Bocah 6 Tahun Tewas Terpanggang

Metropolis
TRIADI WIBOWO/SUMUT POS EVAKUASI: Petugas pemadam kebakaran mengevakuasi mayat korban Abdika Fahlevi (6 tahun) menuju mobil ambulan dalam peristiwa  kebakaran di Jalan Sisingamangaraja, Minggu (26/5).
TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
EVAKUASI: Petugas pemadam kebakaran mengevakuasi mayat korban Abdika Fahlevi (6 tahun) menuju mobil ambulan dalam peristiwa kebakaran di Jalan Sisingamangaraja, Minggu (26/5).

MEDAN-Sebuah bengkel dan tambal ban di Jalan Sisisngamangaraja Medan, persis di simpang Jalan Juanda Medan, dilalap api, Minggu (26/5) pagi sekira pukul 09.00 WIB. Dalam peristiwa ini, anak pemilik tambal ban Abdika Fahlevi (6 tahun) tewas terpanggang.
Korban yang duduk di bangku sekolah dasar kelas In

ini ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di kamar mandi rumah tersebut. Sang ayah, Azhar (48), juga mengalami luka bakar di wajah akibat berusaha untuk menerobos kobaran api saat ingin menyelamatkan korban.


Informasi yang diperoleh Sumut Pos dari lokasi, kebakaran bermula ketika Azhar memasak air.  Usai menghidupkan kompor, dia pun pergi meninggalkan rumah. Di dekat kompor tersebut, anak sulungnya bernama Indah (20) sedang memasukkan bensin ke botol untuk dijual. Memang, Azhar tak hanya membuka usaha tambal ban saja, tapi juga menjual bensin enceran.

Tak lama kemudian, korban Abdi yang merupakan anak bungsu dari lima bersaudara itu, telah bangun pagi dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tiba-tiba, api dari kompor tersebut menyambar bensin yang sedang dituang Indah. Keberadaan bensin sebanyak 20 liter tersebut pun membuat api cepat membesar dan membakar seisi rumah berlantai dua ukuran 6×6 meter tersebut. Apalagi, rumah itu terbuat dari kayu.

Saat api mulai membesar, Indah bersama dan 3 adiknya dengan cepat berlari keluar seraya berteriak kebakaran. Sementara, korban terkurung di kamar mandi dan memilih bertahan di kamar mandi karena takut dengan korban api.

Azhar yang mengetahui rumahnya terbakar, langsung bergegas datang. Mengetahui anak bungsunya terkurung di kamar mandi, Azhar lalu membuka baju dan berusaha untuk menerobos masuk kobaran api, namun tak bisa menerobos karena api kian besar. Akibatnya, wajah Azhar melepuh karena sempat dijilati api.

“Waktu kejadian, kelima  anak Azhar sedang berada di rumah, yakni Indah, Raffi, Fajar dan Evi cepat keluar menyelamatkan diri, sementara korban tertahan di kamar mandi. Warga juga sudah berusaha untuk memadamkan api dengan cara mengambil air dari paret. Tapi api tak berhasil dipadamkan,” tutur warga sekitar, Iwan (50).

Dalam waktu dua jam, atau sekitar pukul 11.00 WIB, sekitar 6 unit armada pemadam kebakaran dari Dinas Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran (DP2K) Kota Medan tiba di lokasi. Meski api sudah hampir padam, namun petugas pedaman tetap menyemprotkan air untuk mencegah rembetan api, petugas lalu mengevakuasi jasad korban yang ditemukan dalam kondisi telungkup persis di depan kamar mandi.

Kakak korban yang melihat jasad adiknya itu langsung pingsan hingga terpaksa dilarikan ke rumah neneknya yang tak jauh dari lokasi kejadian. Ketika sadar dari pingsan, kakak korban Indah menangis maraung-raung di rumah neneknya. Dia sepertinya merasa bersalah atas kematian adiknya tersebut. Indah terlihat beberapa kali memukul-mukul wajahnya. Meski sudah dihibur warga, tapi tetap saja Indah tidak berhenti menangis. “Aku juga mau ikut mati dengannya,” begitulah jerit Indah berkali-kali. Sedangkan Azhar terlihat duduk lemas sambil bersandar di dinding rumah orangtuanya tersebut. Sementara jenazah korban langsung diboyong ke RSU Pirngadi Medan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (P2K) Kota Medan M Tampubolon mengatakan, kebakaran tersebut terjadi akibat api kompor menyambar bensin yang sedang dipindahkan. Ini merupakan kedian yang juga disebabkan oleh adanya bensin yang dijual secara enceran. “Untuk kesekian kalinya, kebakaran disebabkan bensin yang djual secara enceran. Kita berharap agar pihak Pertamina melakukan pengawasan secara ketet terhadap penjualan bensin enceran tersebut, sebab sudah banyak korbannya,” katanya.

Dia pun membantah tudingan warga terhadap lambatnya mobil pemadam yang tiba di lokasi. Dijelaskan, pihaknya mendapat informasi kebakaran tersebut sekitar pukul 11.00 WIB kurang, karena itu mereka juga terlambat sampai di lokasi. “Informasi yang kita peroleh lambat, karena yang melapor juga terlambat. Itulah mengapa kita terlambat sampai di lokasi,” sebutnya.
Kapolsekta Medan Kota Kompol Paulus H Sinaga saat dikonfirmasi Sumutpos mengatakan, hasil penyeledikkan sementara, api berasal dari bensin eceran yang dijual korban selaku pemilik bengkel tambal ban. “Berdasarkan keterangan saksi sumber api dari bensin, namun itu masih proses dalam penyeledikkan,”ucapnya.(gus/mag-7)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *