Fabio Lopez Ungkap Kekecewaan

Ayam Kinantan

Tersisihnya PSMS dari Piala Indonesia 2012 membuat kubu PSMS lesu. Namun hilangnya gairah bukan hanya menyoal ketidakmampuan untuk menjaga kiprah di Piala Indonesia.

Beragam problem bercampur baur menjadi satu membuat skuad besutan Fabio Lopez ini dilanda keresahan tinggi. Berkecamuk dan mengganggu konsentrasi para pemain untuk bertarung di lapangan. Faktor non teknis berupa persoalan finansial klub yang merembet pada tersendatnya hak pemain selama tiga bulan membuat para pemain meradang.


Keresahan itu memang cukup kentara. Aksi para pemain di lapangan menjawab hal itu. Contohnya kejadian di menit 78 babak kedua. Julio Lopez yang gagal menyarangkan gol ke gawang Semen Padang terlihat frustasi. Cemoohan dari penonton yang kecewa melihat aksi striker Argentina itu justru dibalasnya dengan emosional. Striker jangkung itu berjalan ke pinggir lapangan dan membalas ejekan penonton dengan wajah yang sedemikian marah.
Lantas apa kata Pelatih PSMS, Fabio Lopez? Pelatih asal Italia itu pun tak tahan untuk mengungkapkan keresahan dirinya dan timnya. Selama ini ia memang memilih bungkam.

“Bagi saya dia sudah berusaha bermain baik. Saya pikir apa yang diperbuat Julio salah jika kondisinya tidak seperti ini. Tim ini lebih sering stress belakangan ini. Banyak masalah yang menghinggapi. Tidak benar juga jika fans menyalahkan pemain kami bukanmalah mendukung kondisi kami yang penuh masalah ini,” terang Fabio.

Faktor non teknis itu disebut Fabio mempengaruhi kondisi skuadnya. Apalagi dirinya tidak bisa menerapkan latihan dengan maksimal karena kondisi klub yang sangat pelik keuangannya ini. “Fans mungkin tidak tahu belakangan ini kami bahkan hanya bisa latihan dengan 10 bola. Itu tidak normal. Seharusnya setiap pemain menggunakan masing-masing satu bola untuk latihan. Bahkan ada pemain kami yang malah tidak punya kaus kaki. Itu hanya beberapa dari sekian banyak masalah yang ada di tim ini,” katanya.

Yang membuat Fabio kecewa, manajemen yang bertanggung jawab atas hal ini terkesan acuh tak acuh.
“Seperti saat ini. Di dressing room pasca babak pertama mental anak-anak sudah jatuh. Mereka hanya tertunduk. Tapi tidak ada dari manajemen yang berusaha datang untuk menjelaskan kondisi yang ada saat ini. Saya tidak bisa sendirian untuk membangkitkan mental tim ini. Saya bukan tuhan yang bisa memimpin tim ini sendirian. Belakangan saya juga tidak didampingi asisten pelatih karena harus memimpin timnas junior ke Jepang,” pungkasnya. (mag-18)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *