Site icon SumutPos

Inalum Siap Ambilalih Saham Freeport

Ketua Komisi VII DPR-RI, Gus Irawan Pasaribu.

MEDAN, SUMUTPOS.CO -Ketua Komisi VII DPR-RI yang membidangi energi dan lingkungan hidup Gus Irawan Pasaribu mengungkapkan, Inalum sepenuhnya siap mengambilalih saham PT Freeport Indonesia yang akan dilepas sebesar 51 persen.

Penegasan itu disampaikan Gus Irawan Pasaribu kepada wartawan usai memberikan kuliah umum di STIE Bina Karya Tebing Tinggi, kemarin. Kuliah umum dihadiri ratusan mahasiswa, pihak rektorat dan dosen dengan thema membangun generasi technopreneur yang berjiwa inovatif dan tangguh.

“Pada prinsipnya saya dan rombongan komisi VII sudah berkunjung ke Inalum baru-baru ini. Saya datang membawa seluruh jajaran Komisi VII DPR-RI untuk menanyakan langsung kepada Inalum, apakah mereka sanggup mengelola Freeport sekaligus mengambilalih saham 51 persen. Jawabannya siap,” kata Gus Irawan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pada Minggu (27/8) lalu, tim perundingan pemerintah dan PT Freeport Indonesia melakukan pertemuan. Perundingan dilakukan untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi setelah diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 tahun 2017.

Dalam pertemuan tersebut, dari pihak pemerintah hadir Menteri ESDM Ignasius Jonan selaku Ketua Tim Perundingan Pemerintah dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, serta wakil dari Kementeriaan Koordinator Perekonomian, Kemenko Kemaritiman, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian LHK, Kementerian BUMN, Sekretariat Negara, dan BKPM.

Sementara itu, dari pihak Freeport hadir President dan CEO Freeport McMoran Richard Adkerson dan direksi PT Freeport Indonesia.Salah satu kesepakatan dalam pertemuan tersebut adalah terkait kepemilikan saham raksasa tambang tersebut. Kedua belah pihak menyepakati divestasi saham PT Freeport Indonesia sebesar 51 persen untuk kepemilikan Indonesia.

Gus yang juga Wakil Ketua Fraksi Gerindra di DPR-RI mengaku miris jika selama ini kekayaan alam Indonesia 85 persen dikuasai asing. “Kita tak mampu menguasai kekayaan alam kita 25 persen saja. Karena ternyata asing sangat dominan dalam penguasaan sumber daya alam,” tuturnya.

Bahkan dia mencontohkan Inalum saja pun dulu dikelola Jepang selama 30 tahun. “Baru tahun 2013 kontrak perusahaan itu selesai dari Jepang dan kembali ke Indonesia,” kata dia.

Gus menyatakan pengambilalihan Inalum oleh pemerintah merupakan salah satu contoh terbaik pengambilan kembali salah satu aset nasional.“Sebab selama 30 tahun mereka kuasai, setidaknya selama 26 tahun dikelola Jepang, perusahaan selalu rugi. Itu sebabnya kami datang ke Inalum menanyakan langsung apakah memang mereka siap mengambilalih saham Freeport. Syukurnya kita dapat kepastian dan sampai sekarang tidak ada keraguan tentang itu,” ujarnya.

Gus Irawan Pasaribu yang juga Ketua DPD Gerindra Sumut menyatakan, walaupun selama ini dikelola oleh Jepang dengan potensi rugi, namun setidaknya pemerintah bisa menerapkan tata kelola yang baik sehingga keluar dari rugi berkepanjangan.

“Sejak Jepang ada di Kualatanjung, Inalum selalu mengaku rugi. Bahkan kabar tentang kerugian sudah lama kita dengar. Waktu saya dulu di Bank Sumut pun sudah seringkali digaungkan tentang kerugian perusahaan. Bahkan pemerintah pusat awalnya ragu-ragu untuk mengambilalih atau memperpanjang kontraknya. Tapi kita orang Sumut terus mendesak pemerintah agar mengambilalih. Dengan harapan Inalum bisa menjadi salah satu perusahaan pionir produksi alumunium yang secara perlahan meningkatkan keuntungan,” jelasnya.

Dia meminta agar pemerintah dan masyarakat tidak putus harapan terhadap pengelolaan perusahaan-perusahaan vital yang selama ini dikuasai asing. “Saatnya Indonesia berdaulat menentukan sendiri perusahaan yang mengeruk kekayaan alam Indonesia dikembalikan ke pemerintah. Jangan mau lagi dijajah,” tegas Gus. (ila/ram)

 

Exit mobile version