Dari Nasi Putih, Pemuda, Hingga SBY

Sahur Bersama

Sambutan hangat langsung terasa saat tim sahur Sumut Pos menyambangi kediaman Ketua DPD KNPI Sumut H Ahmad Yasyir Ridho Loebis di Jalan Perjuangan No 48 Medan, Sabtu (20/7).

SAHUR: Ketua KNPI Sumut, H Akhmad Yasir Ridho Lubis sahur bersama keluarga  Jalan Perjuangan Medan, Sabtu (20/7)//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
SAHUR: Ketua KNPI Sumut, H Akhmad Yasir Ridho Lubis sahur
bersama keluarga di Jalan Perjuangan Medan, Sabtu (20/7)//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS

TIM sahur bertolak dari Gedung Graha Pena Jalan Sisingamangaraja Medan sekira pukul 03.30 WIB dini hari. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit menuju lokasi sahur.


Tiba di lokasi, tim sahur pun langsung dipersilahkan masuk. Saat berada di dalam, tim tak menyangka suasana di dalam rumah berbentuk ruko (rumah toko) itu lebih nyaman dibanding ruko kebanyakan.

Membuka pembicaraan, pria kelahiran 1971 itu langsung menguak kiprah-kiprahnya untuk para pemuda melalui organisasi yang saat ini dipimpinnya.

Asik menjelaskan, Yasyir yang sambil makan sahur pun tak kunjung menghabiskan makanannya. Lantas, sang istri Seri Inderahayu, pun mengatakan, Yasyir memang lambat makannya. “Iya, abang memang lama makan. Tapi, ia tak susah dan tak pilih-pilih makanan,” ungkapnya.

Menurut Seri, Yasyir bisa makan hanya dengan nasi putih dan garam. “Sudah biasa hidup miskin,” sela Yasyir.

Dan hal tersebut tak hanya terjadi di bulan suci Ramadan.

Karena itu sudah menjadi kebiasaan Yasyir. “Ini jadi satu cara untuk menjaga tubuh saya tetap bugar. Banyak ketuaketua organisasi yang setelah menjabat tubuhnya jadi besar dan bongsor. Saya tidak mau seperti itu,” katanya.

Ayah dari dua anak ini, Atiqa Deeba Lubis, Amira Inaya Lubis, dan (Alm) Adellia Azzahra Lubis, pun melanjutkan pandangannya tentang organisasi. Menurutnya, organisasi memang jalan yang dibentuk untuk melahirkan kader pemimpin. “Untuk itu pula saya kini maju untuk menjadi Caleg. Dan dengan sudah lama berkarir di organisasi, tentunya nanti menghadapi semua orang tak lagi canggung.

Menurut saya, seperti itulah layaknya seorng pemimpin,” jelasnya.

Karena, lanjutnya, jangan jadi pemimpin yang untuk menjelaskan diri sendiri saja tak mampu.”Dan jangan pula, baru mempimpin 10 orang sudah merasa membawahi 10 ribu orang. Itu yang nantinya melahirkan kader yang tak matang dalam mental maupun pengalaman,” jelasYasyirlagi.

Dengan sistem organisasi saat ini, yang harus disalahkan adalah pemimpin saat ini. “Ya, pemimpin kita saat ini mencontohkan sebuah organisasi yang bisa mengangkat sanak famili, dan keluarga untuk menduduki jabatan penting. Dan sistem ini juga harus diubah,” tegasnya.

DenganmajunyaYasyirsebagaicalegDPDRSumut, ia tentu memiliki visi-misi. Meski tak terlalu mengarah ke kepemudaan.

“Untuk keberpihakkan membangun kepemudaan melalui dorongan kepada aktivis pemuda. Pemudayanglayak, harusdidorongmenjadipemimpin,” katanya.

“Tentunya, harus dilihat pula dari kacamata yang profesional, yang matang, yang layak harus didorong menjadi pemimpin,” tambah Yasyir.

Yasyir berpendapat, pada karir politik, yang paling sulit dikendalikan adalah ‘syahwat politik’. “Ini akan menyebabkan politik di Indonesia semakin parah. Karena, godaan memang cukup besar. Misalnya, awal menjadi caleg, ia memakai mobil Kijang, dan tak lama kemudian ia telah memakai Ferrari. Ini tentu akan menjadi bahan kepada orang lain untuk meniru, dan akhirnya terjeblos ke dalam politik yang tak benar,” katanya.

Pada akhir pembicaraan, Yasyir berpesan, jika ingin berorganisasi, maka mulailah dengan mengikuti rambu regulasi organisasi tersebut. “Jadi, dari awal jangan membuat kesalahan. Dan yang paling penting, jangan lakukan nepotisme tuk kepentingan sesaat,” tandasnya. Tak lama, adzan Salat Subuh pun berkumandang. Tim sahur Sumut Pos pun berpamitan untuk meluncur pulang. (tim)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *