Antisipasi Aksi Geng Motor, 3 Kali Seminggu Pelajar Dirazia

Metropolis

MEDAN-Untuk mengatasi aksi brutal geng motor, Polresta Medan akan terus menggelar razia di lokasi mangkalnya kawanan geng motorn
Kapolrest Medan, Kombes Pol Monang Situmorang mengatakan polisi juga akan melakukan penertiban pelajar yang berkeliharan mengendari sepeda motor malam hari sepekan tiga kali yakni Jumat, Sabtu dan Minggu.

Menurutnya, sulit untuk memberlakuan jam malam terhadap pelajar, karena pelajar yang berkeliaran pada malam hari sudah mengenakan baju preman.
Namun, kata Monang, polisi sudah melakukan pemberitahuan dan pembinaan terhadap siswa di sekolah-sekolah Kota Medan akan bahayanya geng motor.


Monang Situmorang mengultimatum bahwa kawanan geng motor yang telah melakukan aksi brutal tidak akan diberikan penangguhan penahanan meski masih di bawah umur.

“Kita akan tindak tegas apabila melakukan penganiayaan, pengrusakan. Akan diproses sesuai hukum. Kita tidak main-main, meski mereka masih dibawah umur, kita tidak akan melakukan penangguhan,” ujar Monang.

“Kita terus sosialisasikan ke sekolah-sekolah, melalui amanat tentang buruknya balapan liar yang biasanya dilakukan geng motor. Makanya nanti akan kita tindak tegas,” terang Monang.

Dalam penindakan, pihaknya akan mengerahkan banyak personel pada waktu tertentu.

“Jadi kita antisipasi dengan cara operasi rutin. Ini akan lebih ditingkatkan dan bila perlu jumlah personel akan kita tambah,” tambahnya.
Pengamat Hukum Pidana Umum dan Kriminolog dari Fakultas Hukum UMSU, Nursariani Simatupang menilai, aksi geng motor merupakan kenakalan remaja yang luar biasa.

Nursariani menjelaskan, hal ini terjadi karena dua faktor. Pertama, kurangnya kontrol orangtua terhadap anak dalam lingkungan keluarga, sehingga anak bebas melakukan aktivitas apa saja tanpa terpantau orangtua. Hal ini yang membuat anak menyalah gunakan setiap kegiatannya hingga mengarah ke hal negatif seperti membuat geng motor untuk menunjukkan jati diri yang hebat dibandingkan orang lain.

Kedua, emosi tidak stabil, dimana anggota geng motor ini rata-rata masih di bawah usia 20 tahun. Nah, di usia ini, remaja masih labil untuk menentukan tindakan yang dilakukannya meski dia mengetahui tindakan tersebut merugikan dirinya dan orang lain.

“Karena emosinya labil dan mudah dipengaruhi orang lain atau teman sebayanya, sehingga hal negatif dianggapnya menjadi hal yang positif,” ujarnya.
Untuk mengatasi dari aksi geng motor, polisi lebih melakukan pendekatan secara personal, saat dilakukan razia atau patroli pada malam hari. Polisi melakukan pemahaman terhadap aksi geng motor merupaka aksi negatif yang merugikan orang lain.

Kalau polisi tetap melakukan tindakan tegas terhadap geng motor, malah membuat anak-anak tergabung dalam geng motor, akan dendam kepada polisi. Akibatnya, usai keluar dari kantor polisi, kawanan geng motor akan kembali ke jalan dan beraksi kembali membuat onar di jalanan.
Menurutnya, aksi geng motor bukan hanya tanggung jawab polisi, pemerintah. Orang tua juga harus mengontrol kemana anaknya keluar rumah. (gus/mag-11)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *