Geng Motor tak Berdiri Sendiri

Metropolis

Eksistensi geng motor telah begitu meresahkan akhir-akhir ini, karena sudah mengancam keselamatan jiwa orang yang tidak tahu apa-apa. Bahkan, belakangan mereka secara brutal merusak pos polisi, menggasak barang dan menyerang orang.

Berikut petikan wawancara wartawan Harian Sumut Pos Ari Sisworo dengan Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Farid Wajdi.


Apa sebenarnya geng motor menurut Anda?
Geng motor itu merupakan kumpulan anak-anak muda yang kebanyakan remaja tanggung. Secara individu setiap anggota geng motor ini adalah anak yang polos dan terlihat biasa-biasa saja. Sehari-hari mereka adalah pelajar yang tidak terlihat nakal, apalagi brutal. Namun jika sudah berkumpul dalam kelompoknya, perilaku mereka dipengaruhi ideologi kelompok. Musuh mereka adalah geng motor yang lain.

Siapa yang menjadi sasaran dari geng motor itu?
Sasaran mereka dalam berhuru-hara malam adalah mencari anggota geng motor lainnya, namun karena tidak bertemu, masyarakatlah yang jadi sasarannya.

Apa yang melandasi banyaknya remaja ikut terjun menjadi anggota geng motor?
Mengurai masalah geng motor harus dimulai dari orangtua. Orangtua mungkin tidak mengawasi anak-anaknya, anaknya bergaul dengan siapa saja, ikut siapa saja, keluar kemana saja. Orangtua mereka (yang rata-rata dari golongan ekonomi menengah ke bawah) habis waktunya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Apakah pada kenyataannya, geng motor ini menjadi pilihan para remaja?
Ya, geng motor saat ini seolah telah menjadi pilihan yang menarik, karena hobi konvoi dengan motor tersalurkan. Apalagi, sepeda motor sangat mudah diperoleh saat ini dengan cicilan yang ringan. Rata-rata orangtua mereka memiliki sepeda motor, dan dengan itu mereka menyalurkan aksinya untuk berkonvoi keliling kota.

Perlu digali lebih dalam, apakah mereka itu adalah korban dari kesalahan didik orangtua, kurang kontrol orangtua terhadap pergaulan anak, himpitan ekonomi, kontrol pemerintah yang memble, lapangan kerja yang makin sulit, kepentingan sejumlah oknum penegak hukum, dan mudahnya akses mendapatkan narkoba atau minuman keras. Begitu pula menyangkut dampak berita kekerasan, korupsi, gonjang ganjing politik, sangat mungkin memberi kontribusi signifikan dalam memengaruhi psikologi anak-anak.

Apakah ada potensi lain atas maraknya geng motor tersebut?
Potensi lain, makin sempitnya ruang terbuka untuk bermain telah mematikan kreativitas anak-anak muda. Taman bermain anak makin langka, ruang kosong makin sempit, dan lain-lainnya. Kalaupun tersedia arena permainan modern, masih sulit diakses warga secara komprehensif. Semua masalah itu tentu bakal memengaruhi perilaku dan persepsi anak.

Semua faktor itu sangat mudah mempengaruhi stabilitas jiwa anak muda yang sedang bingung akan jati dirinya. Menyelesaikan masalah geng motor tidak dapat berdiri sendiri. Geng motor adalah fenomena sosial perkotaan dan merupakan dampak ketimpangan pembangunan.

Karena itu, pendekatan hukum pidana belaka takkan pernah menuntaskan soal geng motor. Coba mengurai geng motor atas dasar hanya pendekatan represif justru akan membuat penegak hukum lelah sendiri. Tindakan hukum pidana adalah langkah terakhir (ultimum remedium), sehingga perlu langkah bersama untuk menyelesaikan masalah geng motor ini.

Apa solusi untuk mengatasi itu?
Kebijakan pembangunan agar lebih ramah anak juga bagian dari solusi masalah sosial itu. Kesadaran bersama melalui pelibatan orang tua, tokoh agama, psikolog, sekolah-guru, merupakan pendekatan preventif-persuasif, dan itu jauh lebih efektif. Karena itu, sepanjang masalah sosial lain belum teratasi, maka persoalan geng motor akan tetap menjadi masalah serius.(*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *