Angin Kencang, Penerbangan Rawan Divert

Metropolis

MEDAN- Badan Pusat Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Utara memprediksi kecepatan angin di wilayah Sumut hingga April mendatang mencapai 30 km/jam. Kecepatan angin tersebut sangat berdampak pada penerbangan yang rawan divert (pengalihan pendaratan).

Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Sumut Hendra Suwarta mengatakan, tingkat kecepatan angin dibagi menjadi beberapa level, seperti level sepoi, ringan, sedang, kencang, sangat kencang, dan badai. Untuk kecepatan angin normal umumnya hanya mencapai 5-15 km/jam. Untuk kategori angin sedang kecepatannya, 20-25 km/jam. Sedangkan kecepatan kencang sekitar 30-35 km/jam.


“Saat ini Sumatera Utara dalam tahap peralihan, dari musim hujan menuju pulau kemarau. Masa peralihan inilah yang mengakibatkan angin berhembus lebih kencang bila dibandingkan hari biasa,” ujarnya.

Kecepatan angin 30 km/jam tersebut berdampak pada dunia penerbangan. Terbukti, selama Maret ini sudah terjadi 2 kali divert di Bandara Polonia pada 4 Maret (sebanyak 7 pesawat yang tidak bisa mendarat).

Kemudian tanggal 10 Maret ada 5 pesawat yang dialihkan ke bandara lain. “Angin dengan kecepatan tersebut termasuk kencang bila di Indonesia, tidak seperti di Amerika atau di Eropa. Akibatnya, bila angin ini datang maka akan ada peringatan bagi para maskapai penerbangan,” lanjutnya.

Hendra menambahkan, bahayanya angin kencang ini juga dapat dirasa terhadap wilayah perkotaan karena dapat merusak bangunan-bangunan maupun pohon-pohon tua yang berada di sekitaran kota.

“Karena kondisi bangunan kita yang memang tidak kuat. Bisa saja dengan kecepatan angin 30 km/jam membuat seng ataupun atap rumah warga berterbangan. Begitu juga dengan pohon-pohon yang usianya sudah ratusan tahun di Kota. Kalau sudah lapuk, kemudian datang angin kencang, maka bertumbanganlah di jalan,” ujarnya.

Bukan hanya bahaya angin kencang di bulan Maret ini, BMKG juga mengingatkan agar warga mengantisipasi petir dan panas terik yang terjadi saat pergantian suhu. “Karena ini peralihan cuaca dari musim kemarau ke musim hujan, maka suhu panas terasa sangat terik. Kondisi ini diakibatkan peralihan suhu secara drastis. Misalnya ketika pagi dan siang hari cuaca mencapai 32 derajat celcius, kemudian langsung berubah menjadi 26 derajat celcius yakni saat hujan turun,” jelasnya.

Akibat perubahan suhu yang drastis tersebut, masyarakat harus menjaga kondisi kesehatan tubuh. “Melihat cuaca yang seperti ini, sangat rentan mengundang penyakit. Ini yang harus diwaspadai kembali,” katanya.

Dijelaskannya, cuaca panas saat ini lebih terasa bila dibandingkan dengan panas pada daerah lain. Sehingga, banyak yang beranggapan bahwa panas di siang hari saat ini lebih besar. “Suhunya masih 32 derajat celcius,” tutupnya. (ram)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *