Alami Infeksi Berat, Bayi Usus di Luar Perut Meninggal

Metropolis
Gunawan Syahputra

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Setelah menjalani perawatan yang intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik sejak, Selasa (23/7) lalu, bayi yang lahir dengan usus diluar perutnya (gastroschisis) akhirnya meninggal dunia, Kamis (25/7) sore.

Kassubag Humas RSUP Haji Adam Malik Rosario Dorothy Simanjuntak yang dikonfirmasi menyampaikan bayi dari pasangan Gunawan Syahputra (30) dan Imelia (18) warga Jalan Denai, Gang Muslimin, Medan Denai ini meninggal dunia tepatnya pada pukul 16.30 WIB. “Iya benar, bayinya sudah meninggal karena penyakit yang dideritanya,” ungkapnya kepada Analisa.


Rosa menjelaskan, saat ini para keluarga sedang melakukan pengurusan untuk kepulangan jenazahnya. Untuk itu Rosa mengaku, pihak rumah sakit juga akan memberikan kemudahan, karena orang tua sang bayi berasal dari keluarga yang tidak mampu.”Jenazahnya kita pulangkan hari ini juga. Tapi karena statusnya pasien umum dan keluarga juga tergolong tidak mampu, kita hanya meminta jaminan KTP dan KK dari keluarga saja,” jelasnya.

Menurut dr Erjan Fikri MKed SpB, salahsatu tim dokter yang menangani bayi tersebut menyampaikan, harapan hidup dari sang bayi memang sangat tipis. Sebabnya, bayi malang ini mengalami infeksi berat di ususnya, sejak ia dilahirkan.”Secara kasat mata saja, kondisinya memang sudah berat,” ujarnya.

Erjan mengatakan, bayi ini sebetulnya bisa tertolong, apabila saat dilahirkan dilakukan melalui operasi sesar. Karena ia menerangkan, infeksi yang menyerang si bayi ini justru terjadi, akibat proses persalinan yang dilakukan oleh sang ibu dengan jalan normal.

“Bayi yang lahir dengan usus terburai keluar ini termasuk kelainan yang tidak bisa dicegah tapi bisa diketahui dini melalui pemeriksaan antenatal care, yakni di USG. Jadi kalau dia sudah ketahuan, maka akan dilahirkan secara operasi sesar, karena kalau jalan normal akan infeksi sekali,” jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, kalau ada dokter obgyn dan dokter bedah anak, maka ususnya bisa akan langsung dimasukkan ke tubuh melalui operasi. Namun hal ini, tutur dia, dengan catatan ususnya masih belum mengalami pembengkakan. “Tapi yang ini sudah bengkak. Jadi memang sulit, sehingga harus dirawat dulu baru dilakukan operasi,” terangnya.

Erjan mengaku, selama masa kehamilan, orang tua korban memang tidak pernah melakukan USG untuk mengecek kondisi bayi. Perobatan masa kehamilan juga sambung dia, juga dilakukan oleh orang tua hanya melalui bidan.”Ini memang penyakit yang langka. Tapi sekali (kasusnya) ada akan fatal,” pungkasnya.

Sementara itu, ayah sang bayi, Gunawan mengaku untuk pembiayaan anaknya sejauh ini masih sebagai pasien umum karena ia mengalami kendala dalam mengurus BPJS Kesehatan atau Jampersal Medan. Selain itu ia juga mengaku, selama istri mengandung memang tidak ada memeriksakan ke dokter dan USG lantaran terkendala biaya.

Malah ironisnya, selama istrinya mengandung, mereka hanya sering makan telur direbus, mie instan dan nasi saja. “Tapi memang, selama istri mengandung tidak ada keluhan dan merasakan hal lainnya,” bebernya.

Gunawan menuturkan, pekerjaannya juga hanya sebagai pedagang bakso goreng keliling. Pendapatan satu hari, ujar dia, besarnya pun hanya berkisar Rp 20 sampai Rp 30 ribu saja.

“Dari penghasilan itu baru dibagi lagi untuk modal bakso goreng dan makan kami. Untuk itu saya berharap, Pemko Medan mau membantu pembiayaan anak saya agar dapat ditanggung BPJS Kesehatan atau Jampersal Medan,” ujarnya lirih. (dvs/ila)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *