Dua Bulan, Harta Effendi Naik Rp40,9 Miliar

Nasional

Kekayaan Gus Naik Rp18 Miliar dalam 4 Tahun

JAKARTA-Harta kekayaan calon Gubernur Sumatera Utara, Effendi Simbolon, meningkat cukup tajam. Dari hasil penelusuran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam dua bulan saja harta Effendi bertambah Rp40,9 miliar!

VERIFIKASI: Anggota KPK melakukan verifikasi harta kekayaan Gus Irawan  kediamannya perumahan Taman Setia Budi Indah Medan, Senin (28/1).//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
VERIFIKASI: Anggota KPK melakukan verifikasi harta kekayaan Gus Irawan di kediamannya perumahan Taman Setia Budi Indah Medan, Senin (28/1).//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS

Harta Effendi kini mencapai Rp57,7 miliar yang meliputi harta tidak bergerak berupa tanah, bangunan, dan harta bergerak berupa kendaraan bermotor dan logam mulia. Jumlah harta ini melonjak dari yang pernah ia laporkan ke KPK pada 20 November 2012 lalu. Ketika itu jumlah kekayaannya hanya berkisar Rp16,8 miliar. Dengan demikian terdapat selisih yang mencapai Rp40,9 miliar. Menariknya, menurut laman Vivanews, Effendi saat mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI pada 2004 lalu, harta Effendi hanya  Rp4,3 miliar.


Perbedaan diketahui setelah tim KPK melakukan klarifikasi ke kediaman yang bersangkutan di Bilangan Empang Tiga, Pejaten Timur, Jakarta, Senin (28/1). Tim yang berjumlah empat orang, diterima langsung oleh Effendi bersama sang istri Dessy Br.Tobing sekitar pukul 11.00 WIB. “Ada selisih perbedaan dari yang pernah kita laporkan karena nilainya tidak kita update terlebih dahulu. Perhitungan aset seperti tanah, yang kita laporkan sebelumnya, itu masih berdasarkan perhitungan di tahun 2006. Demikian juga dengan luas tanah yang di Tapanuli Utara, itu salah penulisan karena awalnya tertulis 7.000 meter persegi. Padahal sebenarnya 7 hektar,” ujar Effendi Simbolon.

Direktur Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK, Dedie A Rachmin yang memimpin tim klarifikasi, mengamini apa yang disampaikan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut. Menurutnya, kekeliruan mungkin saja terjadi dalam pelaporan. Karena itu guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, KPK melakukan klarifikasi secara langsung. “Kita sudah selesaikan langkah klarifikasi untuk Effendi yang akan maju menjadi salah seorang calon Gubernur Sumatera Utara. Untuk itu langkah yang sama juga akan kita lakukan terhadap calon-calon lain hingga akhir Januari ini. Saat ini tim lain juga melakukan klarifikasi terhadap salah seorang calon gubernur lainnya,” kata Dedie.

Pertambahan nilai aset harta Effendi, terbesar disumbang dari harga tanah dan rumah yang ditempatinya saat ini. Jika sebelumnya dilaporkan hanya bernilai Rp4,399 miliar berdasarkan perhitungan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tahun 2006. Setelah dihitung berdasarkan NJOP tahun 2013, tanah yang luasnya mencapai 1.500 meter persegi tersebut bernilai Rp44,123 miliar.

“Jadi dari satu tempat saja, selisihnya mencapai hampir Rp30 miliar. Nah itu juga masih ditambah piutang yang sebelumnya belum dimasukkan dalam Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN). Itu nilainya mencapai Rp5 miliar,” kata Effendi.

Punya 2 Perusahaan Perminyakan dan Gas Bumi

Pertambahan lain, tabungan yang nilainya Rp1,9 miliar dan 30,3 ribu Dollar AS bertambah menjadi Rp3,3 miliar ditambah 61 ribu Dollar AS. Proses klarifikasi berlangsung lebih dari 4 jam. Dalam melakukan klarifikasi, tim melakukan tahapan berupa wawancara baik terhadap Effendi maupun istri,  memeriksa bukti kepemilikan sertifikat tanah, surat-surat tanda kendaraan bermotor, bukti asuransi dan juga melakukan pengecekan ke beberapa bagian kediaman yang ada.
Dari langkah tersebut, Effendi diketahui memiliki beberapa kendaraan pribadi. Diantaranya satu unit Mobil Alphard, Mercy, Jeep Rubicon, Ford Everest, Hyundai, Feroza dan beberapa kendaraan lainnya. Sementara untuk tanah, selain yang terletak di Empang Tiga, Effendi juga diketahui memiliki sebidang tanah di Jalan Kahfi Jakarta dan beberapa lainnya di Tapanuli Utara, di antaranya di Silangit yang mencapai luas 7,2 hektar.

Dari penelusuran Sumut Pos, melalui biodata anggota DPR RI, selain mendapat gaji sebagai anggota DPR dengan jabatan wakil ketua Komisi VII yang membidangi sektor energi dan sumber daya mineral (minyak bumi, gas, dan kelistrikan), riset dan teknologi, serta lingkungan hidup, Effendi hingga saat ini memperoleh penghasilan dari dua perusahaan. Perusahaan yang dimaksud yakni PT SAS International dan PT Triparaya Primanusa. Kedua perusahaan ini bergerak di sektor energi yakni perminyakan dan gas bumi. Di PT Triparaya Primanusa, Effendi sebagai direktur utama.Sementara di PT SAS International, Cagubsu kelahiran Banjarmasin itu sebagai komisaris.

Dari website resmi PT SAS Internasional di www.sasinternational.com, dituliskan pekerjaan utama perusahaan ini adalah membantu menyuplai kebutuhan minyak bumi dan industri gas untuk perusahaan lokal atau asing di Indonesia.
PT SAS International juga menyediakan jasa teknis dan operasional untuk klien mereka di bidang migas. Proyek utama lainnya adalah penyediaan peralatan dan perbantuan pengeboran sumber migas, teknologi filtrasi, sistem pengukuran tambang, penyediaan genset turbin gas, dan proyek lainnya yang berhubungan dengan perminyakan.

Perusahaan lainnya yakni PT Tripaya Primanusa adalah perusahaan yang juga bergerak di bidang jasa perminyakan dengan pekerjaan khusus di bidang hydroblasting, pencucian tanki minyak (tank cleaning) dan pengecatan kapal tanker (painting ships). dari website resminya di www.tripaya.com, perusahaan yang bermarkas di Jakarta Pusat ini didirikan pada 2010 lalu.

Harta Gus Rp34,9 Miliar

Sementara itu, Senin (28/1) sekira pukul 08.40 WIB, Toyota Kijang Innova abu-abu BK 1790 KO tiba di kediaman Cagubsu nomor urut 1 Gus Irawan Pasaribu di Jalan Cassia Raya Komplek Tasbi No LL-27, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Medan. Selanjutnya, tiga orang petugas KPK yang mengenakan batik memasuki rumah mewah itu. Kemudian, sekira pukul 09.30 WIB, dua petugas KPU (Komisi Pemilihan Umum) Sumut juga memasuki rumah Gus Irawan.
Petugas KPK terlihat membawa sejumlah berkas, laptop dan printer. Gus Irawan yang juga mantan Dirut PT Bank Sumut Periode 2000-2004, 2004-2008, dan 2008-2012 ini pun langsung menerima kedatangan mereka. Dalam kunjungan itu, petugas juga menyatakan akan mempertanyakan harta yang terdaftar atas nama Gus Irawan serta asal-usulnya. “Nanti kami akan beri keterangan setelah klarifikasi selesai,” kata Group Head Pemeriksaan Direktorat LHKPN KPK Adlinsyah Nasution yang memimpin tim ke rumah Gus Irawan.

Pemeriksaan berlangsung selama tiga jam dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Menariknya, dari hasil klarifikasi KPK itu, ternyata, harta kekayaan adik politikus Bomer Pasaribu ini berlipat dalam kurun waktu 4 tahun. Berdasarkan laporannya, harta Gus Irawan naik sekitar Rp18,3 miliar dari Rp13,4 miliar pada 2008 menjadi Rp31,7 miliar pada akhir 2012. Angka terakhir kemudian dikoreksi KPK menjadi Rp34,9 miliar karena ternyata ada sekitar Rp3 miliar yang belum dilaporkannya.

Adlinsyah memberikan gambaran umum koreksi terbesar terjadi karena kealpaan Gus Irawan mendaftarkan surat berharga berupa saham dengan nilai sekitar Rp2 miliar. Selain tu, terdapat pula perabot rumah tangga dan kendaraan yang belum didaftarkan. “Detailnya silakan tanya Pak Gus (Irawan Pasaribu),” kata Adlinsyah Nasution, usai klarifikasi.

Sementara itu, Gus Irawan saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, mengaku ada penambahan aset dalam beberapa tahun terakhir. Namun, jumlahnya tidak signifikan. “Memang harta saya berlipat jika dibandingkan laporan saya pada 2008. Tapi, peningkatan signifikan itu lebih disebabkan meningkatnya NJOP aset,” kata Gus Irawan kepada wartawan seusai klarifikasi KPK di Medan.

Mengenai asal-usulnya, Gus Irawan yang berpasangan dengan Soekirman, Wakil Bupati Serdang Bedagai itu menyatakan kekayaannya diperoleh dari bekerja dan berusaha. “Orangtua kami bukan orang berada, jadi harta ini kami peroleh dari bekerja. Kalau terpilih nanti (jadi Gubernur Sumut), nggak bertambah signifikantlah. Gaji waktu jadi Dirut kan lebih besar,” ucapnya.

Gus Irawan mengaku lupa mendaftarkan saham karena sudah lama tidak aktif dalam investasi. Bahkan, saham itu juga alpa dilaporkan pada laporan harta kekayaan yang diserahkannya ke KPK pada 2008. Selain itu, ada kendaraan bekas yang dibelinya dan masih menggunakan nama orang lain. “Ada kekurangtelitian karena ternyata peralatan rumah tangga, peralatan elektronik, bahkan handphone pun harus dilaporkan. Tapi sekarang seluruh harta saya sudah masuk dalam laporan,” sebut Gus Irawan. (gir/far)

Harta Effendi Simbolon

[table delimiter=”:” trim=”1″ th=”1″]

20 November 2012[attr colspan=”2″]
Total Kekayaan:Rp16,8 miliar
Tabungan:Rp1,9 miliar dan 30,3 ribu Dollar AS (sekitar Rp287,8 juta)
Rumah dan tanah di Bilangan Empang Tiga, Pejaten Timur, Jakarta, seluas 1.500 meter persegi: Rp14,399 miliar

[/table]

[table delimiter=”:” trim=”1″ th=”1″]

28 Januari 2013[attr colspan=”2″]
Total Kekayaan:Rp57,7 miliar
Tabungan:Rp3,3 miliar dan 61 ribu Dollar AS (sekitar Rp579,5 juta)
Rumah dan tanah di Bilangan Empang Tiga, Pejaten Timur, Jakarta, seluas 1.500 meter persegi: Rp44,123 miliar.
Piutang:Rp5 miliar

[/table]

[table caption=”Harta Lainnya” terminator=”/” delimiter=”|” th=”1″]

Mobil|Tanah (selain di Empang Tiga)/

Satu unit Alphard
Satu unit Mercy
Satu unit Jeep Rubicon
Satu unit Ford Everest
Satu unit Hyundai
Satu unit Feroza
dan beberapa kendaraan lainnya.

|

Sebidang tanah di Jalan Kahfi Jakarta
Beberapa lainnya di Tapanuli Utara, di antaranya di Silangit yang mencapai luas 7,2 hektar.

/

[/table]

[table caption=”Sumber Penghasilan (Selain Gaji sebagai Anggota Legislatif)” ai=”1″]
Dirut PT Triparaya Primanusa
Komisaris PT SAS International

[/table]

Sumber: KPK

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *