Dari RE ke Effendi, PDS Dibayar 10M

Metropolis

Wakil Sekretaris DPW PDS Sebut Andil Oknum BUMN Berinisial B

MEDAN-Perpindahan dukungan Partai Damai Sejahtera dari RE Nainggolan ke Effendi Simbolon dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) menguak cerita lain. Perpindahan mendadak itu dikabarkan berkat adanya aliran dana yang masuk ke kantung PDS.


CAGUBSU: Kader PDIP Effendi Simbolon (tengah) saat mendaftarkan diri  bersama pasangannya Jumiran Abdi  kantor KPUD Sumut  Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan, Jumat (16/11) lalu. //TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
CAGUBSU: Kader PDIP Effendi Simbolon (tengah) saat mendaftarkan diri bersama pasangannya Jumiran Abdi ke kantor KPUD Sumut di Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan, Jumat (16/11) lalu. //TRIADI WIBOWO/SUMUT POS

“Di balik beralihnya dukungan PDS dari RE Nainggolan ke Effendi Simbolon, ada cukong besar berinisial ‘B’ yang bermain. Uang politik Rp10 miliar, berdasarkan informasi yang saya terima diduga menjadin pemicu peralihan dukungan mendadak itu,” tutur Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PDS Sumut, Sahat Simatupang, pekan lalu.

Sahat menambahkan, pihaknya akan mempelajari apakah uang politik itu memenuhi unsur gratifikasi (suap,). Sebab cukong besar tersebut, adalah pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau bekas pegawai BUMN.
“Dari mana dia (B) memiliki uang sebesar itu. Karena pembayaran pertamannya sebesar Rp2,5 miliar memakai cek, memudahkan semua pihak menelusuri cek tersebut dikeluarkan oleh siapa dan dicairkan oleh siapa di bank mana. PDS dibeli Rp10 miliar. Kacau politik kita. Politik transaksional,” kata Sahat lagi.

Ketika kembali dikonfirmasi dan didesak sosok cukong besar yang disinyalir merupakan pegawai atau bekas pegawai BUMN, Sahat Simatupang tetap bertahan dengan pendiriannya untuk tidak memberitahukan siapa nama sebenarnya cukong besar berinisial B tersebut. “Untuk itu, saya benar-benar minta maaf tidak bisa memberitahukannya. Cukup inisial saja ya, tidak etis memberitahukan nama sebenarnya. Ada sama kita soal itu dan tidak bisa diberitahukan nama sebenarnya,” kilah Sahat Simatupang.

Terkait dengan itu, Ketua DPW PDS Sumut, Toga Sianturi, langsung membantah saat dikonfirmasi. “Tidak ada. Semuanya sesuai dengan keputusan partai,” akunya.

“Kan sudah diputuskan dan ditandatangani DPP, kita bergabung dengan PDI P. Ya, mengusung pasangan (Effendi Simbolon dan Djumiran Abdi, red) dari koalisi yang ada,” tambahnya.

Toga pun menyampaikan kalau tidak ada perpecahan di partainya terkait pemindahan dukungan dari RE Nainggolan ke Effendi Simbolon. “Kata siapa terpecah. Sudah ada keputusan dukungan dan sudah ditetapkan,” katanya lagi.
Keterangan Toga berlawanan dengan yang diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDS, Sahat Sinaga saat berada di Gedung Alfa Omega, Jalan Diponegoro Medan. Setidaknya, sang Sekjen cenderung menolak keputusan partai. “Sikap saya pribadi selaku Sekjen, saya  bersahabat dengan RE Nainggolan sudah lama. Persahabatan itu diperlukan ketika sahabat dalam kesulitan. Sebisa mungkin membantu RE Nainggolan dan mengajak semua pihak membantu RE Nainggolan,” ucapnya.
Artinya, Sahat Sinaga menentang atau lari dari sikap PDS yang mendukung Effendi Simbolon-Djumiran Abdi? “Itu kan Anda (wartawan, Red) yang menafsirkan,” katanya.

Faktanya, Sahat tidak menandatangani dukungan PDS terhadap pasangan Effendi Simbolon-Djumiran Abdi yang diserahkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara (Sumut). “Itu cek saja ke KPU,” ucapnya.
Kemudian, ketika disinggung perpecahan PDS terkait dukungan itu, Sahat malah menjelaskan hasil Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) yang digelar Juni lalu. “Sejak Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) PDS sekitar bulan Juni lalu, kita mengusung RE Nainggolan sebagai Cagubsu dan sudah terbentuk Dewan Pengurus Cabang (DPC) PDS sebagai Sahabat RE. Dan itu terus mendukung dan konsisten. Di atas hukum, ada nilai-nilai yang berlangsung sekarang. PDS mengusung RE. Kita punya lima kursi, kemudian menunggu parpol lain. Kemudian, RE ikut mendaftar di parpol lain sampai fit and profer test. PDS tetap ke Pak RE. Tapi, ketika sudah ikut, kenapa tidak ada hasilnya? Ya, tapi itu urusan rumah tangga negara lain (parpol lain, Red), “ kata Sahat.

Ketika disinggung apakah dirinya siap menerima sanksi atau konsekuensi dari partai karena tetap mendukung RE, Sahat menyatakan kesiapannya.”Siap apapun yang akan terjadi. Di negeri ini, politisi-politisi harus siap,” jawabnya.
Lalu, bagaimana dengan kabar deal pengalihan dukungan senilai Rp10 miliar tadi? “Saya malah tidak tahu. Berapa tadi? Rp10 miliar ya? Banyak sekali ya,” akunya.

Kemudian Sumut Pos menyinggung, berapakah sebenarnya deal yang telah terjadi antara PDS dengan PDI P dalam rangka pemberian dukungan, Sahat Sinaga kembali mengaku tidak mengetahuinya.
“Saya tidak tahu, dan tidak mengerti deal-deal itu. Saya berpandangan, uang tidak bisa membeli prinsip dan komitmen yang kita miliki. Kita konsisten dan konsekuen untuk tetap mendukung RE Nainggolan,” tegas Sahat Sinaga.
Secara terpisah, Sekretaris DPD I PDI P Sumut, HM Affan SS yang dikonfirmasi Sumut Pos atas indikasi pembelian dukungan PDS sebesar Rp10 miliar, mengaku hal itu tidak ada hubungannya dengan PDI P. Dikemukakannya, dalam konteks ini PDI P tidak mengenal istilah pembelian dukungan partai dan calon lain. “Itu tidak tahu saya. Itu PDS yang tahu. Dan, PDI P tidak mau serta tidak pernah seperti itu. Koalisi dengan PDS sudah sesuai dan Ketua DPW PDS sudah memberikan keterangan pers atas dukungan ke PDI P,” tegas HM Affan yang juga Wakil Ketua DPRD Sumut ini. (ari)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *