Berawal dari Diserang Polio hingga Putus Sekolah

Metropolis

Juwito, Atlet Cacat Berprestasi

Memiliki keterbatasan anggota tubuh tak lantas membuat Juwito harus minder dan mengurung diri. Justru dengan kekurangan yang dimilikinya, menjadi sebuah berkah untuk terus berkarya demi mengharumkan nama bangsa, negara, provinsi serta tanah kelahirannnya.


Kesuma Ramadan, Medan

Sekilas melihat pria kelahiran Binjai 1971 silam, yang tengah duduk di atas kursi roda, tak pernah terbayangkan semangat hidup yang telah dilaluinya. Dengan keterbatasan pada anggota tubuhnya yakni pada bagian kaki kanannya yang tidak berfungsi akibat polio sejak usianya memasuki satu tahun, namun Juwito tetap mampu berkarya dan berprestasi.

Selain menjadi atlet yang cukup potensial menambah pundi-pundi medali khususnya angkat besi 100 kg, anak ketiga dari tujuh bersaudara ini juga mampu menjalin sebuah bahtera rumah tangga dan berusaha menjadi ayah yang bertanggung jawab di tengah keluarganya.

Saat disambangi di National Paralympic Comitee Indonesia (NPC) yang sebelumnya bernama Badan Pembinaan Olahraga Cacat di Jalan Stadion Teladan Medan, Juwito mencoba mengisahkan kembali awal dirinya menapaki hidup hingga menjadi atlet dan membangun sebuah rumah tangga yang bahagia.
Sebelumnya, menurut pengakuan Juwito, dirinya terlahir dengan kondisi normal dan sehat tanpa kekurangan apapun.

Saat memasuki usia satu tahun, awal cobaan didapat Juwito, saat itu dirinya mengalami penyakit polio yang menyebabkan kaki kanannya tak bisa digerakkan atau lumpuh.

Dengan kondisinya seperti itu, sejak kecil Juwito mengaku sering mendapatkan hinaan dan ejekan dari teman seuisanya. Tak jarang hinaan yang didapatnya  membuatnya minder dan tidak percaya diri untuk bermain dengan teman seusianya.

Melihat kondisi miris itu tak jarang Juwito menangis dan menyesali keadaan tubuhnya. Akan tetapi berkat dukungan moril keluarga dan kedua orangtuanya, Juwito berusaha bertahan dan mencoba bangkit dari keterpurukan.

“Kalau dulu, asal main sama kawan, sering  diejekin dan dilecehin awalnya memang sering sedih, tapi lama kelamaan sudah biasa dan gak masalah lagi kok,”ungkapnya.

Dengan keterbatasan ekonomi keluarganya, Juwito meyadari dan memutuskan untuk mengakhiri pendidikannya hanya sampai bangku Sekolah Dasar saja.

Hal itu dilakukannnya demi meringankan beban kedua orangtuanya yang harus  menanggung biaya penidikan keenam saudaranya yang lain.
Setelah memutuskan untuk berhenti sekolah, Juwito mencoba mandiri dengan berjualan kedai kelontong di depan tempat tinggalnya .

“Sejak kecil akau udah mandiri dengan berjualan kedai di depan rumah. Bahkan penghasilanku kusisihkan buat orang tua, Alhamdulillah meskipun tak banyak namun bisa membantu keluarga, dan syukurnya seluruh saudara kandungku bisa tamat SMA,”ucapnya.

Memasuki usia 31 tahun dengan badan yang cukup atletis, Juwito ditawarkan temannnya untuk mengikuti pelatihan angkat besi di Body Master yang berlokasi tak jauh dari tempat tinggalnya.

Meskipun Juwito harus beradaptasi dengan kekurangan tubuhnya, lambat laun dirinya dilirik Pengcab Binjai untuk mengikuti kejuaran angkat besi bagi penyandang cacat tingkat daerah pada pada 2008 lalu.

Tenyata dengan bakat yang dimilikinya, Juwito mampu meraih juara kedua dan mulai diperhitungkan di dunia angkat besi.
Bahkan dengan kemajauan tehnik dan kemampuannya Juwito kembali dipercaya mewakili Sumut untuk mengikuti Pekan Olahraga Cacat Nasional di Kalimantan pada 2008, dan mampu membawa pulang medali perak.

Tidak sampai disitu saja, bahkan dalam ASEAN Paragames di Solo yang diikuti tiga negara yakni Malaysia, Thailand dan Indonesia, Juwito kembali membuktikan prestasinya dengan mampu meraih perunggu.

Bahkan untuk prestasi terbaik yang mampu diraihnya yakni ketika mampu membawa medali emas dalam Kejurnas Angkat Besi yang berlangsung di Solo pada 2011 kemarin.
Setidaknya dengan sejumlah prestasi membanggakan yang telah diraihnya, Juwito setidaknya mampu meraih pendapatan hingga 100 juta sebagai juara dan tali asih yang diberikan pemerintah provinsi sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap atletnya terutama bagi penyandang cacat seperti dirinya.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagi Juwito jika dirinya bisa mencapai semua hal, bahkan yang tak pernah ada dalam mimpinya sekalipun.
“Aku juga nggak pernah bermimpi atau membayangkan akan menjadi seorang atlit angkat besi. Mungkin ini sebuah takdir dan hikmah dari kekurangan yang kumiliki,”ujarnya merendah.
Memasuki usia ke 39 sekitar akhir tahun 2008, buah hati pasangan Kasun dan Langka ini, akhirnya dipertemukan dengan seorang gadis bernama Eli Kurniati yang juga memiliki kekurangan yang sama seperti dirinya.

Dari pengakauan Juwito, pertemuan terjadi ketika dirinya tengah mengikuti seleksi Kejurda di Medan. Berawal dari sebuah perkenalan hingga berkomitmen menjalin sebuah hubungan yang serius, akhirnya Juwito memutuskan mengakhiri masa lajangnya di usianya yang ke 39.

Meskipun dengan penghasilan Rp1 juta sebulan dari biaya pembinaan yang diberikan  pemerintah provinsi, namun Juwito mengaku sudah cukup senang dengan kehadiran putrinya Dinda Syafitri yang saat ini telah berusia 2 tahun.

Kini hidup Juwito seakan lengkap dengan semua yang telah dimilikinya, hanya saja untuk bertemu dengan sang isteri dan anak tercinta, Juwito mengaku harus menyisakan waktu libur latihannnya selama dua hari dalam seminggu untuk menemui isteri dan anak tercinta.

“Saya latihan Senin sampai Jumat di Medan, sedangkan isteri dan anak tinggal di Binjai, untuk jumpai mereka saya bisanya pulang ke Binjai setiap Sabtu dan balik lagi ke Medan Senin pagi,”ucapnya.

Untuk mencapai kota Binjai saja, atlit sekelas Juwito masih tetap harus menempuhnya dengan angkutan umum, yang masih dibantu tongkat penyeimbang di kedua tangannya.

Sesampainya di Tugu Binjai, Juwito mengaku dijemput keponakannnya dengan sepedamotor yang baru saja dibelinya dari hasil juara yang ditorehkannnya.

Kini Juwito yang memasuki usia akhir karir yakni 41 tahun, hanya ingin tetap konsentrasi menghadapi Porcanas yang akan berlangsung di Pekan Baru pada bulan Oktober 2012 mendatang.

“Setelah nantinya saya tidak aktif lagi di angkat besi, mungkin saya akan fokus untuk membuka usaha kecil-kecilan dari hasil yang telah saya dapat,”ucapnya diakhir pertemuan dengan wartawan koran ini. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *