540 Mahasiswa Diculik, Pelajar Medan Kirim Doa

Internasional

Konflik Libya
MEDAN-Krisis Politik di sebagian negara yang berada di Timur Tengah dan Afrika Utara khusus di Mesir, Libya dan Yaman yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam menimbulkan empati umat muslim lain.
Berangkat dari rasa solidaritas, ratusan murid SD mulai kelas 4 hingga siswa-siswi SMP Yayasan Pendidikan Islamic Full Day Siti Hajar di Jalan Jamin Ginting KM 11 Payabundung Medan melakukan Salat Duha Berjama’ah serta doa bersama.

Salat dan doa ditujukan untuk perdamaian dan keselamatan kaum muslim di Timur Tengah dan Afrika Utara, khususnya Libya, Mesir dan Yaman.


Salat Duha Berjamaah dan dilakukan Pukul 10.00 WIB di Pondopo Sekolah, kemarin (2/3). Dipimpin kordinator kegiatan keagamaan di Yayasan Pendidikan Islamic Full Day Siti Hajar, M Ridwan Wahyudi, salat dan doa bersama berlangsung hikmat dan khusuk.

“Latunan ayat suci dipanjatkan kepada Allah SWT untuk memberikan keselamatan serta perdamai kepada umat Islam di Timur Tengah khususnya di Libya dan Mesir. Semoga doa ini dikabulkan,” ujar M Ridwan Wahyudi kepada wartawan.

Selain itu, doa dan salat berjamaah ini dilakukan untuk menumbukan ras solidaritas dan empati para siswa terhadap sesama umat Islam.

Dalam salat serta doa bersama, sejumlah siswa dan murid meneteskan air mata. “Saya mendoakan saudara-saudara sesama umat Islam di Timur Tengah, Bang,” kata M Wafili, murid kelas 5 SD sambil menyeka air matanya,
Saat ditanya apa sebenarnya yang terjadi pada kaum muslim di Timur Tengah. Wafili menjawab dengan keluguannya.  “Kalau melihat di tivi, negara-negara di Timur Tengah (dan Afrika Utara) lagi rusuh dengan pemimpin negaranya. Yang menjadi korban adalah umat Islam,” katanya polos.
Setelah melakukan salat dan doa bersama, para murid dan siswa kembali melajutkan aktivitas belajar-mengajar seperti biasa.

Sementara itu, di Libya, pasukan yang setia pada Muammar Kadhafi diberitakan telah menculik ratusan mahasiswa dan sejumlah warga negara Libya lainnya. Sebanyak 540 mahasiswa diculik dari asrama-asrama mereka di Kota Misrata. Sedangkan sejumlah warga Libya lainnya diculik dari Kota al-Zawiya. Menurut sumber-sumber terpercaya kepada media Iran berbahasa Arab, Al-Alam dan dilansir Press TV, kemarin, hingga kini tidak diketahui bagaimana nasib orang-orang yang diculik itu.
Organisasi HAM di Libya, Al-Raqib, mengutuk kekerasan dan pelanggaran HAM yang dilakukan rezim Libya. Organisasi HAM Libya itu juga mendesak rezim Khadafi untuk berhenti melakukan penculikan warga.

Perang saudara di Libya membuka pintu masuk bagi NATO di bawah komando Amerika Serikat untuk mengirimkan pasukannya ke Libya. Meski demikian, putra Kadhafi, Seif al-Islam Khadafi mengingatkan pasukan negara-negara barat untuk tidak melancarkan aksi militer terhadap Libya. Ditegaskan pria itu, negaranya siap mempertahankan diri dari intervensi asing. “Jika mereka menyerang kami, kami siap,” cetus Seif seperti diberitakan Sky News.
—-
Lebih dari seribu orang telah tewas akibat kekerasan yang dilakukan pasukan Khadafi terhadap para demonstran selama dua pekan terakhir.
Sentimen antipemerintah kian meningkat setelah pasukan pro-Khadafi menembaki para demonstran di Tripoli pada Senin, 28 Februari. Dua demonstran antipemerintah tewas dalam insiden tersebut. Bentrokan antara massa demonstran dan pasukan pro-Khadafi juga terjadi di Kota Misrata dan al-Zawiya. Sedikitnya dua demonstran tewas di Misrata akibat bentrokan tersebut.

Sementara itu, proses evakuasi ratusan warga negara Indonesia (WNI) dari Libya tidak berjalan mudah. Uang Dinar Libya yang dikantongi para WNI disita oleh otoritas setempat ketika melewati Bandara Tripoli. “Banyak yang membawa dinar dan dilarang. Ketika di airport digeledah. Kalau uang Libya, ya disita.  Bayangkan tenaga kerja kita yang penghasilannya tidak seberapa, karena mata uangnya Libya, kemudian disita,” kata Ketua Satgas Pemulangan WNI, Hassan Wirajuda usai mengikuti rapat tentang Keketuaan Indonesia di ASEAN di Kantor Wakil Presiden.
Ratusan WNI yang sementara ini ditampung ke Tunisia itu, juga cuma membawa pakaian yang melekat di badan. Mereka tidak bisa membawa benda-benda atau harta kekayaan dan terpaksa menitipkannya di Kedubes RI di Tripoli. Para WNI tersebut saat ini menginap di Kantor KBRI Tunisia dan rumah Dubes, serta para staf Kedubes.
“87 Orang menginap di rumah dubes bayangkan seperti apa, 40 orang menginap di kantor. Selebihnya wanita ditampung di rumah-rumah staf. Staf kita juga banyak,” tandasnya.(bbs/mag-7)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *