Boleh Pulang kalau Berat Badan Tambah 3 Gram

Metropolis

Nabila, Penderita Gizi Buruk di RSUD Pirngadi

Nabila (2) terbaring lemah di Ruang Anak kelas III Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan. Ini untuk kedua kalinya bayi di bawah lima tahun (balita) itu dirawat di rumah sakit yang sama. Untuk bisa kembali pulang, bobot tubuhnya harus bertambah sedikitnya tiga gram lagi.


Kesuma Ramadhan, Medan

Sumiati (36), ibu Nabila, tetap berusaha tersenyum. Ketika ditemui Sumut Pos di RSUD dr Pirngadi, wajahnya terlihat lelah. Bagaimana tidak, Nabila anaknya telah dirawat lebih kurang sebulan lamanya.

Di usia dua tahun Nabila hanya memiliki berat badan 6,7 kilogram jauh dari berat normal yakni 12 kilogram. “Anak saya dirawat di rumah sakit ini untuk kedua kalinya. Sebelumnya dia juga pernah mendapatkan perawatan di rumah sakit Pirngadi selama 16 hari pada Desember lalu dengan penyakit yang sama yakni gizi buruk,” ungkap Sumiati, Rabu (25/1).

Naasnya, selain didiagnosa penyakit gizi buruk, Sumiati mengakui jika anaknya juga mengalami gangguan pada paru-parunya. Pasalnya lebih dari enam bulan lamanya, anaknya tak kunjung sembuh dari penyakit batuk. “Batuknya gak juga sembuh, itu yang buat dia malas makan dan jadi kurus sehingga diketahui kalau dia gizi buruk. Tapi untuk penanganannya saat ini menurut dokter, Nabila juga diberikan obat paru-paru,” ucapnya.
Disinggung mengenai batas akhir perawatan anaknya, Sumiati mengaku jika anaknya akan diperbolehkan pulang tim medis jika berat badan Nabila mencapai tujuh kilogram dan kondisi badannya sudah dianggap membaik.

Sumiati dan anaknya Nabila adalah sedikit kasus gizi buruk  yang tercatat di RSUD dr Pirngadi. Pada 2011, data yang diperoleh di rumah sakit ini, tercatat 19 orang menderita gizi buruk dengan usia rata-rata enam tahun ke bawah.  Dari data tersebut, 2 orang di antaranya meninggal dunia. Untuk 2012, Pirngadi telah merawat dua orang penderita gizi buruk, dengan status satu penderita telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang sedangkan satu pasien lainnya adalah Nabila. “”Sejauh ini kita tetap melayani para penderita gizi buruk baik dalam penanganan gizinya maupun penyembuhan penyakit lain yang dideritanya. Bahkan kita baru mengizinkan pasien meninggalkan rumah sakit jika benar-benar dinyatakan sembuh,” ucap Kasubbag Hukum dan Humas RSUD dr Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin saat ditemui di ruang kerjanya.

Soal gizi buruk ini rupanya masih menjadi masalah bagi Kota Medan. Setidaknya, data yang tercatat di Dinas Kesehatan Medan menyebutkan, jika kasus gizi buruk pada 2011 dialami sedikitnya 124 orang sementara pada 2010 lalu yakni 163 orang. Dari data tersebut, diketahui jika penderita gizi buruk terbanyak ditemukan di Kawasan Medan Utara dengan jumlah 36 orang dan kawasan Medan sunggal dengan 20 orang, serta Medan Area dan Medan tembung 10 orang.

Dari angka temuan 124 kasus penderita gizi buruk pada 2011, 4 orang diantaranya meninggal dunia.

Hal ini disampaikan Endang Mardianti, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Kabid Yankes) Dinas kesehatan Kota Medan saat dikonfirmasi, Rabu (25/1). “Kita sudah sering melakukan penyuluhan tentang penanganan gizi yang baik buat anak, hanya saja sebahagian dari mereka mungkin belum memahaminya. Kebanyakan dari penderita gizi buruk ini adalah masyarakat dengan ekonomi yang serba terbatas,”ujarnya.

Tidak hanya itu saja bahkan bilang Endang, sejumlah bantuan yang telah disalurkan oleh dinas kesehatan Kota Medan, seperti susu dan bahan makanan bergizi lainnya tidak dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat. “Bahkan beberapa masyarakat yang telah kita berikan bantuan susu bukan untuk dikonsumsi anaknya melainkan dijual. Hal ini lah terkadang yang membuat keprihatinan bagi kita,”ungkapnya.

Di tempat terpisah, Anggota Komisi B DPRD Medan  Khairuddin Salim, membidangi masalah kesehatan mengatakan, angka temuan penderita gizi buruk 2011 sangat tinggi dan sangat riskan. Mengingat anggaran untuk penanggulangan gizi buruk 2011 berjumlah 4 miliar yang terbagi dalam beberapa pos. “Anggaran kemungkinan tidak tepat sasaran sehingga gizi buruk dinilai tidak terpantau. Seharusnya Dinkes Medan lebih menggalakkan sosialisasi dimasyarakat. Kita akan pertanyakan ini ke Kepala Dinas Kota Medan dalam waktu dekat,”ujarnya. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *