Ada 3.419 Perlintasan KA Tanpa Palang, Ratusan Orang Jadi Korban Setiap Tahun

Nasional
FGD: Forum Grup Diskusi digelar di Hotel Borobudur, Jakarta untuk membahas korban yang terus berjatuhan di perlintasan tanpa palang yang ada di Indonesia.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Sekertaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Santoso menyebut angka kecelakaan yang melibatkan Kereta Api (KA) masih sangat tinggi. Sebagian besar di antaranya disebabkan oleh banyaknya lintasan sebidang.

“Dalam praktiknya banyak lintas sebidang selain itu lintasan sebidang titik rawan kemacetan tingginya frekuensi KA, lamanya waktu tunggu jalan raya, perlintasan sebidang titik rawan pelanggaran lalu lintas menerobos palang pintu KA,” ujar Djoko dalam FGD ‘Perlintasan Sebidang Tanggung Jawab Siapa?’ di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (6/9) kemarin.


Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkeretapian, pada 2018 ada sekitar 395 kecelakaan kereta yang disebabkan lintasan sebidang. Dari jumlah tersebut 245 orang mengalami luka ringan, berat hingga meninggal dunia.

“Tingkat kecelakaan yang terjadi tingkat sebidang, 2018 terjadi di lintas sebidang 395 kecelakan Korban Jiwa 245 orang luka ringan berat sampai meninggal dunia,” urai Djoko.

Menurut Djoko, tingginya angka kecelakaan tersebut karena masih banyaknya perlintasan sebidang yang tidak dijaga dan liar. Ini membuktikan penanganan perlintasan sebidang belum menjadi prioritas para pemangku kepentingan.

“Tingginya kecelakaan disebabkan penanganan yang belum menjadi prioritas bagi para pemangku kepentingan, masih banyak yang tidak dijaga, stakeholder perlintasan sebidang dan masyarakat,” ucapnya.

Karena itu, seluruh stekholder menurut Djoko, perlu bersama-sama untuk melakukan langkah-langkah kongkrit seperti menutup perlintasan sebidang. Di sisi lain, pemerintah baik pusat maupun daerah perlu untuk terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

“Untuk meningkatkan keselamatan jalur KA melakukan beberapa langkah penataan dan penutupan perlintsan sebidang sosialisasi ketiga kerja sama kepolisian dan pemda,” tandas Djoko.

Sementara, Direktur Utama KAI Edi Sukmoro mengaku sudah menutup 311 perlintasan sebidang tidak resmi selama 2018 hingga Juni 2019. Upaya itu dilakukan untuk mengurangi kecelakaan dan meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang.

Diakuinya, penutupan perlintasan sebidang tidak resmi kerap mendapat penolakan dari masyarakat. Karena itu, butuh solusi dan alternatif yang didukung serta dikerjasamakan banyak pihak.

“Dengan kerja sama dari banyak pihak, diharapkan keberadaan perlintasan sebidang bisa segera disolusikan melalui langkah nyata dari berbagai pihak terkait untuk keselamatan para pengendara dan perjalanan kereta api,” ujar Edi.

Salah satu upaya yang dilakukan KAI yakni dengan menggandeng Kepolisian, Dinas Perhubungan dan Pemerintah Daerah untuk melakukan sosialisasi dan operasi serentak di sejumlah perlintasan sebidang di Jawa dan Sumatera pada 12 September mendatang.

“KAI bersama instansi terkait akan turun ke lapangan untuk melakukan sosialisasi dan operasi serentak di sejumlah perlintasan sebidang di Jawa dan Sumatera,” jelas Edi.

Berdasarkan catatan KAI, terdapat sebanyak 1.223 perlintasan sebidang yang resmi (dijaga) dan 3.419 perlintasan sebidang yang liar (tidak dijaga/tanpa palang). Sedangkan perlintasan tidak sebidang baik berupa jalan layang (flyover) maupun underpass berjumlah sebanyak 349.

Adapun selama 2019, terjadi sebanyak 260 kali kecelakaan yang mengakibatkan 76 korban meninggal.(bbs/jpnn/ala)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *