Alhamdulillah, 12 Pasien di Sumut Sembuh, Sudah Boleh Pulang ke Rumah

Sumatera Utara

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kabar gembira kembali datang dari pasien positif Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Sumatera Utara. Dalam satu hari, sebanyak 12 pasien positif corona dinyatakan sembuh. Dua orang di antaranya berprofesi sebagai dokter.

“Alhamdulillah ada 12 orang (pasien positif Covid-19) yang sembuh hari ini (kemarin, red). Mereka dirawat di sejumlah rumah sakit rujukan dan swasta. Mereka dinyatakan sembuh setelah dilakukan dua kali pemeriksaan swabn


Polymerase Chain Reaction (PCR), dan hasilnya negatif,” kata Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut, dr Aris Yudhariansyah, Selasa (21/4).

Ke-12 pasien tersebut sebelumnya dirawat di tiga rumah sakit, yaitu RSU Martha Friska Multatuli, RSU Santa Elisabeth dan RS GL Tobing.

Pasien positif yang sembuh di RSU Martha Friska Multatuli sebanyak 4 orang. Yaitu pasien berinisial D dan R (laki-laki), serta NS dan NR (perempuan). Sedangkan di RS GL Tobing 3 orang, yakni 2 dokter berinisial D dan F serta seorang laki-laki berinisial S. Sementara di RSU Santa Elisabeth sebanyak 5 orang, di antaranya DHT, RM, EE, RTL (perempuan) dan AEB (laki-laki).

Kini, ke-12 pasien tersebut dibolehkan pulang dari rumah sakit tempat mereka dirawat. Namun tetap harus menjalani karantina atau isolasi mandiri di rumah masing-masing selama 14 hari. “Meski isolasi mandiri, para pasien tidak bisa menularkan lagi,” tandasnya.

Antisipasi Tenaga Medis Tertular

Mengingat sudah banyak tenaga medis yang meninggal tertular Covid-19, pihak RSUD yang ada di Sumut diminta mengantisipasi keamanan paramedis, agar tidak menjadi korban Covid-19.

“Beberapa bulan belakangan ini, sejak 14 Maret lalu hingga saat ini, RSUD selalu disibukkan dengan kedatangan pasien-pasien, baik terindikasi sebagai Covid-19 atau karena kecemasan dan ketakutan. Hal ini perlu diantisipasi, sehingga kesiapan RSUD menjadi penting,” kata Kepala RSUD Deli Serdang dr Hanif Fahri SpKj, dalam video streaming di Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut, Rabu (21/4).

Menurutnya, ada beberapa hal yang harus disikapi dalam era Covid-19 ini. Yaitu, kesiapan menerima pasien dimulai dengan kesiapan sarana dan prasarana, baik sumber daya alat dan sumber daya manusia.

“Pada awalnya, kita harus berinisiatif, berjuang, dan mungkin belajar sendiri. Tetapi dengan keluarnya protokol-protokol kesehatan dari pemerintah atau ketentuan-ketentuan, maka akan memberikan arahan yang harus sama-sama diikuti,” ujar Hanif

Diakui dia, banyak RSUD yang awalnya belum siap dengan gelombang pasien Covid-19. Bahkan semula mengira pasien suspcet virus corona hanya khayalan. Namun tiba-tiba semua menjadi fakta di depan mata.

“Selain sarana dan prasarana, hal yang perlu diperhatikan yaitu penerimaan pasien-pasien Covid-19 di UGD atau IGD. Dalam hal ini harus memperhatikan pemilahan pasien yang gejala Covid-19 atau tidak. Disiapkan ruangan khusus. Dengan demikian, tidak terjadi pencampuran pasien Covid-19 maupun nonCovid-19. Makanya, dibutuhkan tenaga medis yang sudah dilatih,” ungkap Hanif.

Juga harus dilakukan SOP (Standar Operasional Prosedur) pengiriman ataupun pemilahan pasien ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Hal itu agar RSUD lebih mudah merawat pasien maupun mengirimnya ke RS rujukan. “Ini tentu butuh kesiapan RSUD dan dukungan dari rekan-rekan medis,” ucapnya.

Menurut Hanif, paramedis yang ditunjuk menangani pasien Covid-19 harus dipastikan masih berusia muda. “Kita di RSUD Deliserdang menyarankan di bawah 25 tahun, dengan pemeriksaan medical check up sebelum mereka diterjunkan,” katanya.

Tenaga medis juga disiapkan dengan APD (Alat Pelindung Diri). “Rumah sakit yang telah mempunyai standarisasi sebagaimana dijalankan oleh KARS (Komite Asosiasi Rumah Sakit), tim PPI (Pengawas dan Pemantau Infeksi), kita harapkan dapat bergerak mengevaluasi pemakaian APD. Sebab banyak kasus perawat ataupun tenaga medis terkontaminasi Covid-19, karena kekurangpahaman menggunakan APD,” katanya.

Selain itu, juga harus disiapkan ruangan rawat inap sementara bagi pasien Covid-19. Tidak bisa begitu saja PDP dan ODP dikirim ke RS rujukan Covid-19. “RSU di daerah mau tidak mau akan merawat mereka terlebih dahulu, sebelum merujuknya,” cetus dia.

Tak kalah pentingnya, RSU di daerah agar menghindari pelayanan-pelayanan elektif, tidak bersifat emergensi, ataupun gawat darurat. Hal ini untuk menghindari para tenaga kesehatan tertular Covid-19. “Kontaminasi bisa terjadi karena ketidakpatuhan, kelalaian, atau sepele terhadap pelayanan pasien. Dikira nonCovid-19, ternyata OTG (Orang Tanpa Gejala),” beber Hanif.

Makanya, kata dia, perlu prosedur ketat di rumah sakit. Misalnya rutin menyemprot disinfektan ke area-area yang selalu berhubungan dengan pasien, 3 kali sehari. Mengatur jarak antara pasien, dokter, dan pengunjung. Juga mengimbau dokter menggunakan telemedicine, atau sebisa mungkin tidak kontak langsung dengan pasien.

“Terkadang pasien meninggal di rumah sakit. Oleh sebab itu, siapkanlah tenaga-tenaga penguburan yang mahir dalam proses pemulasaran jenazah,” papar Hanif. (ris/rel)

loading...