Ajang Penyaluran Bakat dari Kita untuk Kita

Metropolis

Etnomusikologi Guitar Session

Dengan kerjasama dan kebersamaan, bukan mustahil mewujudkan apa yang menjadi keinginan. Terlebih di tengah minimnya perhatian terhadap perkembangan seni.


Indra Juli, Medan

Hal itu yang kembali dibuktikan mahasiswa Departemen Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang bernaung dalam Ikatan Mahasiswa Etnomusikologi (IME) dalam “Etnomusikologi Guitar Session” di Alun-Alun Etnomusikologi Jalan Perpustakaan Kampus USU, Jumat (27/5). Dengan semangat gotong-royong, mereka menciptakan wadah penyaluran minat dan bakat khususnya instrumen gitar, baik akustik maupun elektrik.

“Kegiatan ini bisa digelar karena dukungan dari kawan-kawan karena kita pengisi acara dikutip Rp120 ribu per orang. Meskipun tidak semua yang bayar penuh dan memang tidak kita paksakan. Kekurangannya kita tutupi dari list sumbangan dari mahasiswa dan dosen. Jadi istilahnya dari kita untuk kita. Karena untuk wadah penyaluran minat dan bakat, tidak perlu mengajukan proposal lah,” ucap Ketua IME, Winka di sela-sela kegiatan.

Dengan sejumlah dana yang dikumpulkan, mereka pun menghadirkan pentas di Alun-Alun Etnomusikologi yang memang mendukung untuk pegelaran musik mini seperti sore itu. Termasuk satu unit alat band didukung sound system yang memadai sumbangan dari El Condor Pasa, kelompok musik bentukan alumnus. Sementara kain hitam polos dipasang di sisi lorong sebagai latar. Cukup memberikan visual yang baik bagi penonton yang duduk lesehan beralaskan tikar dan di bangku berjejer.

Namun kesederhanaan tadi tidak mengurangi penampilan 10 gitaris yang ada. Mengusung berbagai aliran bahkan beberapa memberanikan diri untuk menampilkan karya ciptaan, mereka tidak hanya mendapat aplaus juga menarik perhatian masyarakat. Tidak sedikit yang sampai menghentikan kendaraannya hanya untuk menyaksikan penampilan gitaris-gitaris muda ini. Untuk memaksimalkan penampilannya, masing-masing gitaris membawa audiensi sebagai pendamping.

Diawali oleh Giat, angkatan 2009 yang membawakan irama rock dengan Surrander Under dan lagu ciptaan. Dilanjutkan Ronny dari angkatan 2010 dengan satu hits dari album Joe Satriani. Kembali irama rock dibawakan Matias juga angkatan 2010 dengan judul Canon dan First Love berlanjut Martin yang angkatan 2009 dengan judul Sweet Well dan satu lagu ciptaan. Masih dari angkatan 2009 Septian membawakan Eratomania dari Home Teater dengan baik.

Herman dari angkatan 2009 memberi warna berbeda yaitu blues style saat membawakan hits dari album BB King. Dilanjutkan dengan Kris Randi Mastio Siregar angkatan 2009 yang membawakan hits-hits KLA Project dengan gitar akustik. Sebagai satu-satunya pemain gitar akustik, Randi pun mendapat aplaus yang lebih. Kembali Hosea mencuri perhatian pengunjung lewat irama blues yang dibawakannya. Kegiatan pun ditutup dengan penampilan Hendra angkatan 2010 dan Winka angkatan 2007.

“Kita persiapan juga cuma satu bulan jadi masih banyak kekurangan. Salah satunya pemain gitar akustik yang sebenarnya ingin ditampilkan di sini. Mungkin juga ketiadaan alat membuat mereka tidak bisa berpartisipasi. Ini juga alat kita saling tukar. Ke depan kiranya kegiatan ini dapat berlanjut dan lebih baik lagi,” harap Winka yang mengagumi Jhon Petrucci ini.

Seperti yang disampaikan Winka, ke depan kegiatan akan dipadu dengan instrumen tradisional. Hal itu dilakukan untuk mendekatkan generasi muda dengan seni tradisional yang merupakan jati diri sebuah bangsa. Sebelumnya IME juga menggelar Saxophon Mini Konser yang menjadi cikal Komunitas Musik Tiup Medan. Ada juga “Musik Dadakan” yang menjadi ajang berekspresi musisi Kota Medan seperti Morbit, Sunset, dan banyak lagi. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *