7,5 Juta Dosis Vaksin Siap Didistribusikan ke 34 Provinsi, Sebelum Divaksin, Lansia Wajib Kontrol ke Dokter

Nasional

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia sudah memasuki tahap II yang menyasar warga lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun dan pekerja publik. Vaksinasi tahap II ini ditargetkan menyasar 38.513.446 orang yang diharapkan rampung divaksinasi pada Mei 2021. Namun sebelum divaksin, lansia wajib memeriksakan diri ke dokter guna memastikan layak atau tidak menjalani vaksinasi.

Saat ini, sekitar 7,5 juta dosis vaksin siap didistribusikan ke 34 provinsi pada bulan ini. Vaksinasi tahap II ini masih difokus untuk wilayah provinsi Jawa-Bali. Dengan begitu, vaksin yang akan didistribusikan sesuai proporsi, Jawa-Bali mendapatkan kurang lebih 70 persen dari proporsi yang ada saat ini.


Dalam keterangan tertulis melalui Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi M Epid mengatakan, golongan masyarakat lanjut usia atau lansia 60 tahun ke atas menjadi salah satu kelompok prioritas pada program vaksinasi tahap kedua ini.

Menurut Siti Nadia, lansia didahulukan karena risiko kematian dan kesakitan akibat terinfeksi Covid-19 pada golongan umur tersebut meningkat 20 hingga 30 persen. “Sehingga kelompok lansia, jadi salah satu prioritas bersama dengan petugas pelayanan publik di tahap ini,” terangnya, Selasa (23/2).

Adapun untuk pendaftaran lansia, ada dua mekanisme. Pertama melalui website www.kemenkes.go.id, di bagian pengumuman bisa langsung melakukan pendaftaran. Untuk sasaran lansia akan ada informasi lebih lanjut dari Dinas Kesehatan maupun Puskesmas setempat mengenai jadwal vaksinasi.

Mekanisme kedua adalah, Kemenkes bekerja sama dengan instansi, organisasi keagamaan, dan organisasi masyarakat. “Pekan depan, sebagian wilayah sudah bisa mulai vaksinasi ini,” terangnya.

Meski demikian, terdapat prasyarat bagi lansia untuk bisa divaksinasi, terutama bagi lansia yang selama ini memiliki penyakit kronis. Lansia penderita sakit jantung, kelainan darah, dan penyakit ginjal, diharapkan kontrol dulu ke dokternya. “Pastikan dokter memberikan keterangan layak vaksinasi,” ujar Nadia.

Prasyarat kedua, lansia yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid seperti asma, hipertensi, gula darah, sebaiknya diobati terlebih dulu. “Ketika sudah terkontrol dengan baik, baru bisa divaksinasi,” kata Nadia.

Bambang Heriyanto, Juru Bicara Vaksinasi PT Bio Farma menilai, program vaksinasi yang sudah masuk tahap kedua tersebut merupakan perkembangan yang cukup baik dari pemerintah. Bio Farma akan terus mendukung program pemerintah dengan mendatangkan 25 juta dosis vaksin yang telah diproses. “Februari ini kita siap 7,5 juta dosis dan Bulan Maret kita persiapkan sekitar 11,4 juta, sehingga tidak ada kendala dari ketersediaan produk,” terangnya.

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) telah menerbitkan surat izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA) vaksin Sinovac bagi golongan lansia, yang sudah melewati kajian ilmiah. “Hasilnya terbukti baik sehingga Badan POM memberikan izin penggunaan darurat, termasuk kepada lansia. Jadi masyarakat jangan khawatir, ini aman digunakan untuk lansia,” tegas Bambang.

Makky Zamzami, Ketua Satgas NU Peduli Covid menyatakan, Nahdlatul Ulama (NU) juga sangat mendukung langkah vaksinasi lansia tersebut. Berdasarkan hasil survei dengan LSI pada 2017 diketahui ada sekitar 9 jutaan anggota NU yang lansia. “Kiai dengan usia di atas 60 tahun juga jumlahnya banyak dan sampai saat ini sudah terdata lebih dari 320 Kiai dan Ibu Nyai yang meninggal karena Covid-19. Dengan adanya vaksinasi lansia, maka strategi ini harus segera dilaksanakan, karena ini akan sangat membantu,” terangnya.

Menurutnya, NU sudah siap membantu sosialisasi vaksin, termasuk juga bisa mendampingi. “Usulan kami bisa saja ada one day care service. Dengan tujuan agar lansia yang divaksinasi bisa selesai dalam satu hari,” pungkas Makky.

83,1 Persen Nakes Sumut Sudah Divaksin

Hingga kini, tenaga kesehatan (Nakes) di Sumatera Utara (Sumut) terus menjalani vaksinasi Covid-19. Saat ini, capaiannya sudah 59.072 nakes atau 83,1 persen dari 71.058 sasaran vaksinasi dosis 1.

“Jumlah nakes yang terdata pada vaksinasi dosis 1 hingga saat ini, sudah 83,1 persen dari 71.058 nakes. Sedangkan 14.092 nakes tunda vaksin,” ujar Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Sumut, dr Aris Yudhariansyah, Selasa (23/2) sore.

Disebutkan Aris, dari 33 kabupaten/kota yang telah melaksanakan vaksinasi dosis 1, paling banyak adalah nakes di Medan 18.292 orang, Deliserdang 4.711 orang, Langkat 2.672 orang, Pematangsiantar 2.427 orang, dan Simalungun 2.263 orang. Sedangkan paling sedikit ialah Pakpak Bharat 374 orang dan Nias Barat 472 orang.

“Untuk jumlah nakes yang sudah disuntik vaksin dosis 2, jumlahnya terus bertambah dan kini 24.429 orang. Jumlah ini meliputi 23 kabupaten/kota, dengan jumlah terbanyak Medan 9.550 nakes, Deli Serdang 2.692 nakes, Pematangsiantar 1.492 nakes, Simalungun 1.463 nakes, dan Karo 1.232 nakes,” bebernya.

Lebih lanjut Aris menuturkan, terkait kasus baru positif Covid-19 di Sumut kembali melonjak. Kali ini, bertambah 139 orang dengan akumulasi 23.894 orang. “Kasus baru positif didapatkan dari 10 kabupaten/kota, dengan jumlah terbanyak Medan 79 orang, dan Deli Serdang 14 orang, dan Labuhanbatu Selatan 13 orang,” tuturnya.

Sementara kasus baru sembuh, sambung Aris, bertambah 107 orang yang juga dari 10 daerah dengan akumulasi 20.667 orang. Pasien Covid-19 sembuh paling banyak berasal dari Medan 46 orang dan Asahan 41 orang. Sedangkan pasien yang meninggal akibat Covid-19 bertambah 6 kasus baru, yang berasal dari Medan 3 orang, Karo 2 orang, dan Asahan 1 orang sehingga akumulasinya menjadi 819 orang.

“Dengan data penambahan kasus baru harian tersebut, penderita aktif Covid-19 Sumut saat ini berjumlah 2.408 orang. Dari jumlah tersebut, 615 orang isolasi di rumah sakit dan 1.793 orang isolasi mandiri,” pungkasnya. (bbs/ris)

loading...