Belasan Tahun Sekeluarga Tinggal Digubuk Reyot

Sumatera Utara
Foto: BATARA/SUMUT POS
BERALASKAN PAPAN: Dua anak pasutri Maruli Simbolon dan isterinya Dalena boru Marbun tidur diatas papan di lantai rumahnya yang hanya beralaskan tanah, Selasa (24/10).

SUMUTPOS.CO – Kondisi rumah yang terbuat dari bahan tepas dan beratap rumbia membuat Maruli Simbolon (47) dan isterinya Dalena boru Marbun (48) pasrah. Pasangan suami istri (pasutri) warga Dusun IV Desa Kelambir Kecamatan Pantai Labu yang memiliki enam anak ini sudah belasan tahun menempati rumah yang tidak layak huni itu.

Dengan kondisi rumah yang reyot, Maruli beserta istri dan anaknya menempati rumah beralas tanah. Atapnya terbuat dari rumbia dan berdinding tepas.


Mirisnya, rumah berukuran 5×5 meter itu bediri diatas lahan dengan luas 5×30 meter. Kondisi atapnya bocor dan nyaris beratap langit.

Ditambah dinding kayu dan separuh tepas itu sudah lapuk. Namun, hingga kini rumah itu belum mendapat program bedah rumah dari Pemkab Deliserdang.

Ketika ditemui di rumah Maruli Simbolon, terlihat istrinya Dalena boru Marbun keluar dari dalam rumah. Melihat kondisi dalam rumah, wanita beranak enam ini mempersilahkan awak media masuk ke dalam.

“Dari mana pak? Silahkan masuk pak,” ujar Dalena membuka obrolan, Selasa (24/10).

Kondisi dalam rumah sangat menyedihkan. Krisna Dinayanti boru Simbolon (17) dan Mia boru Simbolon anak sulung dan bungsu Maruli sedang tidur diatas deretan papan yang disusun di atas lantai tanah. Kedua anak Maruli itu terlihat terlihat pulas diatas goni berisi pakaian yang dijadikan sebagai bantal.

Tak berapa lama, Krisna dan Mia keluar dari dalam rumah menyusul ibunya yang berdiri didepan rumah dan sedang berbincang dengan awak media. Menurut Dalena, sudah sering pegawai Kantor Camat Pantai Labu memfoto rumah yang ditempatinya.

“Sudah sering difoto-foto. Tapi sampai sekarang kamni belum mendapat program bedah rumah,” tutur Dalena.

Dirinya berharap Pemkab Deliserdang memperhatikan rumah mereka yang diprediksi bakal rubuh jika angin kencang menerpa. Sebab, untuk membangun rumah dengan biaya sendiri sepertinya tidak bakal terwujud.

“Karena, untuk biaya hidup sehari-hari saja saya dan suami harus mencari upah diladang orang lain,” lirihnya.

Bagaimana status lahan ini? Dalena memang mengakui jika lahan itu milik mertuanya.

“Mertua saya sudah setuju secara lisan kalau kami yang menempati rumah ini,” akunya.

Mirisnya, Dalena mengaku, jika hujan mereka terpaksa mengungsi ke rumah mertuanya di Dusun VI Desa Pematang Biara Kecamatan Pantai Labu.

“Kalau hujan, dalam rumah ini banjir karena atap rumbianya sudah lapuk,” ucapnya pasrah.(btr/ala)

 

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *