Bobby Maju di Pilkada Medan 2020, PDIP vs Gerindra atau Berpasangan?

Metropolis
4 TOKOH: Empat tokoh yang dianggap calon kuat untuk diusung PDIP dan Gerindra di Pilkada Medan. Keempatnya yakni Akhyar Nasution (Plt Wali Kota Medan, Bobby Afif Nasution (menantu Presiden Joko Widodo),  Dahnil Anzhar (jubir Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto) dan H Ihwan Ritonga (Wakil Ketua DPRD Medan).
4 TOKOH: Empat tokoh yang dianggap calon kuat untuk diusung PDIP dan Gerindra di Pilkada Medan. Keempatnya yakni Akhyar Nasution (Plt Wali Kota Medan, Bobby Afif Nasution (menantu Presiden Joko Widodo), Dahnil Anzhar (jubir Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto) dan H Ihwan Ritonga (Wakil Ketua DPRD Medan).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerindra saat ini menjadi dua parpol terkuat untuk bertarung dalam Pilkada Medan 2020. Pasalnya, keduanya mampu mengusung pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota tanpa berkoalisi. Selain itu, keduanya memiliki beberapa tokoh yang dinilai menjual’, pada perebutan kursi nomor satu dan dua Kota Medan. Namun masuknya Bobby Afif Nasution dalam bursa, dinilai bisa mengubah peta percaturan.

“MAJUNYA Bobby yang merupakan menantu Presiden Joko Widodo sebagai bakal calon (balon) Wali Kota Medan, bisa membuat arah dukungan politik di tingkat pusat bermuara kepadanya. Kalau Bobby resmi diusung PDIP, tentu PDIP di tingkat pusat tidak akan diam. Lobi politik di atas yang akan berjalan. Bukan ditingkat lokal lagi. Langkah Bobby untuk menang di Pilkada Medan bahkan bisa saja berjalan mulus,” kata pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara, Dr Warjio, kepada Sumut Pos, Kamis (12/12).


Sekalipun masih sebuah prediksi, menurut Warjio, majunya Bobby Nasution dapat memunculkan ‘politik settingan’ pada Pilkada Medan. “Bisa saja semua kekuatan besar justru mendukung Bobby, tak terkecuali Gerindra sendiri pada akhirnya bisa mendukungnya,” kata dia.

Menururutnya, Bobby bisa maju dengan lawan yang merupakan calon dengan kekuatan dukungan politik yang jauh di bawahnya. “Pilkada Medan 2020 bisa rentan politik settingan. Itu bisa saja terjadi, walaupun hal yang lain kita bisa terjadi,” jelasnya.

Saat ini, kata Warjio, semua partai politik masih dalam masa penjajakan satu sama lain. Hal ini dilakukan untuk saling melihat peta kekuatan yang bisa menjadi arah politik. “Tentunya tujuannya ingin menang. Maka barang tentu dukungan itu juga diberikan kepada pihak yang dinilai paling punyan

potensi untuk menang. Selain itu juga tidak terlepas dari deal-deal politik di tingkat pusat,” sebutnya.

Saat ini, di kubu PDIP, ada dua dari 10 nama yang telah mendaftarkan diri dan disebut-sebut menjadi calon kuat untuk diusung di Pilkada Medan. Keduanya adalah Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution dan Bobby Afif Nasution, menantu dari Presiden Joko Widodo.

Di kubu Gerindra, ada nama Wakil Ketua DPRD Medan, H Ihwan Ritonga dan Dahnil Anzhar Simanjuntak, juru bicara Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, mantan Capres nomor urut 2.

PKS Kuda Hitam?

Di sisi lain, ada beberapa partai yang disebut-sebut dapat membangun poros tengah kekuatan persaingan. Salahsatunya adalah PKS. Maklum, PKS berhasil meraih 7 kursi di DPRD Medan dan hanya membutuhkan 3 kursi tambahan untuk bisa membangun kekuatan baru. Apalagi, saat ini hubungan PKS di kepengurusan pusat disebut sedang ‘mesra’ dengan NasDem, yang memiliki 4 kursi di DPRD Medan.

Tentang hal itu, PKS tidak sepenuhnya mengamini maupun membantah. “Benar bahwa PKS bisa menjadi kuda hitam, dengan menggaet salah satu partai yang punya 4 kursi di DPRD Medan, katakanlah NasDem, Golkar dan Demokrat. Dan bisa saja itu terjadi, mengingat hubungan PKS memang sedang mesra dengan NasDem dan juga Golkar,” ucap Sekretaris DPD PKS Medan, Rudiyanto SPdI kepada Sumut Pos, Kamis (12/12).

Namun, kata Rudiyanto, ada juga sinyal-sinyal PKS berkemungkinan berpasangan dengan salah satu Calon Wali Kota Medan, entah dari kubu PDIP ataupun Gerindra. “Kalau kader PKS berpasangan dengan salah satu calon dari PDIP, katakanlah Bang Bobby atau Bang Akhyar, atau juga bisa dari Gerindra, katakanlah Bang Ihwan atau Bang Dahnil, itu juga menarik. Mereka itu kekuatan besar. erpasangan dengan mereka juga bisa terjadi,” ujarnya.

Meski begitu, lanjutnya, keputusan ada ditangan DPP. Artinya, apapun masih bisa terjadi, baik menjadi pendukung bahkan pasangan dari salah satu pihak tersebut. Ataupun membangun ‘perahu’ baru dengan menggaet partai lainnya.

“Nantinya kami di sini akan mengusulkan ke DPP. DPP punya hak memberi keputusan mengenai sikap yang akan diambil. Apapun itu, tujuannya hanya satu, yaitu membangun Kota Medan menjadi lebih baik,” katanya.

Ppengamat politik dari USU, Dr Warjio, mengakui PKS bisa merupakan salah satu pilar kekuatan baru di Pilkada Medan 2020, dan berpotensi untuk menjadi kuda hitam. Meski berpeluang, menurutnya PKS sulit merealisasikannya.

“Secara logika, PKS punya potensi menjadi kuda hitam. Tapi secara politis hal itu cukup sulit terjadi. Alasannya jelas, keputusan ada di tangan DPP, bukan di pengurus partai tingkat lokal. Lobi-lobi politik di tingkat pusat bisa membuat semua prediksi di tingkat lokal menjadi tidak sesuai,” kata Warjio.

“Dan bisa saja semua kekuatan besar justru mendukung Bobby, tak terkecuali Gerindra sendiri pun pada akhirnya bisa mendukungnya. Nantinya Bobby bisa maju dengan lawan yang merupakan calon dengan kekuatan dukungan politik yang jauh di bawahnya. Pilkada Medan 2020 bisa rentan politik settingan, itu bisa saja terjadi, walaupun hal yang lain kita bisa terjadi,” jelasnya.

Sebelumnya, plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution, menantu Presiden Jokowi, Bobby Afif Nasution, Wakil Ketua DPRD Medan, Ihwan Ritonga, dan jubir Capres Prabowo Subianto, Dahnil Anzhar Simanjuntak, mengatakan siap diusung parpol menjadi calon Wali Kota Medan. (map)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *