Angkat Gula Ukuran Sekilo, Tangan Saya Tak Sanggup Lagi

Metropolis

Oleh: Puput Julianti Damanik, Medan

Sumintri (51), kondisinya sangat memprihatinkan. Perutnya membesar akibat penyakit tumor atau kista di perutnya. Warga Jalan Karya Utama, Gang Karya 8, Nomor 16 ini nyaris putus asa karena tak memiliki uang untuk biaya berobatnya.


PERUT BESAR: Kondisi perut Sumintri membesar akibat penyakit tumor  perutnya.//puput julianti/sumut pos
PERUT BESAR: Kondisi perut Sumintri membesar akibat penyakit tumor di perutnya.//puput julianti/sumut pos

Wajahnya begitu sayu, ia mengenakan kaos dan sarung untuk meringankan dan melegahkan tubuhnya. Tak banyak yang bisa dilakukannya, sebentar duduk di teras rumah, sebentar duduk di tempat tidur dan terkadang mencoba memberisihkan rumah dan mencuci piring, meskipun hasilnya tidak pernah tuntas karena tidak sanggup melakukannya.

“Terkadang saya terpikir untuk bunuh diri saja. Hidup seperti ini tapi gak bisa kerja, gak bisa bantu suami, anak, jadi untuk apa dipertahankan? Tapi saya akhirnya sadar, saya harus ikhlas menerima cobaan dari Tuhan,” ujarnya kepada wartawan koran ini saat menyambangi kediamannya.

Suaminya, Junaidi (58), tidak dapat menemani kesehariannya di rumah. Pagi-pagi suaminya harus belanjan
bahan-bahan untuk keperluan jualan sate di malam hari. Anaknya pun tidak bisa membantu dan menemaninya, karena anaknya selalu terlarut dalam tidur akibat kelelahan membantu ayahnya berjualan hingga jam 3 pagi.

“Yah begini saja aktivitas ibu setiap hari, paling nanti tetangga ibu si Butet yang kemari menemani. Suami harus mempersiapkan bahan-bahan berjualan malam, kalau anak saya tidur, saya gak mau banguni, kasihan. Kadang jualan pulangnya sampai jam 3 pagi,” katanya.

Yah, semua ini terjadi berawal dari 2 tahun yang lalu. Saat itu, ia terlambat menstruasi sampai 2 bulan. Karena usianya yang sudah paruh baya, ia sempat mengira kalau ia sudah memasuki masa menopause (berhenti datang bulan). Namun setelah beberapa bulan, perutnya kian membesar seperti wanita hamil.

“Ibu kira memang sudah waktunya gak menstruasi lagi, tapi kok udah beberapa bulan perut semakin besar. Ibu kirapun hamil, tapi usia ibu kan udah tua. Makanya langsung dibawa ke Rumah Sakit Sembiring dan katanya kena kista dan disarankan untuk dibawa ke RS Haji,” ujarnya.

Namun, karena ketiadaan biaya, ia memutuskan untuk melakukan perobatan herbal. “Jadi saya putuskan untuk berobat herbal. Kalau saya ikut saran dokter harus dikemo 6 kali, mana ada uang saya. Biayanya sampai Rp5 juta. Jadi 2 tahun ini saya berobat pakai obat tradisional saja,” ujarnya.

Untuk membeli obat-obat herbal, suaminya terpaksa meminjam uang ke bank sebesar Rp10 juta. “Untuk biaya obat sana-sini, suami pinjam duit Rp10 juta ke bank. Awalnya itu untuk biaya operasi juga. Tapi karena takut uangnya tak cukup, jadi saya berobat herbal,” katanya.

Namun lambat laun, perutnya pun semakin membuncit, bahkan di lubang vagina juga sudah keluar seperti daging tumbuh. “Rupanya udah berobat lama gak juga pulih, malah makin buncit perut ini. Sampai sekarang ini sudah menyembul keluar seperti daging dari lubang vagina, mungkin itu daging dari perut ini,” katanya.

Karena perut yang semakin membesar itulah, ia tidak lagi bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Bahkan untuk berjalan pun ia sudah tidak sanggup bila terlalu lama karena perutnya berat seperti batu, keras dan tak berasa. “Tidak sakit, tapi saya tidak sangup bekerja, bahkan megang gula ukuran sekilo itu pun gak sanggup lagi. Memang gak sakit, malah sesak buang air besar pun gak berasa, bahkan tiba-tiba suka udah keluar aja kotorannya,” katanya.

Kondisi seperti itu membuat ia sering merasa pesimis. “Kalau kayak gini, apalah artinya lagi hidup. Gak bisa bantu suami, lihat suami kadang cuci baju, masak dan cuci piring, sedih kali rasanya. Sayapun gak bisa jadi contoh buat anak-anak saya,” katanya.
Ibu dari 5 orang anak ini mengaku karena tidak memiliki biaya, anak-anaknya pun hanya mampu sekolah sampai SMP saja. “Anak saya sudah 3 yang menikah. Dua lagi, perempuan tinggal dirumah. Merekalah yang bantu bapak jualan. Pulangnya kadang jam 3 pagi, saya sedih. Kalau saya masih sehat pastinya bisa gantian,” ujarnya.

Setelah ia sakit, keceriahan di kediamannya pun tidak seperti dahulu lagi. “Anak-anak saya dulu itu semangat, pulang itu langsung makan. Wajahnya ceria. Sekarang kayaknya lesuh gitu. Bapak lagi, mungkin karena penyakit saya ini juga yah. Apalagi mikiri tiap bulan harus bayar hutang ke bank, kadang suka tersendat. Pedapatan bapak itu paling seharinya Rp100 ribu. Itu diputer lagi buat belanja. Saya ingin perut ini dioperasi, tapi tak ada biaya,” katanya.

Ia hanya ingin perutnya dapat kempes agar bisa membantu suaminya bekerja. Bahkan tiap malam ia berdoa agar ada dermawan yang mau membantu biaya operasinya. Sedangkan kartu Jamkesmas miliknya sudah tidak lagi berlaku, untuk itu ia hanya mengharapkan bantuan untuk perobatannya. “Saya sih kalau ada yang mau bantu, alhamdulilah. Yah memang jujur kalau untuk biaya sendiri mengikuti kemo saya tidak sanggup karena kemarin juga dokter bilang kalau ini tumor,” katanya.

Sekarang nafasnya sesak bila tidur telentang. Ia terpaksa tidur dengan cara duduk dan sudah 2 tahun tidur dalam posisi duduk.” Saya cuma berharap perut ini bisa kempes. Kasian anak-anak saya, kurus, gak ada yang ngurusi,” katanya dengan air mata berlinang. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *