Budaya Jampi Uci

Budaya Cerpen

Dengar jika satu waktu kalian singgah di daerah Ogan—entahlah kebetulan karena kemalaman di jalan, sengaja bertandang untuk menemui sanak keluarga-sahabat lama, atau seperti halnya diriku yang membawa isteri pulang menengok mertua—dan pegal linu benar badan oleh jauh dan beratnya perjalanan. Terlebih jika kalian merasa sedikit meriang, mual dan pening kepala (Hm… alamat ada angin jahat bersarang). Alangkah baiknya ikuti saja saran orang-orang di sana: Panggillah seorang tukang pijat yang banyak berpraktek di dusun-dusun kecil sampai kota kabupaten, dari ilir hingga ke ulu aliran sungai Ogan.

Cerpen:  Sunlie Thomas Alexander


Jangan kuatir Kawan, jika isi dompet   kalian pas-pasan. Tak mahal tarif si bibi atau si mamang, kendati nantinya kalian bakal ketagihan dan memanggil mereka berulang-ulang. Sebaliknya cukuplah 20 ribu, bakalan kalian menggeliat nikmat selama satu setengah hingga dua jam sembari merintih-mengerang. Maklum, tarif kampung. Tapi rasanya, Kawan… Amboooi! Sepanjang badan, sepanjang keletihan, sepanjang ingatan tatkala usai prosesi pijatan.
Karena itu, jika kalian agak berduit dan cukup dermawan. Tak salah kiranya selipkanlah 10 atau 15 ribu di luar tarif wajar, sekadar uang rokok si mamang atau menambah belanja dapur si bibi. Ya, sebagaimana kalian memberi tips pada gadis-gadis salon atau si cantik-seksi yang telah membuat kalian blingsatan semalaman di panti-panti pijat plus berlampu temaram. Ai, untuk urat-urat tegang yang mengendor seiring keluarnya angin jahat dari badan, untuk tubuh yang seketika kembali segar-bugar, cukup adil bukan?

Begitu mahirnya jari-jari itu menekan, mencari dan membetulkan urat-urat yang kejang. Waktu satu-dua jam pun terasa beberapa menit saja dan tak ingin kalian berkesudahan. Tahu betul si bibi dan si mamang di mana titik-titik angin mendekam; yang membuat pegal-linu badan dan ngilu merasuk hingga ke dalam tulang belulang.

Sehingga tak sekalipun aku enggan lewatkan kesempatan merasakan lagi jari-jari sakti si bibi atau si mamang tiapkali bertandang ulang ke tanah Ogan, saban waktu berkunjung ke rumah mertua atau mudik berlebaran. Rasa-rasanya memang tak ada tandingan! Tidak para tukang pijat buta di pantai-pantai ataupun si cantik-seksi bertarif mahal di panti pijat dan hotel-hotel berbintang yang telah kerap menjamah badan payah ini, Kawan.
Ah, tahukah kalian bila pijatan-pijatan mujarab itu tak semata kepiawaian? Sebab bersamaan dioleskannya minyak ramuan dedaunan yang panasnya meresap ke sekujur badan, sepotong jampi-jampi dengan lembut telah dilafadzkan: Bismilahirrohmanirrohim. Si Naam dengan Si Naim, mati di tubuh rajo sakti. Turun ke darat jadi Uci, turun ke laut jadi Suci…

Seolah-olah dendang yang terlantun di tengah kesunyian ladang. Betapa syahdunya jampian itu menyelinap di telinga dan seakan mantra sirep yang membuat kalian terbuai perlahan. Sebelum akhirnya kalian mulai menggeliat-menggelinjang, memekik tertahan bahkan mengerang-erang oleh tekanan demi tekanan, tarian demi tarian jari-jemari lihai itu di setiap bagian badan. Di antara lelap dan jaga yang melenakan! Tidak ada yang terlewatkan. Sepanjang tubuh membujur dari tumit, betis, paha, pantat, punggung, bahu, tangan, leher, sampai kepala.

Pijatan demi pijatan, kalian tahu, bukan saja sekadar lenggangkan syarat dan sendi yang kaku atau membetulkan kusutnya urat-berurat. Karena tak lama kemudian, akan kalian rasakan bagaimana pasir-pasir halus bermunculan di setiap organ tubuh yang terjamah. Sungguh benar itu pasir, Kawan! Timbul ia dari pori-pori kulit dengan ganjilnya hingga berserakan di sepanjang badan kalian yang terbelintang di atas tikar pandan.
“Haq tawar. Yang tajem tumpul, yang biso tawar. Allah yang menawari, bukannyo aku yang menawari…,” begitulah si bibi atau si mamang terus melafadzkan. Kian banyak angin jahat mendekam dalam badan, kian banyak pula butir-butir pasir yang keluar.

“Kalau anginnya banyak, yang muncul bisa batu koral, Bang. Hahaha!” seloroh adik iparku bercanda. Inilah istimewanya pijatan di tanah Ogan, Kawan. Inilah khasiat Jampi Uci… Ah, demikianlah turun-temurun mantra pijat itu dinamakan, sekaligus dikeramatkan. Apakah kalian masih menyangsikan?
***
TAK ada pemijat buta seperti yang lazim kautemui di pantai-pantai wisata, atau gadis cantik mulus yang berpraktek di panti-panti pijat, losmen, hingga hotel berbintang. Di daerah Ogan, di dusun kecil kelahiran isteriku, tempat rumah-rumah panggung ratusan tahun berjajar elok di tepian tanjung, para pemijat sakti yang bisa mengubah angin jahat jadi pasir berserakan di permukaan badan hanyalah warga sekitar. Tetangga kiri-kanan. Mamang-mamang yang sehari-harinya berladang dan menjala ikan di sungai atau bibi-bibi yang berkarib dengan tungku dan harum bumbu, tapi kapanpun siap dipanggil sebagai tukang pijat bertarif ala kadar.
Banyak di antaranya yang masih cukup muda, sekitar 35-an. Namun, janganlah kalian berharap akan menemukan seorang perawan belia menjadi tukang pijat dari gadis-gadis Ogan yang terkenal rupawan. Sebab itu pantangan. Kendati Jampi Uci diwariskan turun-temurun, tidaklah layak seorang lelaki melakoni prosesi pijatan sebelum berbini dan tidaklah pantas bagi seorang perempuan memijat apabila belum berlaki dan berorok dua, Kawan. Konon, demikianlah perjanjian, demikianlah telah digariskan. Tak boleh terlanggar! Atau Jampi Uci bakal kehilangan segala kemanjuran. Dan di kampung isteriku, dusun dalam bilangan kecamatan Indralaya Selatan, bahkan bisa dilaknat tujuh turunan oleh Usang Rimau, sang tetua sakti berilmu macan yang bermakam di batas dusun sebelah selatan.
Ai, bukan ini perkara yang hendak aku kisahkan!
***
TUBUH-tubuh payah dengan pegal linu sampai ke tulang bolehlah kalian amsal sebagai sebatang pokok cerita dibelintangkan. Sebab, tidakkah kalian penasaran bagaimana riwayat jampi-jampi ajaib nan mujarab ini bermula hingga jauh ia seberangi perbatasan ruang-waktu dibawa anak-cucu? Nah, ini dia pohon kisahnya, yang tumbuh menjulang di daerah sepanjang aliran sungai Ogan. Kuat dan dalam akarnya mencengkram bumi, sementara daun-daunnya lebat dan rindang nian. Kendati tampak sedikit angker, syahdan lantaran legamnya latar belakang.

Beginilah cerita isteriku, Kawan. Konon Jampi Uci berhulu pada sepotong riwayat getir di masa berbilang ratus tahun silam. Ketika dusun-dusun di sepanjang sungai Ogan masihlah sepi dan belum bernama. Masih rimbun rimba dari jamahan tangan manusia, sebab baru di tepian tanjung orang-orang berpancung alas dirikan rumah-rumah.

Di masa harimau-harimau masih bebas berkeliaran inilah, hidup seorang dara beranjak remaja bernama Suci yang galib dipanggil Uci bersama kakeknya. Tertutur kisah, malang nian nasib si Uci lantaran telah ditinggalkan kedua orangtuanya semenjak bayi. Sang Umak meninggal tak lama usai melahirkannya, sedang sang Ubak hilang jejak tatkala mencari damar di rimba seberang tanjung. Entahlah apa yang terjadi. Mungkin lelaki itu diterkam harimau buas, atau hanyut dibawa deras aliran sungai karena rakitnya karam, bisa pula ia terpelosok masuk jurang yang dalam menganga di tengah hutan.

Meski demikian, cucu-kakek itu hidup bahagia. Sungguh, teramat sayang si Gede Lanang—lazimnya seorang kakek disapa di tanah Ogan—pada cucunya semata wayang. Bukan saja lantaran Uci mewarisi keelokan anak gadisnya yang telah berpulang, tapi semuda itu, nyata benar perangai baik si cucu. Tak pernah Uci berbantah, rajin ia sejak terang tanah hingga beduk isya; menanak nasi, masak, mencuci, mengerjakan segala pekerjaan rumah, bahkan tak jarang ikut mencari kayu hingga tepian rimba yang rawan. Seringkali Wak Kadir—begitulah sang Gede dipanggil orang-orang—tak tega melihat Uci berpanas-panas mengeping kayu kering di laman. Hingga pipi cucunya yang mulus jadi ranum kemerahan, dan mungkin halus tangannya juga mulai kapalan oleh kasarnya hulu parang. Terkadang, jika tubuh tuanya meriang atau ngilu tulang kambuh tak kepalang, tak malu pula si dara belia menggendong ikatan kayu bakar ke kalangan (begitu orang-orang dusun menyebut pasar setiap pekan).

Oh, gadis elok, elok juga perangai. Hati lelaki mana tak tergetar. Kendati belum matang buah dadanya tumbuh, belum juga sempurna pinggulnya terbentuk; sudah jelalatan mata para lelaki saban Uci berlenggak mengepit cucian ke tepi anak sungai. Nyaring siutan pun galib melengking dari sela warung kopi tempat bujang-bujang berhimpun. Sesekali, kalian tahu, diselingi pantun rayuan—begitulah kebiasaan Melayu, Kawan.
Ah, dari lamat bisik-bisik dan ramai seloroh nakal hingga pepantun dan siutan, akhirnya kerapkali tersebut nama sang dara dalam igauan. Bahkan diam-diam, sejumlah lelaki yang telah beranak-bini pun kepincut, Kawan! Ujung-ujungnya satu persatu bujang-bujang itu bertandang…

Wak Kadir tersentak! Seolah baru disadarkan kalau cucunya semata wayang telah beranjak remaja. Ai, tentunya kalian mafhum, apabila di masa itu—sekarang pun!—alangkah wajar gadis-gadis dusun usia belasan naik pelaminan. Maka sedikit tergagap Wak Kadir menemui para pemuda dusun yang datang menanyakan atau langsung melamar. Terlebih yang datang Sulaiman, anak tertua penghulu Hatib yang jumawa. Oh, bukan, bukan tak ikhlas ia lepaskan si cucu cantik ke rumah orang, kendati sudah terbayang betapa hari-hari tuanya bakal kesepian dan kerepotan ba’da Uci diakadkan.

“Belum tega Uci tinggalkan Gede sendirian. Siapa nantinya yang masak buat Gede, siapa merawat jika Gede sakit. Belum kepikiran aku ini, De…,” jawab si dara berlinang. Karena itulah sembari menghela nafas, sehalus mungkin Wak Kadir menata kata menolak setiap lamaran. Ah, inikah pokok soal yang menjadi nadi pengkisahan?

Tunggu, jangan dulu berprasangka, Kawan! Sebab cerita isteriku ini belum sampai pada ujungnya. Karena purnama tiga belas hari belumlah bertengger di pucuk bubung rumah-rumah panggung.

***
PURNAMA tiga belas, kalian tahu, cahayanya menyimpan rahasia semesta raya. Seakan memantulkan kesedihan, dan ganjil tatkala jatuh di atas laman. Ya, seperti juga malam itu, ialah penyaksi bisu kisah seorang anak dara sedari terbit di ambang kelam. Sekaligus, atas kekejian yang bisa diperbuat siapapun di sudut bumi ini.
Oh, hingga tinggi ia merangkak lewati bubung rumah panggung tua Wak Kadir, belum juga Uci pulang semenjak pergi mandi-mencuci ke tepian. Tentu tak terkira cemas dan kalutnya si Gede, Kawan. Sedari jatuh maghrib telah disusulnya cucunya dengan obor dan parang panjang. Namun bolak-balik lelaki tua itu menyusuri pinggiran anak sungai, tak juga ditemukannya si cucu semata wayang. Begitu pula para tetangga yang ikut mencari. Berakit sampai ke seberang tanjung pencarian diteruskan, Uci tetap saja lenyap tak tinggalkan secuil jejak, bahkan cuciannya pun tidak!
Apa yang terjadi di ujung petang? Ke manakah raibnya si kembang?

Selarut itu kehebohan menyergap kampung. Lantang bergema bunyi kentongan sampai ke dusun-dusun sekitar, tak hanya menyiarkan kabar tetapi juga segala praduga. Benarkah Uci hanyut dibawa arus deras (mungkin hingga ke laut jauh)? Bukankah pandai gadis itu berenang? Atau dimangsa ia oleh buaya ganas? Sejak kapan buaya pernah terlihat di anak sungai Ogan? Jangan-jangan si cantik diseret hantu banyu ke kedalaman? Atau, apakah ini kerjaan busuk seorang durjana?! Terang Wak Kadir dihinggapi buruk sangka. Tapi siapa yang begitu celaka?

Ah, mungkin salah seorang bujang yang pinangannya ditolak memendam sakit hati dan dendam. Masih terbayang oleh Wak Kadir, betapa wajah bujang-bujang yang ditampiknya bersungut-sungut sebelum berbalik badan. Separoh tampak mengeram. Apalagi Sulaiman.

Namun, bukankah sebetulnya kecantikan dan kepopuleran Uci pun diam-diam mengundang iri dengki banyak gadis sedusun?—Oh, teman-teman sebaya-sepermainan! Sehingga di belakang punggung, kerapkali tatapan sinis dan cibiran teralamatkan. Bisik-bisik dan gunjing pun kerap berseliweran. Begitulah Kawan, meski tentunya bukan salah si Uci jika banyak bujang mabok kepayang. Bukanlah salah bunda mengandung, jika baik perangai dan sikapnya yang penuh sopan santun disenangi orang-orang tua di dusun. Apapula salahnya jika pintar ia mengaji dengan suara merdu seolah berpetunang?
Oh, adakah segala iri dengki atau cinta tak berbalas telah menjelma jadi petaka?
Seperti telah kubilang, hanya purnama tiga belas harilah yang tahu segala rahasia di balik kelam. Duh, siapakah yang mampu menguaknya mencari jawaban? Tidak juga para dukun kampung dan Wak Safrudin sang juru kunci makam keramat Usang Rimau yang ditanyai dengan sepenuh harapan. Uci benar-benar lenyap di ujung petang memasuki kelam ketika purnama di langit masih pudar. Lenyap ia hingga ke bayangan, tak terterawang masin mantra dan gaib mata. Ah, seolah nasib telah menyeretnya dalam pusaran yang sama dengan sang Ubak, yang hilang dalam pekatnya rimba!

Tak bisa menuduh sesiapa—tentu tak ada yang mengaku, kendati tajam firasatnya mengatakan cucunya telah dicelakai, Wak Kadir pun menyumpah serapah pada malam ketiga lenyapnya sang dara: “Wahai, camkan! Jika memang kalian telah berbuat jahat pada cucuku, bakal kalian tanggung akibatnya sampai kiamat tiba! Karena seumur hidup kalian, Uci akan masuk ke dalam tubuh kalian hingga ke tulang-belulang, sampai anak-cucu kalian!”
Syahdan sejak itulah, Kawan, Uci dapat merasuki tubuh kalian sebagai angin yang membuat ngilu sampai ke tulang. Maka, dengan Jampi Uci yang dilafadzkan si bibi atau si mamang, yang turun-temurun diwariskan; mudah-mudahan angin itu bisa dikeluarkan. Dan sebagai tandanya akan muncul pasir-pasir berserakan…

Begitulah cerita isteriku, Kawan. Oh, senantiasa kuingat di tengah sakit dan nikmatnya pijatan, ya setiap pulang ke rumah mertua—misalnya waktu mudik lebaran. Terserahlah pada kalian memaknainya. Kendati tentunya, sebagaimana hikayat-hikayat lama di manapun, tak perlu kalian mencari pembenaran yang masuk di akal.

***
SSST! Sebagai penutup, aku masih punya satu cerita rahasia untuk kalian, Kawan-kawan. Tapi jangan kisahkan pada siapa-siapa ya?
Dengarlah, sebetulnya bukan hanya semata nikmatnya pijatan dan manjurnya Jampi Uci yang membuatku demikian ketagihan dipijit tiga tahun belakangan. Melainkan juga seorang pemijatnya, Kawan! Ya, tukang pijat langgananku itu—ah sebut saja Bi Risma (bukan nama sebenarnya)—sungguh penuh getar. Bukan saja telah dibikinnya tubuh payah ini kembali segar-bugar, tetapi juga bergemuruh rasanya jantung di atas pembaringan. Lentik jari-jarinya yang piawai, lentik pula bulu matanya, Kawan. Berdesir darah Abang oleh janda beranak dua itu setiapkali berhadapan! (*)

Gaten, Yogyakarta, akhir April 2011
Variasi buat Yu Linny Oktovianny

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *