Cegah Difteri pada Anak dengan Imunisasi

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kasus difteri di Sumut terus mengalami peningkatan. Peningkatan faktor penyebab penyakit tersebut dinilai akibat rendahnya cakupan imunisasi. Sebab, imunisasi dapat mencegah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium ini.

Kepala Dinkes Sumut dr Alwi Mujahit Hasibuan mengatakan, Sumut termasuk wilayah yang endemis difteri. Artinya setiap tahun memang ada kasusnya. “Akibat rendahnya angka imunisasi, akhirnya terjadilah peningkatan kasus (difteri). Tahun ini, ada 26 kasus dan jumlah ini meningkat dari tahun lalu yang berjumlah 18 kasus,” ungkap Alwi yang dihubungi, kemarin.


Menurut dia, rendahnya cakupan imunisasi lantaran ada anggapan di masyarakat atau semacam penolakan karena berpendapat haram. Alasannya, bahan dari imunisasi tersebut diharamkan dalam ajaran agama Islam. Nah terkait persoalan ini, sehingga menurun angka cakupan imunisasi di Sumut.

“Percayalah, kita berusaha agar kandungan bahan imunisasi tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Namun demikian, kalau memang masih ada terkandung, karena kita belum mendapatkan bahan yang tidak bertentangan dengan ajaran agama tersebut. Artinya, kita tidak tinggal diam dan terus berupaya,” ujar Alwi.

Karena itu, sambung Alwi, kalau seperti ini kondisinya maka tidak boleh menjadi alasan untuk tidak imunisasi. Sebab, dalam Islam tidak seperti itu penerapan hukumnya. “Maka dari itu, kita himbauan kepada masyarakat agar membawa anaknya untuk imunisasi ke Puskesmas. Hal itu agar tidak terjadi atau mencegah penyakit difteri maupun penyakit lainnya. Sebab, banyak penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi,” paparnya.

Diutarakan Alwi, imunisasi kepada anak dilakukan supaya kekebalan tubuhnya terhadap difteri dan penyakit lainnya tidak mudah terserang. Jika tidak, maka kemungkinan tak hanya difteri tetapi penyakit lain yang berbahaya bisa mewabah.

Alwi mengatakan, ketika terjadi kasus suspect difteri maka tetap diperlakukan seperti terkena difteri. Pertimbangannya, masa inkubasi bakteri penyakit ini sangat cepat dan bisa menyebabkan kematian.

“Selain diberikan tindakan layaknya terkena difteri, jika ada kasus suspect difteri maka dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) yaitu setiap orang yang kontak erat dengan penderita maka diidentifikasi. Setelah PE, barulah dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI) terhadap mereka yang kontak langsung. Mereka diberikan imunisasi dan antibiotik profilaksis selama 7 hari, karena berpeluang besar tertular,” jelasnya.

Tak jauh beda disampaikan dr Restuti Hidayani Saragih SpPD dari RSUP H Adam Malik. Ia mengatakan, penyakit difteri bisa dicegah dengan imunisasi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Bahkan, penyakit ini juga bisa disembuhkan asalkan cepat ditangani dengan benar.

Disebutkan Restuti, vaksinasi difteri yang ditanggung pemerintah adalah untuk anak dan wanita usia subur. Namun, vaksin yang diberikan untuk anak dan dewasa berbeda.

“Vaksin difteri yang diberikan untuk anak dengan usia di bawah 7 tahun yaitu DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus). Vaksin ini gratis atau ditanggung pemerintah tapi hanya didapatkan di Puskemas. Vaksin tersebut tak perlu ragu dengan kualitasnya karena sudah teruji. Begitu juga dengan wanita usia subur asalkan datang ke Puskemas, bukan ke praktik dokter spesialis karena tidak ditanggung pemerintah,” kata dia.

Oleh sebab itu, lanjutnya, kepada para orangtua diingatkan untuk memeriksakan Kartu Imunisasi Anak apakah sudah lengkap imunisasinya? Jika belum, maka harus dilengkapi dengan datang ke Puskemas. “Apabila sudah terlambat satu bulan atau bahkan satu tahun, jangan khawatir dan tetap datang ke Puskesmas. Nantinya, tetap dilakukan imunisasi tetapi masuk kategori menyusul (catch up) sampai anak usia 12 tahun. Sebab, lebih dari 12 tahun dianggap sudah remaja dan dewasa (lebih dari 18 tahun),” terang Restuti.

Ia menambahkan, untuk mencegah difteri tidak hanya mengandalkan vaksinasi saja tetapi juga harus menerapkan PHBS. Pasalnya, penyakit ini penularannya dari percikan ludah, kontak erat hingga kulit luka yang terbuka. “Jadi, ketika hendak menyentuh makanan harus dibiasakan mencuci tangan dengan baik dan benar, menggunakan sabun cuci tangan dan setelah itu dikeringkan dengan kain yang bersih atau tisu. Makanya, budaya cuci tangan ini harus dibiasakan sejak dini, sehingga dewasa nanti sudah terbiasa,” bilangnya.

Diketahui, empat orang anak asal Simalungun, YS (6), HS (5), RS (3), dan MS (2) yang merupakan satu keluarga, suspect difteri dan dilarikan ke RSUP H Adam Malik pada awal bulan ini. Namun setelah menjalani perawatan, satu di antaranya yakni HS meninggal dunia. Sedangkan ketiga anak lagi selamat, bahkan dua di antaranya yaitu RS dan MS telah dibolehkan pulang. Sementara seorang lagi, YS, masih dirawat tetapi kondisinya sudah cukup baik.

Terbaru, seorang anak dari Mandailing Natal (Madina), PA (5), juga suspcet difteri pada Kamis (12/12) kemarin. Kini, anak tersebut masih menjalani perawatan intensif di RSUP H Adam Malik. Dikabarkan, seorang anak lagi yang juga asal Madina dilarikan ke rumah sakit tersebut karena suspect difteri.

Kasubbag Humas RSUP H Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak membenarkan ada seorang anak lagi dari Madina yang dirawat karena diduga terkena difteri. “Jadi, saat ini pasien anak yang dirawat karena suspect difteri ada tiga orang, dua dari Madina dan satu asal Simalungun,” ujarnya. (ris/ila)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *