Denny Ilham tak Ditahan, Korban Surati Kompolnas

Hukum & Kriminal
Denni Ilham Panggabean SH
Denni Ilham Panggabean SH

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Belum ditahannya mantan Ketua DPRD Kota Medan, Denny Ilham Pengabean oleh Subdit II/Harda Tahbang Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Sumut, membuat kuasa hukum Arkham Ray yang jadi korban penipuan, gerah. Karena itu, pihaknya akan menyurati dan melaporkan penanganan kasus ini ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Kepada wartawan, Minggu (2/3) siang, kuasa hukum korban, Freddy Purba mengatakan, pihaknnya mendesak penyidik Poldasu segera menahan mantan Ketua DPC Parta Demokrat Kota Medan itu. Pasalnya, bukti-buki dalam kasus tersebut sudah lengkap.


“Apa lagi alasan untuk tidan menahan dan menyelesaikan kasus ini. Coba dilakukan secara profesional pasti cepat selesai. Makanya, akan kami surati dan melaporkan ke Bid Propam Poldasu, Irwasda Poldasu, Kapoldsu Irjen Pol.Syarief Gunawan dan Kompolnas dalam waktu dekat ini. Untuk menanyakan kejelasan dalam penanganan kasus ini,” ucapnya. Pasalnya, beber Freddy, surat izin penahanan terhadap Denny telah dikeluarkan Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho dan disampaikan kepada penyidik Poldasu.

“Kan sudah keluar juga surat penahanan dari Gubsu yang kita dapatkan informasinya. Jadi, apa lagi yang kurang. Saya pantau terus masih dalam penyidikan. Sudah jelas dalam manajemen penyidikan. Ada katagori penyidikan ringan dan berat. Sedangkan kasus klain saya ini masuk dalam katagori ringan,” terangnya.

Freddy mengatakan, dalam kasus kliennya tidak banyak menuntut hanya saja mau minta uang yang ditipu oleh Deny Ilham Pengabean agar segera dikembalikan lantaran sudah ada perjanjian untuk mengembalikan uang tersebut. Namun, tidak dilakukan oleh Deny sendiri selaku tersangka dalam kasus ini.

“Tidak banyak pak Arkham meminta, hanya uangnya saja dikembalikan. Sudah ada perjanjian untuk mengembalikan secara deadline pada tahun 2013, yang lalu. Hingga saat ini, belum juga dilakukan,”kata Freddy. Masih katanya, Freddy meminta keprofesional polisi dalam menangani kasus ini diselesaikan. “Profesional lah bekerja. Jangan lagi klien saya terus dirugikan dan berikan keadilan dengan prosedur hukum yang ada,” tandasnya.

Wakil Direktur (Wadir) Reskrimum Poldasu, AKBP Wawan Munawar mengaku belaum melakukan penahanan karena masih menunggu hasil penyidikan.”Masih tunggu progres sidik lebih lanjut,” ucapnya.

Sebelumnya, Subdit II Harda Tahbang Dit Reskrimum Poldasu menjemput paksa Denny dari kediamannya di Jl. Eka Warni, Medan Johor, Kamis (23/1) lalu. Penjemputan dilakukan karena Denny mangkir dari panggilan penyidik. Dalam kasus ini, Denny ditetapkan sebagai tersangka atas laporan Arkham Ray, yang menuding Denny telah melakukan penipuan, hingga korban rugi Rp 2 miliar lebih.

Informasi yang diperoleh  di Poldasu, kasus ini berawal dari jual beli rumah di Jl. Gajah Mada, Medan. Pada tahun 2012 lalu, Denny meminjam uang dari Akhram Ray Rp 2 miliar. Namun, saat pembayaran utang itu jatuh tempo, Denny tak sanggup untuk mengembalikanya. Denny menawarkan rumah yang diakuinya adalah miliknya di Jl. Gajah Mada seharga Rp 4 miliar. Saat akan melunasi pembayaran dan menempati rumah itu setelah dipotong pinjaman Denny, Arkham Ray dihalangi salah seorang kerabat Denny. Alasannya, rumah tersebut masih dalam sengketa dan sedang diproses di PN Medan.

Arkham Ray pun menuntut kembali uangnya yang dipakai oleh Denny dan mengurungkan niatnya untuk membeli rumah tersebut. Arkham pun melaporkan kasus itu ke Poldasu, Denny pun ditetapkan sebagai tersangka.

Sementara itu, Denny yang dihubungi kru koran ini mengatakan, masalah penipuan yang melibatkan namanya tersebut biar saja diputuskan di Pengadilan Negeri (PN) Medan. “Biar aja diputuskan di pengadilan. Itu ’kan tanah atas namaku, dan di pengadilan kemarin aku sudah menang. Sudah benar itu, biar saja pengadilan yang mutuskan,” ucapnya sembari mengatakan kalau dirinya sedang sibuk sebelum akhirnya mematikan handphone. (ind/deo)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *