Dokter Mata yang Mahir Akrobatik Udara

Nasional

Marsma (Purn) dr Norman T Lubis, Pilot Bravo AS 202 yang Jatuh di Bandung

Sangat mencintai dunia penerbangan. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan sosok Marsma (purn) dr Norman T Lubis, pilot pesawat Bravo AS 202 yang jatuh dalam tragedi Bandung Air Show (BAS) 2012 kemarin (29/9).


BAYU ANGGORO, Bandung

PESAWAT NAAS: Petugas memadamkan api pesawat aerobatik jenis Cessna 202  diterbangkan Marsma (Purn) dr Norman T Lubis,  terhempas, kemarin (29/9).//Timur MATAHARI/AFP PHOTO
PESAWAT NAAS: Petugas memadamkan api pesawat aerobatik jenis Cessna 202 yang diterbangkan Marsma (Purn) dr Norman T Lubis, yang terhempas, kemarin (29/9).//Timur MATAHARI/AFP PHOTO

Minat dan bakat Norman dalam mengemudikan pesawat mulai terpupuk ketika dia menjadi anggota TNI Angkatan Udara pada 1965. Meskipun bukan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri, kini Akmil), pria kelahiran Banda Aceh itu mengakhiri karir kemiliterannya dengan cemerlang. Terakhir, Norman berpangkat marsekal pertama TNI Angkatan Udara, sebelum akhirnya pensiun pada 1998.

Setelah pensiun, Norman tetap mengabdikan diri bagi negara dengan menjadi dokter spesialis mata di rumah sakit mata miliknya. Pria kelahiran 22 Oktober 1943 itu menamatkan pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada 1973. Keahlian di bidang kedokteran itulah yang mengantarkan Norman dipercaya mengisi berbagai jabatan di lingkungan Rumah Sakit TNI-AU.

Pada 1974 dia menjabat Kasibin Diskes Lanud Husein Sastranegara. Tiga tahun kemudian dia menjadi Kasi Bedah Umum Klinik Bedah RSAU dr Moh. Salamun Bandung. Singkat cerita, jabatan Norman di RSAU terus naik hingga menjadi Kadukkes Rumkit dr Moh. Salamun. Sebelumnya dia pernah menjadi kepala klinik mata di RS yang sama. Pada akhir karir militernya, Norman menjabat kepala dinas kesehatan TNI Angkatan Udara hingga pensiun pada 1998.

Dunia militer memang sudah mendarah daging pada diri Norman. Itu mewarisi jejak ayahnya yang perwira menengah TNI berpangkat kolonel. Karena itu, dedikasi militer Norman sudah tidak perlu diragukan. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya tanda jasa militer yang diraih. Mulai Satyalancana Penegak, Satyalancana Kesetiaan 8 tahun, Satyalancana Seroja, hingga Satyalancana Kesetiaan 18 tahun.
Selain aktif di kemiliteran, Norman aktif mengajar di kampus. Pada 1988 dia tercatat sebagai lektor luar biasa ilmu penyakit mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Dia juga menjadi lektor kepala luar biasa ilmu penyakit mata Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha sejak 1990.

Di masa-masa pensiunnya, perwira tinggi TNI-AU yang ikut terjun pada penumpasan Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) itu aktif di bidang kedokteran yang sudah lama ditekuninya. Norman tercatat sebagai pemilik salah satu rumah sakit mata di Kota Bandung.”Almarhum memang seorang prajurit sejati. Pengabdiannya pada negara tidak perlu diragukan lagi, baik di kemiliteran maupun di bidang kedokteran,” ujar Ning Tampubolon, 67, kakak ipar Norman, kepada Radar Bandung (Grup Sumut Pos) kemarin.

Pada akhir hayatnya, Norman meninggalkan istri tercinta, Tien N. Saddak, dan tiga orang putri. Mereka adalah Nasha Yohara Lubis, Nanda Anisa Lubis, dan Nindya Zanaria Lubis. Di mata keluarga, Norman digambarkan sebagai sosok yang keras, disiplin, tapi tetap ramah.

’’Memang, ketika akan melakukan atraksi demo di Bandung Air Show itu, almarhum tidak bilang kepada  keluarga. Sebab, kalau bilang, keluarga pasti tidak akan mengizinkan. Kami selalu khawatir karena beliau sudah tua,’’ ujar Ning Tampubolon.

’’Namun, lantaran kecintaannya kepada dunia penerbangan yang tak terbendung, diam-diam almarhum tetap terbang dalam atraksi itu,’’ tambah perempuan sepuh itu dengan ekspresi duka.
Meski begitu, keluarga mengikhlaskan kepergian Norman. Sebab, keluarga sudah mengetahui risiko seorang pilot. ’’Tidak ada firasat apa pun ketika Bapak pergi karena kami sudah biasa melihat Bapak terbang. Terbang merupakan kegemarannya yang tak bisa dicegah,’’ tutur Tien N. Saddak, sang istri.

Sonni Saddak, adik ipar Norman, menambahkan bahwa di usia almarhum yang sudah tidak muda lagi (64), keluarga sempat khawatir jika dia meneruskan hobinya terbang. Namun, karena dia seorang yang sangat terlatih di bidang itu, keluarga pun tak mampu membendungnya.

’’Memang, hobinya terbang. Kita tidak bisa melarang. Yang pasti, almarhum memang senang terbang. Beliau ahli berakrobat di udara,’’ tutur Sonni.

Saat terbang dalam atraksi di Bandung Air Show kemarin, Norman menggunakan pesawat latih milik FASI (Federasi Aero Sport Indonesia) Bandung. Dia sendiri memiliki pesawat pribadi yang biasa digunakan untuk berlatih.
Suasana di rumah duka Jalan Flores No 4, Kota Bandung, hingga tadi malam terus didatangi pelayat. Bendera kuning tanda dukacita serta karangan bunga dari kerabat dan relasi tampak berjejer di halaman rumah almarhum. Rencananya, jenazah Norman dimakamkan di Pemakaman Sirnaraga, Bandung, hari ini (30/9).

Sementara itu, kopilot Letkol (pur) Toni Hartono sebelum pensiun dari TNI Angkatan Udara dikenal sebagai pilot pesawat tempur. Belakangan dia menjadi instruktur di Bandung Pilot Academy (BPA) yang memberikan pendidikan kepada calon pilot.

’’Dia (Toni) sudah sangat berpengalaman. Pesawat tempur yang pernah diterbangkan Toni, antara lain, jenis Hawk 200, Skyhawk, dan MK 53,’’ ujar Direktur BPA Nasrun Natsir kemarin.
Nasrun mengatakan, tidak ada yang tahu bahwa Toni akan ikut dalam atraksi Bandung Air Show di Lanud Husein Sastranegara bersama Norman. ’’Kawan-kawan di BPA juga tidak ada yang dipamiti mau demo di BAS. Kami benar-benar kehilangan beliau,’’ tandasnya. (dilengkapi tri junari/bandung ekspres/jpnn/c10/c4/ari)

Berita terkait: Marsekal Lubis dan Rekannya Tewas

loading...

1 thought on “Dokter Mata yang Mahir Akrobatik Udara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *