Hari ini, Vaksin Covid-19 Tiba di Kualanamu, Sumut Dapat Jatah 40 Ribu Dosis

Sumatera Utara

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kabar gembira bagi masyarakat Sumatera Utara. Sekitar 40 ribu dosis vaksin Covid-19 buatan Sinovac (Tiongkok) dikabarkan akan tiba di Sumatera Utara hari ini, Selasa (5/1). Selanjutnya, vaksin tersebut akan disimpan sebelum didistribusikan.

Pengawalan Ketat Vaksin Covid-19 produksi Sinovac tiba di Surabaya, Jawa Timur, dengan pengawalan ketat aparat Kepolisian, Senin (4/1).
Pengawalan Ketat Vaksin Covid-19 produksi Sinovac tiba di Surabaya, Jawa Timur, dengan pengawalan ketat aparat Kepolisian, Senin (4/1).

KABAR vaksin Covid-19 akan tiba di Sumut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Sumut, dr Alwi Mujahit Hasibuan. “Mungkin besok (hari ini, red) masuk ke Sumut, 40 ribu dosis,” kata Alwi ketika dihubungi wartawan, Senin (4/1).


Alwi mengatakan, vaksin tersebut dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Kualanamu sore ini. Dinkes Sumut akan menjemput vaksin itu dengan pengawalan dari Polda Sumut untuk selanjutnya dibawa ke kantor Dinas Kesehatan Sumut, Jalan HM Yamin Medan sebelum didistribusikan ke sejumlah kabupaten/kota.

Ia menjamin vaksin tersebut akan aman sampai ke Sumut karena mendapat pengawalan ketat dari personel Polda Sumut. “Vaksin bakal disimpan di tempat penyimpanan khusus, di gudang kita (Dinkes Sumut), kalau 40 ribu muat,” ujarnya.

Menurut Alwi, jumlah vaksin yang diterima Provinsi Sumut sudah ditentukan oleh pemerintah pusat. Begitu juga dengan masyarakat penerima vaksin, datanya diperoleh dari BPJS Kesehatan dan BPJamsostek. “Jadi, kita enggak ada mengajukan, ikut petunjuk dari sana (pemerintah pusat) saja. Misalnya, nakes (tenaga kesehatan) berapa diminta, itu kita majukan dan ini by system semua. Mereka dapat datanya dari BPJS, data tentang peserta JKN dan komorbidnya. Kemudian dari operator seluler, lalu data pekerja dari BPJS Tenaga Kerja (BPJamsostek). Data itu kemudian diolah oleh KPC PEN, dari situ kita di-SMS sama dia,” terangnya.

Dikatakan Alwi, masyarakat nantinya juga akan menerima SMS siapa saja yang akan divaksin. “Masyarakat yang di-SMS ini nanti membuka aplikasi PeduliLindungi. Nanti akan dapat jawaban, apakah termasuk yang akan mendapatkan vaksin atau tidak,” jelas dia.

Alwi menambahkan, saat ini ada 1.500 tenaga vaksinator di Sumut yang siap melakukan vaksinasi. Bahkan, Dinkes Sumut akan mengirimkan lagi nakes untuk mengikuti pelatihan vaksinasi tersebut. “Sudah ada 1.500 tenaga vaksinator, dan ini mau dilatih lagi karena sudah ada permintaan. Tapi, belun tahu berapa jatahnya,” cetusnya.

Terkait jadwal vaksinasi, Alwi belum bisa memastikan. Ia memperkirakan kemungkinan pada pertengahan bulan Januari. “Belum ada jadwal (vaksinasi), kemungkinan pertengahan bulan (Januari),” tandasnya.

Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi juga menyampaikan, Provinsi Sumut akan memperoleh kuota 40 ribu dosis vaksin Covid-19 buatan Sinovac. Rencana kedatangan vaksin tersebut masih dalam pembahasan Satgas Covid-19 Sumut. “Saya dengar 40 ribu yang akan ke Sumut,” katanya.

Ia menyebut sesuai Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) Nomor HK.01.07/Menkes/12757/2020 tentang Penetapan Sasaran Pelaksanaan Vaksin Covid-19 maka nantinya vaksin yang tiba akan diperuntukkan bagi tenaga kesehatan yang ada di Sumut. “Yang digunakan khususnya tenaga kesehatan,” ujarnya.

Terkait gudang tempat penyimpanan vaksin Sinovac yang akan masuk ke Sumut, sudah dipersiapkan oleh tim satgas. “Hari ini dirapatkan. Soal gudang lokasi penyimpanan silakan tanya kadis kesehatan,” ungkapnya.

Terpisah, Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kota Medan Mardohar Tambunan mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi dari pemerintah pusat ataupun provinsi. “Soal vaksin, kita masih belum mendapatkan info. Termasuk soal kapan, berapa banyak vaksin yang akan masuk dan vaksin merk apa saja yang akan masuk. Ini kita belum tahu,” katanya.

Namun yang pasti, pihaknya dapat memastikan jika orang-orang yang dinilai berpotensi memiliki kontak erat dengan para pasien Covid-19 akan menjadi prioritas utama mendapatkan vaksin. “Seperti para tenaga kesehatan, yaitu dokter, para perawat, petugas laboratorium dan tenaga kerja yang sehari-hari memang berada di RS dam fasilitas kesehatan lainnya,” tuturnya.

Disinggung soal sejumlah daerah, termasuk Riau yang akan mendapatkan vaksin dari pemerintah pusat, Mardohar mengatakan, hal itu sepenuhnya menjadi kewenangan dari pemerintah pusat. “Data dari setiap daerah kan setiap hari masuk ke pusat, termasuk kita di Medan. Tentu mereka yang lebih mengerti dalam memetakannya, kalau kita di daerah sifatnya menunggu dari pemerintah pusat,” jawabnya.

Intinya lanjut Mardohar, saat ini tidak ada lonjakan kasus secara signifikan di Kota Medan. Juru bicara Satgas Covid-19 Kota Medan ini menegaskan, saat ini perkembangan kasus Covid-19 di Kota Medan relatif aman dan terkendali.

Hal itu dapat terlihat dari banyaknya RS penerima pasien Covid-19 yang tidak lagi penuh. Saat ini, ada banyak ruang rawat isolasi pasien yang kosong di sejumlah RS. “Itu salah satu bukti kalau Kota Medan tidak separah wilayah lain yang saat ini RS-nya sudah penuh dengan pasien Covid. Di Kota Medan tidak, di Medan sudah banyak yang sembuh dan banyak ruangan kosong di RS saat ini,” tandasnya.

Sementara, anggota Komisi II DPRD Medan, Afif Abdillah meminta Pemko Medan dalam hal ini Satgas Covid-19 Kota Medan untuk berkoordinasi dengan pemerintah pusat soal kedatangan dan ketersediaan vaksin Covid-19 di Kota Medan. “Kalau Riau dan daerah lain sudah ada yang dapat, harusnya walaupun kita belum dapat, tapi setidaknya kita sudah tahu kapan vaksinnya akan di kirim. Koordinasi itu penting, saya fikir kita harus tanya kesana, jangan menunggu saja,” katanya.

Dikatakan anggota Pansus Covid-19 DPRD Medan ini, pihaknya turut mempertanyakan angka penyebaran Covid-19 yang setiap harinya di update oleh Satgas Covid-19 Medan. Sebab, ia menolak jika penyebaran kasus masih terkendali. “Saya dapat info dari salah satu RS, katanya angka kematian itu meningkat di Medan. Ini harus jadi perhatian bagi Pemko Medan,” pungkasnya.

Jangan Cuma Bergantung pada Vaksin

Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Universitas Andalas, Dr dr Andani Eka Putra mengimbau, program vaksinasi jangan dijadikan satu-satunya solusi mengatasi pandemi Covid. Sebab, virus corona dapat bermutasi.

Menurutnya, virus corona merupakan jenis virus RNA (ribonucleic acid). Virus jenis ini paling cepat bermutasi, sehingga pengembangan vaksinnya jadi sulit. Oleh karena itu, perlu diuji di laboratorium apakah memang cocok vaksin yang digunakan. “Makanya, ini perlu menjadi perhatian untuk pengembangan vaksin virus. Jadi, kalau virus bermutasi dengan cepat maka fungsi dari vaksin yang dikembangkan menjadi berkurang dan bahkan bisa hilang sama sekali,” ujarnya dalam siaran youtube Ngobrol Sehat Bersama Prof Delfitri Munir (guru besar USU), baru-baru ini.

Oleh sebab itu, kata Andani, sangat sulit mengembangkan vaksin jenis virus RNA. Contohnya, vaksin untuk jenis virus HIV tidak ada. Kemudian, vaksin jenis virus Hepatitis C juga tidak ada dan beberapa jenis virus RNA lainnya. “Dari situ, kita bisa mengkaji bahwa vaksin dari jenis virus RNA tidak terlalu berhasil, berkembang. Makanya, ini harus jadi pertimbangan. Jadi, jangan menggantungkan atau menopang ke vaksin dan ini hal penting. Sebab, kita seolah-olah vaksin itu menjadi ‘dewa’, vaksin segala-galanya,” ungkap dia.

Ia menilai, seharusnya menghadapi pandemi Covid-19 ini dengan tetap berpikir bagaimana dapat mengendalikan dan memutus rantai penyebaran. “Jangan berpikir seolah-olah hanya vaksin yang bisa menyelesaikan persoalan pandemi ini. Artinya, bagaimana menghadapi pandemi ini secara optimal dengan memperbanyak testing (peningkatan pengujian PCR test). Untuk edukasi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 tetap terus dilakukan, meski sulit mengubah kesadaran masyarakat karena masih ada saja yang kedapatan melanggar, misalnya tidak memakai masker saat keluar rumah,” papar Andani.

13 Daerah Laporkan 92 Kasus Baru

Berdasarkan update data dari Satgas Penanganan Covid-19 Sumut, tercatat 92 kasus baru konfirmasi positif dari 13 kabupaten/kota, Senin (4/1). “Akumulasi Covid-19 Sumut saat ini sudah mencapai 18.500 orang,” ungkap Juru Bicara Satgas Covid-19 Sumut, dr Aris Yudhariansyah.

Aris menjelaskan, penambahan terbanyak diperoleh dari Kota Medan dengan 57 kasus baru dan Deliserdang dengan 17 orang. Kemudian diikuti masing-masing 3 orang dari Langkat dan Asahan. Selanjutnya masing-masing 2 orang dari Pematang Siantar, Tapanuli Tengah dan Serdang Bedagai. Lalu masing-masing 1 orang dari Tanjung Balai, Tebing Tinggi, Sibolga, Padang Sidimpuan, Karo dan Dairi.

Sementara itu, untuk angka kesembuhan, Aris menyampaikan terjadi penambahan 88 orang dari 16 Kabupaten/Kota di Sumut. “Oleh karena itu akumulasinya saat ini sudah mencapai 15.753 orang,” jelasnya. Aris memaparkan, penambahan jumlah kesembuhan terbanyak didapatkan dari Kota Medan dengan 46 orang dan Deli Serdang 11 orang. Jumlah ini diikuti masing-masing 4 orang dari Langkat dan Dairi.

Selanjutnya masing-masing 3 orang dari Tanjung Balai, Tebing Tinggi, Toba dan Humbang Hasundutan. Lalu masing-masing 2 orang dari Binjai, Samosir dan Batu Bara. Serta terakhir masing-masing 1 orang dari Pematang Siantar, Sibolga, Karo, Simalungun dan Labuhan Batu Utara.

Sedangkan untuk angka kematian, tambah Aris, diperoleh penambahan 1 orang dari Kota Medan. Sehingga saat ini akumulasinya menjadi 684 orang. “Oleh karena itu, dari data tersebut diketahui bahwa jumlah penderita Covid-19 di Sumut saat ini ada sebanyak 2.063 orang,” tandasnya. (ris/prn/map)

loading...