BOR Medan Turun Jadi 65 Persen, Rumah Sakit Hanya Tangani Pasien Covid-19 Gejala Berat

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tingkat keterisian Bed Occupancy Rate (BOR) atau tempat tidur rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Medan diklaim mengalami penurunan. Sebelumnya sempat 70 persen (Agustus 2021, red), kini sudah di bawah 60 persen.

Wali Kota Medan Bobby Nasution mengaku, saat ini ketersediaan BOR di rumah sakit rujukan Covid-19 sekitar 56 persen. “Terjadi penurunan kasus Covid-19 dalam sebulan terakhir di Kota Medan, karena pada akhir Juli 2021 angka BOR sempat mendekati 70 persen,” kata Bobby diwawancarai usai melihat ruang ICU Covid-19 di RSUD Pirngadi Medan, akhir pekan lalu.


Bobby juga mengatakan, pihak rumah sakit rujukan Covid-19 hanya menerima pasien dengan gejala berat, sehingga penanganannya akan lebih intensif. “Saya sudah pesankan kepada Plt Kadis Kesehatan Kota Medan agar menambahkan tempat tidur di ruang ICU RSUD Pirngadi Medan. Meski begitu, diharapkan tidak cepat terisi sehingga otomatis angka BOR di Kota Medan menurun,” ujarnya singkat.

Sementara itu, terkait perkembangan kasus harian Covid-19 di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), terus mengalami penurunan. Berdasarkan data Kemenkes yang disampaikan BNPB pada Minggu (5/9), tercatat jumlah kasus baru positif Covid-19 yang diperoleh yaitu 393 orang. Dengan penambahan ini, maka total kasus positif menjadi 99.215 orang.

Sedangkan untuk angka kesembuhan, Sumut memperoleh penambahan 532 orang, sehingga totalnya naik menjadi 77.635 orang. Selanjutnya, untuk angka kematian diperoleh penambahan 6 orang sehingga totalnya 2.444 orang. Karena itu, berdasarkan data-data tersebut maka, total kasus aktif Covid-19 di Sumut kini tinggal 19.136 orang.

3,8 Juta Pasien Sembuh

Secara nasional, Satgas Penanganan Covid-19 mencatat, jumlah pasien yang telah sembuh dari Covid-19 di Indonesia menjadi 3.837.640 setelah mengalami kenaikan sebanyak 10.191 pasien pada Minggu (5/9). Jawa Tengah menjadi daerah yang memiliki jumlah pasien sembuh terbanyak yakni 1.042 pasien, diikuti DI Jogjakarta dengan total pasien sembuh sebanyak 981 pasien.

Daerah selanjutnya yang memiliki jumlah pasien sembuh terbanyak adalah Jawa Timur sebanyak 879 pasien, Jawa Barat 804 pasien dan 649 pasien sembuh di Kalimantan Timur.

Disebutkan bahwa jumlah kasus aktif telah mengalami penurunan sebanyak 5.180 kasus, sehingga jumlah kasus aktif di Tanah Air kini tersisa 155.519 kasus. Walaupun kasus aktif di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan, jumlah orang yang terkonfirmasi terinfeksi virus Corona tipe SARS-CoV-2 masih bertambah sebanyak 5.403 jiwa. Sehingga total warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 menjadi 4.129.020 jiwa.

Jumlah orang yang meninggal pun masih mengalami kenaikan sebanyak 392 jiwa, menjadikan total pasien yang meninggal mencapai 135.861 jiwa. Dengan Jawa Tengah menjadi daerah penyumbang kasus kematian terbanyak 89 jiwa.

Diikuti oleh Jawa Timur sebanyak 70 jiwa, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan 22 kasus, DI Yogyakarta dan Riau 21 jiwa serta Bali sebanyak 18 jiwa. Selain itu, 264.081 warga Indonesia masuk ke dalam kategori suspek. Hasil tersebut didapat setelah melakukan pengujian pada Minggu terhadap 171.885 spesimen dari 104.944 orang di ratusan jejaring laboratorium di seluruh Indonesia.

Malaysia Diminta Belajar ke Indonesia

Malaysia heran mengapa kasus Corona di Indonesia menurun drastis, lebih cepat dibandingkan tren kasus di negaranya. Hal ini disampaikan pemimpin Partai Aksi Demokratik (DAP) Lim Kit Siang.

Dikutip dari Malaymail, Lim mempertanyakan hal ini kepada Menteri Kesehatan Malaysia Khairy Jamaluddin. Ia menegaskan, jika vaksinasi bukan satu-satunya cara menyelesaikan masalah Corona di Malaysia.

“Bisakah menteri kesehatan yang baru, Khairy Jamaluddin, menjelaskan mengapa selama 16 hari berturut-turut, Indonesia telah mengurangi kasus baru Covid-19 hariannya menjadi kurang dari Malaysia bahkan kurang dari setengah seperti kemarin 8.955 kasus menjadi 20.988 kasus Malaysia?” tanya Lim.

“Ini bukan mencari-cari kesalahan tetapi mencari cara untuk meningkatkan penanganan kita terhadap pandemi Covid-19 sehingga memenangkan perang melawannya,” tambah pemimpin DAP itu.

Catatan Lim, Malaysia saat ini menjadi salah satu negara dengan kinerja terburuk di dunia terkait respons Covid-19. Kasus baru per satu juga penduduk berada di 572,43 dibandingkan dengan Indonesia 37,40.

Sementara prevalensi di Filipina 126,95 dan 61,27 di Myanmar, menurut data Our World in Data per 1 September. Tak hanya itu, Malaysia juga menempati puncak kematian COVID-19 dengan 8,48 per satu juta orang. Vietnam setelahnya, berada di posisi kedua dengan 8,19 insiden kematian harian. Sementara Indonesia adalah 2,36, masih berdasarkan laporan yang sama. “Pada laju infeksi dan kematian saat ini, kami akan menembus angka 1,8 juta untuk total kumulatif kasus Covid-19 hari ini,” kata Lim.

“Kami akan memecahkan angka dua juta untuk total kumulatif kasus COVID-19 dan memecahkan angka 20 ribu untuk kematian akibat COVID-19 ketika kami merayakan Hari Malaysia ke-58 pada 16 September 2021,” tambahnya.

Malaysia dapat menyalip dua negara lagi, Irak dan Belanda, untuk menduduki peringkat ke-21 di antara negara-negara dengan total kumulatif kasus Covid-19 terbanyak, bergabung dengan 20 negara lain yang melaporkan lebih dari dua juta kasus Covid-19.

Sementara anggota parlemen Iskandar Puteri membandingkan keberhasilan Indonesia dalam mengurangi jumlah kasus hariannya, dengan mengatakan negara tetangga itu, meskipun populasinya lebih besar, telah berhasil mengurangi tingkat infeksi Corona jauh lebih cepat daripada Malaysia.

Antisipasi Pandemi jadi Endemi

Pemerintah mendorong masyarakat untuk menguatkan disiplin protokol kesehatan (prokes) dalam kehidupan sehari-hari serta mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang sedang berjalan saat ini. Penguatan disiplin prokes dan vaksinasi ini sejalan dengan persiapan yang dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi skenario perkembangan pandemi Covid-19 dalam jangka panjang dan potensi perubahan status wabah ini menjadi endemi.

Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah menyebutkan, peluang Covid-19 untuk diklasifikasikan sebagai endemi di masa mendatang terbuka lebar, seperti halnya penyakit malaria atau demam berdarah. Covid-19 dapat diklasifikasikan sebagai endemi jika terus hadir secara konstan dalam populasi di wilayah geografis tertentu, dengan tingkat dan pola penularan yang sudah lebih terprediksi.

WHO sejak Maret 2020 telah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi akibat tingkat penyebarannya yang eksponensial secara global dan tidak mengkategorikannya sebagai epidemi karena tidak terbatas pada satu wilayah geografis semata.

Selain WHO, sejumlah negara juga telah menyepakati potensi pandemi Covid-19 berubah menjadi endemi dan melakukan berbagai persiapan. Seperti halnya negara Malaysia yang telah mengajak seluruh warganya untuk bersiap dengan kemungkinan hidup bersama Covid-19 sebagai endemi.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate, dalam keterangannya, Sabtu (4/9) mengatakan, instrumen yang cukup membedakan pandemi dan endemi adalah prediktabilitas. “Setelah menjadi endemi, penyebaran wabah lebih dapat diperkirakan, sehingga kita dapat menyusun langkah-langkah antisipasi. Jadi, meskipun kita akan hidup bersama Covid-19 dalam waktu lama, namun situasi akan lebih terkendali,” ujarnya.

Sedangkan Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany, menyatakan bahwa di mana pun di dunia, pandemi akan dapat berubah menjadi endemi. Mengenai waktunya, Hasbullah mengatakan bahwa hal itu akan ditetapkan oleh WHO. “Siapa pun bisa terkena penyakit endemi tersebut. Agar tidak tertular, sederhana. Pakai masker. Selain itu cuci tangan yang bersih, jaga jarak, dan selalu waspada menganggap orang di dekat kita berisiko membawa virus. Jadi disiplin diri adalah kuncinya,” tuturnya.

Johnny G Plate menambahkan, sebagai langkah antisipasi perubahan status Covid-19 menjadi endemi di Indonesia, seluruh masyarakat Indonesia harus berpartisipasi aktif dalam menjaga kedisiplinan menggunakan masker dan menyegerakan vaksinasi. Protokol kesehatan lain seperti menjaga jarak dan rajin mencuci tangan juga tak kalah penting untuk selalu diterapkan.

“Menggunakan masker dan melakukan vaksinasi bukanlah dua hal terpisah. Keduanya harus berjalan beriringan sebagai upaya kita untuk mengalahkan Covid-19. Tidak hanya berfungsi memberi perlindungan dan pencegahan, menggunakan masker dan vaksinasi juga sangat penting untuk menghindari dampak fatal apabila terpapar Covid-19. Dengan kerja sama semua pihak untuk disiplin bermasker dan menyegerakan vaksinasi, pemerintah sangat optimis COVID-19 di Indonesia dapat berubah menjadi endemi,” jelas Johnny G Plate. (ris/jpg/dtc)

loading...