Pengadaan Meja Rapat Ruang Pimpinan DPRD Medan Tak Sesuai Kualitas, Kabag Umum Mengaku Salah

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketidakpuasan serta protes dari unsur pimpinan DPRD Medan atas pengadaan meja rapat kecil di ruang kerja mereka langsung mendapatkan respon dari Sekretariat DPRD Medan, dalam hal ini Bagian Umum Sekretariat DPRD Medan.

MEJA: Pengadaan meja pertemuan di ruang pimpinan DPRD Medan yang tengah dipersoalkan.istimewa/sumu tpos.
MEJA: Pengadaan meja pertemuan di ruang pimpinan DPRD Medan yang tengah dipersoalkan.istimewa/sumu tpos.

Kepada Sumut Pos, Kepala Bagian Umum Sekretariat DPRD Medan, Andi Syukur Harahap mengakui jika pengadaan meja tersebut memang tidak sesuai dengan harapan para pimpinan DPRD Medan.


“Iya, kemarin kita sudah dapat komplain dari bapak-bapak pimpinan. Ya kita akui salah,” ucap Andi saat ditemui Sumut Pos di Ruang Kerjanya, Selasa (12/1).

Andi pun mengaku, dengan adanya komplain dari para pimpinan, pihaknya siap mengganti meja rapat kecil yang sudah terlanjur sampai di ruang tiga Wakil Ketua DPRD Medan itu, yakni H Ihwan Ritonga, H Rajuddin Sagala dan HT Bahrumsyah. “Segera kita ganti. Sebelum mengganti, nantinya kita akan minta spesifikasi yang betul-betul diinginkan para pimpinan, supaya tidak salah lagi,” ujarnya.

Sebelumnya, kata Andi, pihaknya memang telah berkoordinasi dengan ketiga Wakil Ketua DPRD Medan tersebut soal meja yang akan dikirim ke masing-masing ruangan Wakil Ketua DPRD.

“Tapi mungkin kita yang kurang paham atau mungkin masala selera, saya juga kurang tahu. Yang pasti nanti akan kita minta detail yang bapak-bapak pimpinan mau. Kalau pak Ketua (Hasyim), memang tidak kita sediakan lagi karena di dalam ruangannya sudah ada ruang rapat berikut meja dan kursinya,” katanya.

Menurut Andi, pengadaan meja rapat kecil itu sebelumnya telah mereka sesuaikan dengan ukuran besar ruangan para Wakil Ketua DPRD Medan tersebut. “Meja itu sebenarnya bukan digunakan untuk rapat saja, tetapi mungkin duduk bersama saat makan dan minum dengan tamu yang datang. Tapi karena ruangan para pimpinan juga tidak terlalu besar, maka kita siapkan meja yang ukurannya sedikit kecil, supaya muat,” jelasnya.

Mengenai kualitas meja yang diprotes unsur pimpinan DPRD, Andi menyebutkan jika pengadaan itu sudah sesuai dengan anggaran yang ada. Namun saat disinggung berapa anggarannya, Andi justru mengaku tidak tahu. “Itu PPK-nya yang lebih tahu, nanti saya tanya.

Lantas, bagaimana dengan meja-meja yang sudah terlanjur dibeli tersebut? Andi mengatakan akan memanfaatkannya untuk kepentingan para pegawai di DPRD Medan.

“Meja yang sudah dibeli kan gak bisa kita kembalikan lagi. Ya akan kita manfaatnya untuk hal yang lain, kita letakkan di ruang-ruang pegawai yang membutuhkannyan. Atau kalau nanti ada acara di gedung DPRD ini, meja-meja itu bisa kita manfaatkan sebagai meja rias,” tuturnya.

Selain persoalan meja, Andi juga menjawab soal keberadaan pot atau vas atau guci bunga berukuran besar di sejumlah sudut ruangan pada gedung DPRD Medan di Jalan Kapten Maulana Lubis No.1 Medan. Sebab sebelumnya, para pimpinan DPRD Medan sempat turut memprotes keberadaan pot bunga tersebut.

Terkait hal itu, Andi mengatakan bahwa guci tersebut merupakan produk UMKM. “Kita dapat arahan dari Pak Wali supaya membantu para pelaku UMKM. Bisa saja kita beli guci yang lebih bagus, tapi niatnya kan memang mau membantu UMKM kita,” jawabnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua DPRD Medan, H Ihwan Ritonga meminta pihak Sekretariat DPRD Medan untuk lebih serius dalam melakukan koordinasi dalam setiap pengadaan barang dan hal lainnya.

Ihwan juga meminta kepada bagian Umur DPRD Medan untuk betul-betul segera mengganti meja yang memiliki kualitas yang lebih baik.

“Kita minta itu segera diganti, jangan lagi asal-asal seperti itu,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, para pimpinan DPRD Medan ‘berang’ dengan pengadaan meja yang ada di ruang kerja mereka. Pasalnya, meja tersebut terbuat dari triplek mika, berukuran sangat sempit dan terkesan tidak berkualitas. Padahal, meja yang dimaksud diperuntukkan sebagai penunjang kerja para pimpinan DPRD Medan.

Dinilai Diskriditkan Warung Kopi

Wakil Ketua DPRD Medan, Ihwan Ritonga dinilai mendiskreditkan warung kopi. Pasalnya, Ihwan membandingkan kualitas meja kerja anggota dewan dengan meja di warung kopi, saat menyampaikan kekecewaannya terhadap proyek pengadaan meja kerja di kantor dewan.

“Seharusnya Ihwan Ritonga selaku pimpinan DPRD Medan tidak mengeluarkan stetment seperti itu, yang mendiskriditkan warung kopi. Apalagi perangkat warung kopi itu seperti meja dan kursi tidak semuanya murah. Bahkan ada yg sampai bernilai jutaan rupiah. Memangnya meja kerja anggota dewan itu harus seperti apa? Apa harus menyerupai singgasana raja atau terbuat dari emas?” ujar Ketua Umum DPP LSM Gertak, Hendra P Hutagalung kepada wartwan, Selasa (12/1).

Menurutnya, kalau memang pengadaannya sudah sesuai, untuk apalagi diributi. “Ini sampai pula membawa-bawa kualitasnya seperti di warung kopi. Perlu diingat, warung kopi itu kebanyakan adalah usaha rakyat kecil dan menengah. Mereka bahkan sampai berdarah-berdarah demi memulai usaha itu,” jelas Hendra.

Kemudian, sambung Hendra, apalagi di zaman pandemi begini, sebaiknya para anggota dewan sadar diri. Jangan lagi bermewah-mewah. Banyak masyarakat jadi korban PHK, usaha yang gulung tikar serta makan tak makan akibat pandemi. “Kalaulah Pak Ihwan berpikir sampai ke sana, mungkin itu lain cerita. Terus terang, kita juga gerah dengan kelakuan anggota dewan. Tapi masyarakat kecil mau bagaimana lagi,” cecar Hendra.

Jadi sebaiknya Ihwan Ritonga berpikir dulu sebelum mengeluarkan statement yang bisa menyakiti masyarakat banyak, terutama pemilik usaha UMKM. “Tidak hanya warung kopi saja tapi ke yang lain juga. Kita juga tau sama tau, kalau pejabat juga kongkownya di warung kopi, meski beda kelas. Tapi tetap saja namanya ngopi,” tandas Hendra.

Hal senada disampaikan Donna, owner Cafe Syahdan di Jalan Sentosa Baru. Ia keberatan dengan pernyataan Ihwan Ritonga tersebut. “Saya sebagai pemilik usaha warung kopi sangat merasa tersinggung dengan pernyataan anggota dewan itu. Bukan main, di tengah wabah pandemi di Indonesia, keuangan sulit, usaha banyak hancur tapi malah mau mendiskriditkan usaha kecil dan menengah.

“Wahai anggota dewan, maunya kalian itu meja kursi di kantor kalian itu bagaimana? Ingat itu belinya pakai uang rakyat. Sederhana saja lebih baik di masa sekarang ini. Kalau saya lihat gambarnya meja kursi untuk anggota dewan itu sudah bagus. Jadi mau bagaimana lagi bagusnya? Kami saja yang memulai usaha warung kopi pun terkadang harus meminjam ke bank dan kiri kanan. Ah, ada ada saja anggota dewan ini,” kata Donna. (map/adz/ila)

loading...