Akrabi Kontroversi, Dikenang sebagai Petinju Terbesar

Metropolis

Muhammad Ali, Pengangkat Popularitas Tinju Profesional

Lebih dari tiga dekade Muhammad Ali melepaskan karir profesionalnya sebagai petinju. Pria yang memiliki nama lahir Cassius Marcellus Clay Jr itu kini sudah berusia 70 tahun. Meski demikian, kebesaran namanya di ring tinju dunia masih melegenda.


CLAY Jr, yang dilahirkan di Louisville, Ken tucky, Amerika Serikat (AS), 17 Janua ri 1942, meraih gelar juara dunia kelas berat kali pertama dengan cara mengesankan. Dia mengalahkan Sonny Liston dengan TKO pada ronde ketujuh dari 15 ronde di Florida, AS, 25 Februari 1964. Liston cedera leher sehingga meng undurkan diri dari pertandingan.

Saat merebut gelar juara dunia pertamanya itu Clay Jr berstatus underdog.

Liston adalah petinju yang ditakuti karena dikenal memiliki pukulan sangat keras sehingga lawannya bertumbangan di atas kanvas. Keberanian Clay Jr membuahkan hasil. Sebelum laga, dia sudah yakin akan menumbangkan Liston.

Clay Jr memiliki cara unik sebelum bertanding melawan Liston. Dalam sebuah kisah di biografinya disebutkan, dia mendatangi rumah tetangganya satu per satu. Dia ketuk pintu setiap rumah dan mengatakan bahwa dia segera menyandang status juara dunia sejati. Saat itu para tetangganya tentu saja heran. Clay Jr dianggap bercanda dan tidak waras.

Clay Jr menjadi juara dunia saat usianya masih 22 tahun. Itu sudah membuat tinju dunia geger. Belum usai keterkejutan itu, tiba-tiba dia menghadirkan kisah lain dengan memproklamasikan diri masuk agama Islam. Bukan cuma satu dua orang yang menjadi saksi Clay Jr masuk Islam. Dia melakukannya sesaat setelah mengalahkan Liston, masih di atas ring.

Dia mengucapkan dua kalimat syahadat di antara tepuk riuh penonton, kilatan lampu kamera dan di depan jutaan penonton televisi yang disiarkan di seluruh dunia. Sejurus kemudian dia mengumumkan nama barunya, yaitu Muhammad Ali.

’’Ini sesuai fitrahku sebagai manusia ciptaan Allah,’’ kata Ali saat ditanya alasan keputusannya memeluk Islam.

Simpati berdatangan, sama halnya dengan kebencian yang makin menjadi kepadanya. Pada 25 Mei 1965, Ali melakukan tanding ulang melawan Liston.

Pertandingan tersebut penuh kontroversi.

Pukulan Ali yang begitu cepat menimbulkan spekulasi di kalangan tinju yang menyebut pukulan Ali sebagai Phantom Punch. Pukulan itu begitu cepat, sehingga tidak tampak mengenai Liston yang roboh.

Banyak isu yang berkembang, termasuk suap dan ancaman orang-orang Nation of Islam (organisasi yang menjadi tempat Ali bergabung setelah memeluk Islam) terhadap Liston dan keluarganya. Tapi, Liston membantah semua itu dengan menyatakan pukulan Ali menghantamnya dengan keras.

Kontroversi kembali dilakukan Ali. Kali ini bukan di ring tinju.

Dia menolak mengikuti wajib militer pemerintah AS dalam menghadapi Perang Vietnam.

Akibat keputusan itu, Ali diskors oleh Komisi Tinju selama tiga tahun (1967-1970) dan gelarnya dicabut.

Ali kemudian dijebloskan ke penjara.

Bahkan, pada film yang mengisahkan dirinya, pemerintah AS memanggil untuk ikut wamil dengan menyebutkan nama lahirnya. Dia tak suka dengan hal itu. ’’Mulut besar’’ Ali kembali menumpahkan pernyataan kontroversial.

’’Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietkong, dan tidak ada satu pun orang Vietkong yang memanggilku dengan sebutan Negro!’’ ujar Ali sekaligus sebagai tanda penolakan wamil. Dalam karir bertinjunya, Ali menjadi juara dunia di kelas berat versi WBA dan WBC.

Ali yang dinobatkan sebagai ”Petinju Terbesar Abad Ini” oleh BBC pada 1999, sempat datang ke Indonesia pada 20 Oktober 1973. Ali bertarung melawan Rudi Lubbers selama 12 ronde dalam pertandingan kelas berat tanpa gelar di Istora Senayan, Jakarta.

Oleh publik dan pers Indonesia, duel itu disebutkan sebagai ekshibisi. Namun, ternyata sebenarnya itu pertandingan resmi walau tidak memperebutkan gelar. Terakhir, Ali menginjakkan kaki di Indonesia pada 23 Oktober 1996. ’’Sebuah negara yang unik, di mana penduduknya sangat bersahabat dan selalu tersenyum kepada siapa pun,’’ tutur Ali.

Kini Ali tidak bisa lagi menari-nari dan beraksi seperti gaya khasnya saat bertanding. Parkinson menggerogoti tubuhnya sejak 1986. Meski penyakit itu belum ada obatnya, Ali tidak mau menyerah.

Dia bahkan sempat tampil sebagai pembawa obor saat Olimpiade Atlanta pada 1996. Saat itu jutaan penonton menahan haru melihat Ali yang perkasa, berjuang keras mengatasi getaran di tangannya untuk menyulut obor Olimpiade. (ady/c2/ko)

Berawal dari Kehilangan Sepeda

SEBUAH sepeda membawa Muhammad Ali menuju kebesaran namanya saat ini. Seandainya dia tidak kehilangan sepeda BMX, mungkin dunia tinju tidak melahirkan petinju terbaik pada abad ke-20.

Kisahnya bermula ketika Ali berusia 12 tahun. Sepeda yang baru dibelikan orang tuanya dicuri. Siapa yang menduga, kejadian tersebut membuat Ali kecil berkenalan dengan dunia tinju yang kemudian digelutinya hingga menjadi juara du nia tinju sejati.

Setelah sepedanya hilang, Cassius Marcellus Clay Jr (nama lahir Ali) melapor ke Joe Martin, seorang polisi. Tak disangka, Joe ternyata juga pelatih tinju. Clay Jr kemudian diajari bertinju agar bisa memukul si pencuri. Clay Jr begitu antusias.

Clay Jr giat berlatih tak cuma ingin menghajar si pencuri.

’’Mungkin juga karena aku ingin membalas perlakuan jahat teman-temanku yang berkulit putih,’’ katanya. Sejak kecil Clay Jr merasakan perbedaan perlakuan karena berkulit cokelat.

Karunia Allah untuk Clay Jr, berupa bakat serta otot yang kuat, memudahkan jalannya menjadi petinju kelas dunia.

Clay Jr memenangi pertandingan tinju pertamanya saat masih berusia 12 tahun. Lawannya dikalahkan dengan angka tipis. ’’Saya adalah yang terhebat. Saya akan menjadi juara dunia,’’ kata Ali seusai pertandingan.

Enam tahun berselang, keahlian bertinju Clay Jr bertambah.

Dia mengalahkan petinju-petinju tangguh di Olimpiade Roa, 1960. Anak Cassius Marcellus Clay Sr dan Odessa Grady Clay itu meraih medali emas kelas berat ringan.

Tak lama kemudian dia memulai debut sebagai petinju profesional dengan melawan Tunney Hunsaker. Clay Jr menang angka dalam pertarungan enam ronde tersebut. Sejak itu, prestasi demi prestasi dia raih dalam buku sejarah tinju dunia. (ady/c13/ko)

Ultah Bertiket Rp 9,1 Juta

LEGENDA tinju dunia Muhammad Ali merayakan ulang tahun yang ke-70 di kampung halamannya, Kentucky, Amerika Serikat, Senin (16/1). Selain merayakan ulang tahunnya, Ali kembali ke Kentucky untuk mendirikan Muhammad Ali Center (MAC).

Meski menderita parkinson, Ali tetap bersemangat saat merayakan ulang tahunnya di pusat kota Kentucky, Louisville, itu. Pesta ulang tahun Ali tersebut juga dijadikan ajang pengumpulan dana untuk mendirikan Muhammad Ali Center.

Rencananya, MAC adalah pusat budaya dan pendidikan serta menjadi museum tentang karir panjang Ali sebagai petinju, aktivis sosial, dan kemanusiaan.

Undangan yang hadir dalam perayaan ulang tahun Ali kali ini wajib menyumbang USD 1.000 atau sekitar Rp 9,1 juta sebagai tiket masuk. Dana itul akan digunakan untuk mendirikan MAC. Satu di antara sekian banyak tamu yang datang adalah mantan pelatih Ali, Angelo Dundee. Hadir pula di acara itu mantan juara dunia Lennox Lewis dan sejumlah selebriti Hollywood. (ady/c4/ko)

Momen Penting Karir Mohammad Ali

  •  17 Januari 1942: Lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr. Ayahnya, Cassius Marcellus Clay Sr, pelukis billboard (papan iklan) dan rambu lalu lintas. Ibunya, Odessa Grady Clay, seorang pencuci pakaian.
  • 1960: Meraih medali emas kelas berat ringan Olimpiade 1960 di Roma, Italia.
  • 29 Oktober 1960: Dalam debut di ring profesional, dia menang angka pada ronde keenam atas Tunney Hunsaker.
  • 25 Februari 1964: Merebut gelar juara dunia kelas berat dengan menang TKO pada ronde ketujuh atas Sonny Liston di Florida, AS.
  • Liston cedera leher sehingga mengundurkan diri dari pertandingan.
  • Setelah Menang atas Liston Clay memproklamasikan agama dan nama barunya menjadi Muhammad Ali. Dia masuk kelompok Nation of Islam (NOI) yang kontroversial. Dalam buku biografinya yang diluncurkan pada 2004, Ali mengaku tidak bergabung dengan NOI, tapi bergabung dengan jamaah Islam Sunni pada 1975.
  • 25 Mei 1965: Tanding ulang Ali melawan Liston yang penuh kontroversi. Pukulan Ali yang begitu cepat dijuluki phantom punch. Pukulan itu begitu cepat sehingga tidak tampak mengenai Liston yang roboh.
  • 1967–1970: Ali diskors komisi tinju karena menolak program wajib militer Pemerintah AS dalam perang Vietnam. Ungkapan Ali yang terkenal saat menolak wamil itu, ”Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietkong dan tidak ada satu pun orang Vietkong yang memanggilku dengan sebutan Negro.”
  • Maret 1971: Ali kalah angka oleh Joe Frazier di New York dan harus menyerahkan gelarnya.
  • 30 Oktober 1974: Rumble in the Jungle. Ali merebut kembali gelar juara kelas berat WBC dan WBA setelah menumbangkan George Foreman di Kinsasha, Zaire, pada ronde kedelapan.
  • 1 Oktober 1975: Thrilla in Manila. Presiden Ferdinand Marcos memboyong pertandingan Ali versus Frazier III ke Manila, Filipina.
  • Ali menang TKO pada ronde ke-14 dalam pertandingan yang sangat seru dan menegangkan.
  • 15 September 1978: Ali mengalahkan Leon Spinks dengan angka pada ronde ke-15 di New Orleans. Ali mengukuhkan diri sebagai petinju pertama yang merebut gelar juara kelas berat tiga kali.
  • 6 September 1979: Ali mengundurkan diri dari tinju dan gelar dinyatakan kosong.
  • 2 Oktober 1980: Ali kembali ke ring tinju. Dia melawan bekas kawan latih tandingnya, Larry Holmes, yang menjadi juara dunia kelas berat dalam pertandingan yang berjudul The Last Hurrah.
  • Dalam pertandingan yang berat sebelah itu, Ali tidak berkutik. Ali menyerah dan mengundurkan diri pada ronde kesebelas. Holmes dinyatakan menang TKO.
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *