Belajar Debat dari Hillary

New Hope
Debat kepresidenan pertama antara kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump dan kandidat Partai Demokrat Hillary Clinton di Hofstra University di Hempstead, New York, Senin (26/9).
Debat kepresidenan pertama antara kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump dan kandidat Partai Demokrat Hillary Clinton di Hofstra University di Hempstead, New York, Senin (26/9).

Hillary Clinton menang telak. Itu kalau debat pertama calon presiden Amerika Serikat kemarin jadi ukuran. Nilai Hillary 8,5. Nilai Donald Trump 7.

Ternyata Trump tidak segarang yang saya perkirakan. Hillary ternyata lebih agresif. Bahkan berhasil mengendalikan situasi selama 1,5 jam penuh. Trump dibuatnya terus dalam posisi defensif.


Hillary begitu sempurna kemarin. Mulai dari busananya, tata rambutnya sampai intonasi bicaranya. Pilihan warna merah baju atasannya sangat eye catching. Cutting atasannya juga perfect. Tata rambutnya mengingatkan Hillary yang energetik. Make up wajahnya sempurna. Hilanglah kerutan tuanya.

Kalau toh ada kekurangannya itu pada bawahannya. Celana panjang yang sewarna dengan atasannya itu rasanya membuat agak monoton. Hillary kelihatan lebih gemuk. Dan langkah kakinya mengesankan lamban.

Sayangnya Trump tidak berusaha mengalahkan dari segi sosok lahiriah ini. Cutting jasnya terasa longgar. Krah baju dalamnya sangat biasa. Dan dasinya begitu buruk: warnanya maupun ukurannya. Warna dasi yang biru dan ukurannya yang terlalu besar membuat penampilan busana Trump tidak seperti seorang presiden.

Melihat busananya itu teman saya, seorang wanita yang tasnya seharga Rp400 juta, sampai nyeletuk: ke mana tuh Ivanka.

Maksudnya: kok anak perempuan Trump yang ahli mode itu tidak bisa membuat penampilan bapaknya lebih menarik.

Bibir Trump yang pucat, wilayah sekitar matanya yang kerut dan ekspresi wajahnya yang sinis menambah nilai negatif penampilannya.

Dari segi kualitas yang dibicarakan, Trump hanya imbang di satu topik. Tentang kepolisian. Di lima topik lainnya Trump kalah telak. Bahkan tersudut.

Soal pajak Trump tersudut dua kali. Pertama tentang keengganannya menyerahkan laporan pajak pribadinya. Kedua, tentang ketidakmampuan keuangan pemerintah.

Trump mempersoalkan ‘kemunduran’ Amerika sehingga tidak mampu membangun infrastruktur. Akibatnya Amerika menjadi seperti negara dunia ketiga. Kalah dengan infrastruktur di Tiongkok, misalnya.

Dengan cerdas Hillary menyeletuk hal seperti itu karena orang seperti Trump tidak taat bayar pajak.

Dalam hal laporan pajak Hillary menyudutkan Trump dengan telak. “Selama 40 tahun terakhir semua calon presiden selalu membuka laporan pajaknya, kecuali Trump sekarang ini,” katanya.

Trump mencoba defensif di bidang ini tapi malah menjadi bahan tertawaan. “Saya akan menyerahkan laporan pajak kalau Hillary menyerahkan email-email pribadi yang dia hapus dari komputer kementerian selama dia menjabat menteri luar negeri,” ujar Trump.

Sungguh satu defensif yang sangat buruk. Tidak ada ketulusan hati sama sekali. Sementara dalam hal email, Hillary dengan tulus mengaku dirinya telah berbuat salah, minta maaf, dan akan bertanggung jawab penuh.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *