. Yang pasti kita akan kita minta agar vaksin itu bisa tepat sasaran, setidaknya untuk tahap awal ini,” katanya.

Sembari menunggu vaksin datang, Pemko Medan melakukan sosialisasi pentingnya vaksinasi untuk pencegahan penyebaran Covid-19. “Kita meminta masyarakat agar tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona. Walaupun nanti vaksinnya sudah tersedia, masyarakat diimbau tetap ketat menjaga protokol kesehatan, hingga pandemi berakhir,” tandasnya.

Anggota Pansus Covid-19 DPRD Medan, Afif Abdillah meminta kepada Pemko Medan untuk tetap menjalankan pengawasan jalannya protokol kesehatan secara ketat di Kota Medan. Pasalnya saat ini, pengawasan yang dilakukan terlihat semakin kendur.

“Jangan makin kendur. Menunggu vaksin datang, pengawasan harus semakin ketat dan intens. Pemko jangan hanya meminta masyarakat agar patuh kepada prokes, tetapi juga harus mengawasi jalannya proses,” tegas Afif.

Pengawasan ketat dapat mencegah buruknya mindset warga Kota Medan, saat mendengar kabar vaksin telah hadir. “Mindset masyarakat saat ini, sudah ada vaksin berarti sudah aman. Apalagi pengawasan tidak seketat dulu lagi. Ini yang perlu diubah. Mindset masyarakat harus dibentuk bahwa vaksin hanya bersifat membantu. Sedangkan yang betul-betul berpengaruh besar dalam memutus mata rantai virus adalah perilaku masyarakat yang disiplin menerapkan prokes,” terangnya.

Terakhir, Afif meminta Pemko Medan dalam hal ini Dinas Kesehatan untuk terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, tentang kapan dan berapa banyak vaksin yang akan masuk ke Kota Medan.

“Termasuk soal siapa saja yang akan diprioritaskan untuk mendapatkan vaksin itu. Kita mau Pemko Medan tidak pasif dan hanya menunggu. Koordinasi harus terus dilakukan. Lalu, masyarakat diberi edukasi agar tidak takut divaksinasi. Sebab semua sudah diuji secara klinis. Vaksin akan membantu kita mengakhiri pandemi ini,” pungkasnya.

Subsidi 32 Juta Orang

Terpisah, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan pemerintah akan melakukan vaksinasi virus corona (Covid-19) terhadap 107 juta orang penduduk. Menurutnya, angka tersebut diperoleh berdasarkan perhitungan 67 persen dari 160 juta orang penduduk yang berada di rentang usia 18-59 tahun.

Vaksinasi akan dilakukan lewat dua program, yaitu subsidi pemerintah terhadap 32 juta orang, serta mandiri atau membayar sendiri untuk 75 juta orang.

“Program vaksinasi Covid-19 sebanyak 107 juta orang. Di mana 75 juta orang pada skema mandiri dan 32 juta orang skema program pemerintah,” kata Terawan dalam rapat kerja dengan komisi IX DPR pada Kamis (10/12), sebagaimana dikutip dari akun Youtube, DPR RI, Jumat (11/12).

Terawan membeberkan alasan pemerintah memberikan vaksin Covid-19 pada penduduk berusia 18 sampai 59 tahun ialah karena uji klinis vaksin Covid-19 baru dilakukan pada penduduk usia tersebut.

Menurutnya, semua negara masih meraba-raba terkait perkembangan vaksin Covid-19 dan belum ada satupun vaksin Covid-19 di dunia yang mendapat izin edar. “Selama belum ada yang fix [pasti], belum punya izin edar, ya kami meraba-raba, semua meraba-raba karena izin edar belum ada, yang ada baru EUA, itu pun baru satu dari Inggris,” katanya.

Di sisi lain, Terawan mengatakan pemerintah telah membayar uang muka pembelian vaksin Covid-19 asal China sebesar Rp537 miliar. Uang muka tersebut dibayarkan melalui PT Bio Farma (Persero).

Menurutnya, pemerintah akan kembali membayar kekurangan pembelian vaksin Covid-19 itu sehingga total menjadi Rp638 miliar. “Government (pemerintah) membeli melalui BUMN, melalui Bio Farma,” katanya.

Bio Farma memperkirakan program vaksinasi virus corona dari perusahaan asal China, Sinovac, bakal mulai dilakukan pada Februari 2021. Kendati demikian, vaksinasi hanya bisa dilakukan bila vaksin Sinovac telah mengantongi emergency use authorization(EUA) alias izin penggunaan darurat dari otoritas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (map/cnn)

loading...